Dari Indonesia ke Singapura: Pengalaman Exchange Semester@NIE Mahasiswa Universitas Sebelas Maret di NIE/NTU Singapore

- Redaksi

Rabu, 13 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret NIE/NTU 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Potret NIE/NTU 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Singapura, Sorotnesia.com – Langit Singapura pagi itu tampak cerah ketika Azizah Quratul Aini melangkahkan kaki menuju kawasan kampus National Institute of Education (NIE), institusi pendidikan guru bergengsi di bawah naungan Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

Di tengah lalu-lalang mahasiswa internasional dan suasana akademik yang disiplin, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) itu perlahan menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam ruang belajar yang selama ini hanya ia bayangkan dari layar laptop dan cerita para alumni program pertukaran pelajar.

Satu semester mungkin terdengar singkat. Namun bagi Azizah, waktu tersebut cukup untuk membuka cara pandangnya tentang pendidikan, budaya akademik, hingga bagaimana dunia mempersiapkan calon guru masa depan.

Keberangkatannya ke Singapura bukan keputusan yang lahir secara tiba-tiba. Mimpi untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa internasional telah ia simpan sejak semester tiga. Ketertarikannya pada sistem pendidikan modern dan keinginannya memperdalam bidang kimia pendidikan mendorongnya mencari peluang belajar di luar negeri. Kesempatan itu akhirnya datang melalui program Semester@NIE.

Program tersebut merupakan inisiatif dari NIE yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai universitas di dunia untuk belajar selama satu semester di Singapura. Menariknya, program ini tidak mensyaratkan adanya kerja sama formal antara kampus asal dengan NIE. Kebijakan tersebut menjadi peluang besar bagi mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk merasakan pengalaman belajar di salah satu institusi pendidikan terbaik di Asia.

Melalui program itu, mahasiswa tidak hanya mempelajari materi akademik, tetapi juga diajak memahami bagaimana Singapura menyiapkan tenaga pendidik profesional dengan pendekatan yang modern dan terintegrasi. Gelar kesarjanaan tetap diberikan oleh universitas asal masing-masing, tetapi pengalaman belajar di NIE menjadi nilai tambah yang memperluas wawasan akademik sekaligus pengalaman internasional mahasiswa.

Bagi FKIP UNS, program seperti Semester@NIE sejalan dengan visi untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif secara global. Kehadiran Azizah di NIE menjadi bukti bahwa mahasiswa FKIP UNS mampu bersaing dan beradaptasi di lingkungan akademik internasional.

Interview dengan pihak NIE/NTU Singapore 2025. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Interview dengan pihak NIE/NTU Singapore 2025. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Namun perjalanan menuju Singapura tidak dilalui dengan mudah. Azizah harus melewati proses seleksi yang panjang dan kompetitif. Tahapan awal dimulai dari seleksi internal di tingkat universitas melalui international Office Universitas Sebelas Maret (UNS). Setelah itu, peserta yang lolos kembali diseleksi secara ketat oleh pihak NIE Singapura.

Baca Juga :  Manfaat Kunyit untuk Menurunkan Asam Lambung

Dari banyaknya pendaftar, hanya sedikit mahasiswa yang berhasil diterima. Kesempatan itu semakin istimewa karena NIE menyediakan skema pendanaan berupa NIE ASEAN Undergraduate Scholarships (Semester) dengan kuota maksimal lima mahasiswa setiap tahun untuk masing-masing negara ASEAN. Melalui beasiswa tersebut, penerima memperoleh pembiayaan penuh untuk biaya semester sekaligus tunjangan hidup selama berada di Singapura.

Selain skema tersebut, terdapat pula CJ KOH Scholarship yang dapat dimanfaatkan peserta Semester@NIE sebagai alternatif pendanaan. Dukungan finansial ini membuat mahasiswa dapat lebih fokus menjalani proses akademik dan beradaptasi dengan kehidupan internasional tanpa dibebani persoalan biaya.

Selama mengikuti program Semester@NIE, mahasiswa diperbolehkan mengambil maksimal enam mata kuliah yang linear dengan program studi di kampus asal. Di NIE, pilihan bidang keilmuan sangat luas karena setiap disiplin ilmu berada di bawah departemen yang terstruktur dan terintegrasi.

Untuk bidang sains dan pendidikan sains, misalnya, terdapat The Natural Sciences and Science Education (NSSE) Department. Departemen ini menggabungkan pendekatan ilmu sains dengan pedagogi dalam sistem pembelajaran multidisipliner. Tidak ada sekat yang kaku antara ilmu murni dan pendidikan. Semua dirancang agar calon guru mampu memahami materi sekaligus metode pengajarannya secara menyeluruh.

NSSE mencakup berbagai bidang, mulai dari Biologi, Kimia, Fisika, Pendidikan Sains, Pendidikan Desain dan Teknologi, Pendidikan Komputasi, hingga Pendidikan Ilmu Pangan dan Konsumen. Sementara itu, bidang humaniora dan ilmu sosial berada di bawah The Humanities and Social Studies Education (HSSE) Department yang berfokus pada pengembangan calon guru untuk mata pelajaran Studi Sosial, Geografi, Sejarah, Ekonomi, hingga Akuntansi.

Bagi Azizah yang berasal dari latar belakang Pendidikan Kimia, lingkungan akademik di NSSE memberikan pengalaman yang sangat relevan. Ia tidak hanya memperdalam materi kimia, tetapi juga mempelajari bagaimana ilmu tersebut diajarkan dengan pendekatan yang kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di ruang-ruang kelas NIE, diskusi berlangsung dinamis. Mahasiswa didorong aktif menyampaikan pendapat, menganalisis persoalan pendidikan, serta mencari solusi berbasis kolaborasi. Pola pembelajaran semacam itu memberi pengalaman baru bagi Azizah tentang bagaimana pendidikan dapat dibangun secara lebih terbuka dan partisipatif.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN UNS Dorong Generasi Muda Desa Tegalweru Kenali Ekonomi Kreatif
Potret Mahasiswa Exchange Semester@NIE 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Potret Mahasiswa Exchange Semester@NIE 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Tidak hanya belajar dari dosen, Azizah juga memperoleh banyak pelajaran dari interaksi dengan mahasiswa internasional. Dalam batch yang ia ikuti, peserta Semester@NIE berasal dari berbagai negara seperti Vietnam, Thailand, Hong Kong, Mainland China, Jerman, hingga Chicago, Amerika Serikat.

Keberagaman latar belakang tersebut membuat setiap percakapan terasa kaya perspektif. Di sela perkuliahan, diskusi tentang pendidikan sering berlanjut hingga di luar kelas. Dari sanalah Azizah mulai memahami bahwa setiap negara memiliki pendekatan berbeda dalam membangun sistem pendidikan dan membentuk karakter peserta didik.

Ia melihat bagaimana budaya akademik yang disiplin berpadu dengan kebebasan berpikir yang tetap terarah. Mahasiswa terbiasa menyampaikan gagasan secara kritis, tetapi tetap menghargai pandangan orang lain. Lingkungan itu perlahan membentuk keberanian sekaligus rasa percaya diri dalam dirinya.

Pengalaman satu semester di Singapura akhirnya menjadi lebih dari sekadar program pertukaran pelajar. Bagi Azizah, perjalanan tersebut merupakan ruang pembelajaran tentang kehidupan, keberagaman budaya, dan pentingnya keterbukaan dalam dunia pendidikan.

Keberhasilannya mengikuti Semester@NIE juga menjadi cerminan komitmen FKIP UNS dalam mendorong mahasiswa memiliki pengalaman internasional. Sejalan dengan visi UNS sebagai universitas berkelas dunia (world-class university), pengalaman seperti ini diharapkan mampu melahirkan calon pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan global.

Di tengah upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia, kisah Azizah menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Ia pulang membawa lebih dari sekadar nilai akademik. Ada jaringan pertemanan lintas negara, cara pandang baru tentang pendidikan, serta inspirasi untuk menghadirkan proses belajar yang lebih dinamis di tanah air.

Bagi Azizah, satu semester di Singapura telah mengubah cara pandangnya terhadap dunia pendidikan. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi dorongan bagi lebih banyak mahasiswa Indonesia, khususnya calon guru, untuk berani keluar dari zona nyaman dan membuka diri terhadap pengalaman global.

Sebab pada akhirnya, pertukaran mahasiswa bukan hanya tentang berpindah tempat belajar, melainkan tentang memahami dunia dengan cara yang lebih luas dan manusiawi.

Penulis : Wira Pratama

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kolaborasi UPITRA dan RS Mata Solo Dorong Integrasi Sistem Lewat Pelatihan API
Cegah Sejarah Desa Luntur, Mahasiswa KKN UNS Luncurkan Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah”
Tingkatkan Taraf Pendidikan di Lingkup Anak-Anak Sekolah Dasar, Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Pelatihan dan Kompetisi Bahasa Inggris untuk Siswa SD di Desa Sanggrahan
Prabowo Awali Kunjungan ke Jepang, Fokus Perkuat Kerja Sama Teknologi dan Investasi
KIPSMARTS UNS: Upaya Nyata Mahasiswa untuk Mendukung SDGs 1 dan 4 melalui Penyebaran Informasi Beasiswa KIP Kuliah
Mahasiswa KKN UNS 112 Gelar Pelatihan AutoCAD untuk Perkuat Perencanaan Infrastruktur Desa Binade
Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Lomba Fun Game Bola Voli Antar Dusun di Desa Sanggrahan
KKN 100 UNS Sosialisasikan Pelestarian Nilai Unggah-Ungguh Jawa di Desa Sanggrahan Pacitan

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:44 WIB

Dari Indonesia ke Singapura: Pengalaman Exchange Semester@NIE Mahasiswa Universitas Sebelas Maret di NIE/NTU Singapore

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:02 WIB

Kolaborasi UPITRA dan RS Mata Solo Dorong Integrasi Sistem Lewat Pelatihan API

Jumat, 24 April 2026 - 16:52 WIB

Cegah Sejarah Desa Luntur, Mahasiswa KKN UNS Luncurkan Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah”

Kamis, 23 April 2026 - 18:06 WIB

Tingkatkan Taraf Pendidikan di Lingkup Anak-Anak Sekolah Dasar, Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Pelatihan dan Kompetisi Bahasa Inggris untuk Siswa SD di Desa Sanggrahan

Minggu, 29 Maret 2026 - 21:32 WIB

Prabowo Awali Kunjungan ke Jepang, Fokus Perkuat Kerja Sama Teknologi dan Investasi

Berita Terbaru