Ngawi, Sorotnesia.com – Kelompok 97 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta periode Januari–Februari 2026 meluncurkan buku berjudul “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah” di Kantor Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jumat (13/1/2026). Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah desa sekaligus digitalisasi kearifan lokal yang selama ini belum terdokumentasi secara sistematis.
Program kerja bertajuk “Dokumentasi dan Digitalisasi Kearifan Lokal” ini digagas oleh penanggung jawab kegiatan, Faizatul Irbah, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Gagasan tersebut muncul dari kesulitan tim dalam menemukan dokumen resmi terkait sejarah dan profil Desa Geneng saat melakukan riset awal.
Menurut Irbah, keterbatasan arsip tertulis berpotensi menyebabkan hilangnya pengetahuan lokal.
“Tidak banyak dokumen yang memuat sejarah dan profil desa, baik dari aspek sosial, budaya, maupun ekonomi. Jika tidak didokumentasikan, kearifan lokal hanya akan tersisa dalam ingatan para sesepuh yang jumlahnya semakin berkurang,” ujarnya.
Dalam proses penyusunan, mahasiswa melakukan penggalian data melalui studi pustaka, wawancara mendalam, serta observasi langsung ke sejumlah titik bersejarah. Narasumber yang dilibatkan antara lain kepala dusun, tokoh masyarakat, pemuka agama, hingga pensiunan guru.

Hasilnya, buku tersebut memuat berbagai informasi tentang kearifan lokal Desa Geneng, baik yang berwujud (tangible) maupun tak berwujud (intangible). Kearifan lokal berwujud yang diangkat antara lain Punden Mbah Margo Salam dan Cungkup Mbah Iro Truno. Sementara itu, kearifan tak benda meliputi kisah babat alas, tradisi bersih desa, hingga asal-usul sembilan dusun di wilayah tersebut.
Meski berbasis fakta sejarah dan nilai budaya, buku ini disajikan dalam bentuk narasi fiksi kreatif. Pendekatan ini dipilih agar lebih mudah dipahami dan menarik minat baca generasi muda tanpa menghilangkan substansi informasi.
Selain penerbitan buku fisik, tim KKN juga memanfaatkan teknologi dalam proses dokumentasi. Penggunaan perangkat perekam seperti clip-on microphone membantu menjaga keakuratan data wawancara, sementara sistem QRCBN diterapkan untuk meningkatkan aksesibilitas informasi secara digital.
Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah” kini telah didistribusikan ke sejumlah instansi strategis. Di antaranya Kantor Desa Geneng, Kantor Kecamatan Geneng, Kantor Bupati Ngawi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ngawi, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ngawi.

Untuk menjangkau kalangan pelajar, buku tersebut juga diserahkan ke perpustakaan SD Negeri 2 Geneng dan TPQ Masjid Al-Furqon di Dusun Alas Pecah.
Kepala Desa Geneng menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai keberadaan buku ini dapat menjadi rujukan penting bagi masyarakat dan pemerintah desa.
“Sebelumnya memang pernah ada dokumen profil desa, tetapi belum terstruktur dan rawan hilang. Adanya buku fisik ini sangat membantu masyarakat untuk mengenali dan melestarikan sejarah desa,” ujarnya.

Ke depan, keberadaan buku ini diharapkan tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga menjadi jembatan literasi bagi masyarakat luas. Selain itu, dokumen ini dinilai dapat memudahkan peneliti yang ingin mengkaji lebih dalam mengenai sejarah dan budaya Desa Geneng.
Upaya yang dilakukan mahasiswa KKN UNS ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat berperan penting dalam menjaga identitas lokal. Di tengah arus modernisasi, dokumentasi yang sistematis menjadi kunci agar sejarah desa tidak hilang ditelan zaman.
Penulis : Tim KKN 97 UNS
Editor : Anisa Putri









