Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global

- Redaksi

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumentasi Diskusi Pancasila

Dokumentasi Diskusi Pancasila "Suluh Pancasila Bung Karno: Berdaulat, Berdikari, Berkepribadian". Foto: Yanuaris Chiquita Dewi

Malang, Sorotnesia.com – UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) kembali menggelar Diskusi Pancasila keempat melalui bedah buku berjudul “Suluh Pancasila Bung Karno: Berdaulat, Berdikari, Berkepribadian”. Kegiatan yang dilaksanakan pada (19/5/2026) tersebut menjadi ruang refleksi akademik untuk menelaah kembali pemikiran Bung Karno mengenai konsep Trisakti di tengah tantangan global dan perkembangan zaman modern.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus UM itu menghadirkan penulis buku, Angga Sukmara C. Permadi, S.Ip., M.IP., dosen Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Hadir pula Zulfikar Waliyuddin Fattah, M.Pd., dosen Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, sebagai pembedah buku. Diskusi dipandu moderator Asyrofi dari Universitas Negeri Malang.

Forum tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan akademik. Melalui diskusi ini, peserta diajak memahami kembali gagasan Trisakti yang dicetuskan Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dalam pemaparannya, Angga Sukmara menegaskan bahwa konsep Trisakti tidak hanya relevan pada masa perjuangan kemerdekaan, tetapi juga masih memiliki makna penting dalam kehidupan bangsa saat ini.

“Konsep Trisakti bukan sekadar gagasan politik pada masa perjuangan kemerdekaan, tetapi juga memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat saat ini,” ujar Angga dalam diskusi tersebut.

Menurut dia, perkembangan teknologi, arus globalisasi, dan perubahan sosial yang berlangsung cepat perlu diimbangi dengan penguatan identitas dan karakter bangsa. Karena itu, nilai-nilai Pancasila dinilai tetap penting sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Angga menjelaskan, konsep berdaulat dalam politik dapat dimaknai sebagai kemampuan bangsa menentukan arah kebijakan secara mandiri tanpa kehilangan kepentingan nasional. Sementara itu, konsep berdikari dalam ekonomi dianggap penting di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.

Baca Juga :  Dorong Konservasi dan Ekonomi Warga, Mahasiswa KKN UNS Tanam Puluhan Bibit MPTS di Desa Gunungsari

Adapun prinsip berkepribadian dalam kebudayaan, lanjut dia, menjadi dasar penting untuk menjaga karakter bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya asing yang masuk melalui berbagai medium, termasuk teknologi digital.

“Nilai-nilai Pancasila tetap penting sebagai landasan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Angga.

Ia juga menyoroti peran generasi muda dalam menjaga nilai kebangsaan di tengah perkembangan era digital. Pemahaman terhadap Pancasila dan gagasan Trisakti dinilai dapat menjadi pijakan dalam menghadapi berbagai perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Selain membahas konsep Trisakti, diskusi tersebut turut mengulas sejarah lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Peserta diajak menelusuri proses panjang perumusan Pancasila, mulai dari masa perenungan Bung Karno di Ende hingga pidato 1 Juni 1945 yang menjadi tonggak penting lahirnya dasar negara Indonesia.

Pemateri menjelaskan bahwa Pancasila lahir melalui proses historis yang dipengaruhi kondisi sosial, budaya, serta perjuangan bangsa Indonesia pada masa itu. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap sejarah lahirnya Pancasila dinilai penting agar masyarakat dapat memahami makna dasar negara secara lebih mendalam.

Dalam sesi pembedahan buku, Zulfikar Waliyuddin Fattah menyoroti pentingnya memahami Pancasila tidak hanya sebagai simbol negara, melainkan juga sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

“Pemahaman terhadap sejarah dan nilai-nilai Pancasila perlu terus diperkuat, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Zulfikar.

Menurut dia, tantangan global saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi, tetapi juga menyangkut perubahan pola pikir dan budaya masyarakat. Karena itu, diskusi mengenai Pancasila dianggap penting untuk membangun kesadaran kebangsaan sekaligus memperkuat identitas nasional.

Zulfikar menilai ruang-ruang akademik seperti diskusi buku memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pemikiran kebangsaan di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Melalui forum tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga diajak melihat relevansi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Melalui HMS Project 2025, Mahasiswa Teknik Sipil UNS Hadirkan Pembangunan Infrastruktur dan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Kedunggupit

Kegiatan bedah buku ini sekaligus menjadi sarana refleksi mengenai kondisi bangsa saat ini. Peserta diajak melihat kembali pentingnya menjaga persatuan, kemandirian, dan karakter bangsa di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.

Diskusi berlangsung dalam suasana akademik dan reflektif. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka selama sesi pemaparan dan tanya jawab. Selain memperluas wawasan mengenai sejarah dan pemikiran Bung Karno, kegiatan tersebut dinilai mampu mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dalam melihat persoalan kebangsaan dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Pembahasan mengenai Trisakti juga membuka ruang dialog tentang berbagai tantangan bangsa, mulai dari persoalan identitas nasional, ketahanan budaya, hingga kemandirian ekonomi dan politik di era globalisasi.

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, pemahaman terhadap dasar negara dinilai tetap relevan sebagai pedoman menghadapi berbagai tantangan kebangsaan. Nilai berdaulat, berdikari, dan berkepribadian yang dicetuskan Bung Karno dianggap masih memiliki posisi penting dalam menjaga arah dan identitas bangsa Indonesia.

Melalui Diskusi Pancasila ini, UPT Laboratorium Pancasila UM berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Forum diskusi tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus ruang dialog bagi mahasiswa maupun masyarakat untuk memahami kembali nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah dinamika global yang terus berkembang, penguatan pemahaman terhadap Pancasila dipandang penting agar masyarakat tidak kehilangan identitas nasional. Diskusi ini menunjukkan bahwa pemikiran Bung Karno mengenai Trisakti masih relevan untuk dibicarakan dalam konteks kehidupan modern saat ini.

Penulis : Yanuaris Chiquita Dewi

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR
Dari Indonesia ke Singapura: Pengalaman Exchange Semester@NIE Mahasiswa Universitas Sebelas Maret di NIE/NTU Singapore
Kolaborasi UPITRA dan RS Mata Solo Dorong Integrasi Sistem Lewat Pelatihan API
Cegah Sejarah Desa Luntur, Mahasiswa KKN UNS Luncurkan Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah”
Tingkatkan Taraf Pendidikan di Lingkup Anak-Anak Sekolah Dasar, Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Pelatihan dan Kompetisi Bahasa Inggris untuk Siswa SD di Desa Sanggrahan
KIPSMARTS UNS: Upaya Nyata Mahasiswa untuk Mendukung SDGs 1 dan 4 melalui Penyebaran Informasi Beasiswa KIP Kuliah
Mahasiswa KKN UNS 112 Gelar Pelatihan AutoCAD untuk Perkuat Perencanaan Infrastruktur Desa Binade
Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Lomba Fun Game Bola Voli Antar Dusun di Desa Sanggrahan

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:55 WIB

Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:55 WIB

Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:02 WIB

Kolaborasi UPITRA dan RS Mata Solo Dorong Integrasi Sistem Lewat Pelatihan API

Jumat, 24 April 2026 - 16:52 WIB

Cegah Sejarah Desa Luntur, Mahasiswa KKN UNS Luncurkan Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah”

Kamis, 23 April 2026 - 18:06 WIB

Tingkatkan Taraf Pendidikan di Lingkup Anak-Anak Sekolah Dasar, Mahasiswa KKN-T UNS Gelar Pelatihan dan Kompetisi Bahasa Inggris untuk Siswa SD di Desa Sanggrahan

Berita Terbaru