Boyolali, Sorotnesia.id – Tim Hibah JARPAK Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelesaikan kajian mengenai fungsi wilayah, kedudukan, aksesibilitas, dan potensi lokal Desa Sumbung, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Kajian tersebut menyoroti peran Desa Sumbung sebagai salah satu wilayah yang memiliki posisi strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi di kawasan dataran tinggi Kecamatan Cepogo, terutama melalui sektor hortikultura, peternakan sapi perah, dan peluang pengembangan wisata desa.
Kajian dilaksanakan selama lima hari, pada 21–25 Mei 2026, oleh tim yang terdiri atas 10 mahasiswa. Selama kegiatan berlangsung, tim melakukan observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat, dokumentasi, serta pengumpulan data wilayah untuk memetakan kondisi desa secara menyeluruh.
Desa Sumbung berada di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepat di kawasan kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Secara administratif, desa ini terdiri atas tiga RW dan 17 RT. Wilayahnya berbatasan dengan Desa Mliwis di sebelah utara, Desa Paras di sebelah timur, Desa Kembangsari, Kecamatan Musuk, di sebelah selatan, serta Desa Gedangan di sebelah barat.
Dalam kajian tersebut, tim menemukan bahwa Desa Sumbung memiliki keterkaitan yang erat dengan desa-desa di sekitarnya. Interaksi antarwilayah berlangsung aktif, terutama pada sektor pertanian, peternakan, hingga perdagangan hasil produksi. Kondisi tersebut menjadikan Desa Sumbung tidak hanya berfungsi sebagai wilayah produksi, tetapi juga sebagai bagian penting dalam rantai ekonomi kawasan Kecamatan Cepogo.
Meski memiliki peran strategis, kajian mengenai posisi Desa Sumbung dalam mendukung perkembangan wilayah sekitar masih relatif terbatas. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai fungsi desa dalam konteks pembangunan wilayah.
Hasil kajian menunjukkan bahwa sektor pertanian hortikultura dan peternakan sapi perah menjadi kekuatan utama Desa Sumbung. Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada kedua sektor tersebut sehingga menjadi penggerak utama perekonomian desa.
Selain potensi ekonomi, kondisi geografis Desa Sumbung yang berada di kawasan pegunungan menghadirkan lingkungan yang sejuk dan asri. Didukung budaya gotong royong yang masih terjaga di tengah masyarakat, kondisi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan wisata desa berbasis edukasi pertanian maupun peternakan.
Dari aspek aksesibilitas, Desa Sumbung memiliki jaringan transportasi yang memadai untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi hasil produksi. Konektivitas menuju pusat Kecamatan Cepogo maupun Kabupaten Boyolali dinilai cukup baik sehingga memperlancar aktivitas sosial dan ekonomi warga.

Kedekatan dengan desa-desa sekitar, seperti Desa Mliwis dan Desa Gedangan, juga memperkuat interaksi antarkawasan. Hubungan tersebut berkontribusi terhadap kelancaran arus barang, jasa, maupun aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketua Tim Hibah JARPAK UNS Desa Sumbung, Niko Diaz Anugerah, mengatakan bahwa kajian tersebut bertujuan mengidentifikasi posisi strategis desa sekaligus menggali potensi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Desa Sumbung memiliki potensi lokal yang sangat mendukung pengembangan wilayah, khususnya pada sektor pertanian, peternakan, dan wisata desa,” ujar Niko Diaz Anugerah.

Menurutnya, hasil kajian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan arah pembangunan desa yang lebih terencana dan berbasis potensi lokal. Dengan memahami karakteristik wilayah secara lebih mendalam, pemerintah desa dapat menentukan prioritas program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Selain menghasilkan pemetaan mengenai fungsi wilayah, kegiatan tersebut juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat. Kerja sama diwujudkan melalui proses observasi, wawancara, pengumpulan data, hingga penyusunan rekomendasi pengembangan wilayah.
Pendekatan kolaboratif tersebut sekaligus mendukung implementasi beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDGs 11 mengenai kota dan permukiman yang berkelanjutan, SDGs 15 tentang ekosistem daratan, serta SDGs 17 yang menitikberatkan pada kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Melalui identifikasi potensi wilayah yang dilakukan secara sistematis, hasil kajian diharapkan mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi Pemerintah Desa Sumbung, tetapi juga bagi pengembangan penelitian dan pengabdian masyarakat di masa mendatang.
Tim JARPAK UNS berencana menyerahkan hasil kajian kepada Pemerintah Desa Sumbung sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program pembangunan desa. Dokumen tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan pengembangan sektor pertanian, peternakan, maupun wisata desa yang menjadi potensi unggulan wilayah.
Di sisi lain, hasil kajian juga berpotensi menjadi pijakan bagi penelitian lanjutan yang dilakukan mahasiswa maupun dosen Universitas Sebelas Maret. Dengan demikian, pemetaan potensi Desa Sumbung tidak berhenti pada aspek akademik semata, tetapi juga dapat mendukung upaya pembangunan desa yang lebih terarah, berkelanjutan, dan berbasis pada kekuatan lokal yang dimiliki masyarakat.









