Budaya Antre: Cermin Kehidupan yang Sering Terlewatkan

- Redaksi

Kamis, 10 Oktober 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber: Liputan6.com

Sumber: Liputan6.com

Mendengar kata “antre”, hampir semua dari kita, tanpa terkecuali saya, pasti akan langsung membayangkan situasi yang membosankan dan menyebalkan. Berdiri dalam barisan panjang, menunggu giliran yang seakan tak kunjung tiba, seringkali terasa seperti membuang waktu. Banyak dari kita mencari pelarian dengan bermain ponsel, mencoba melupakan rasa bosan yang perlahan-lahan menyelimuti.

Namun, bagaimana jika kita sedang mengantre di tempat yang tidak memungkinkan kita bermain ponsel, seperti di SPBU? Di sana, kita mungkin merasa tak berdaya, terjebak dalam rutinitas yang seakan tak ada ujung.

Tetapi, pernahkah kita berhenti sejenak, menurunkan ponsel, dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita saat mengantre? Jika kita membuka mata dan hati, ada begitu banyak hal tentang kehidupan yang bisa kita pelajari dari sekadar berdiri dalam antrean.

Saat berdiri di antrean panjang SPBU di tengah malam, pernahkah Anda memperhatikan orang-orang di sekitar? Ada petugas SPBU yang berdiri di bawah terik matahari atau dinginnya malam, tetap tersenyum meski tubuh mereka pasti lelah setelah melayani ratusan kendaraan yang datang silih berganti.

Baca Juga :  Peran Generasi Muda dalam Mendorong Pertambangan yang Tertib dan Berkelanjutan

Ada pengemudi yang sabar menunggu, meski mungkin rasa kantuk mulai menyelimuti, namun tetap harus mengisi bensin untuk melanjutkan perjalanan. Di sudut lain, ada penjual kecil yang duduk di dekat pintu keluar, berharap ada pembeli yang singgah sejenak membeli dagangannya. Bahkan, terkadang kita melihat pengemis yang mengulurkan tangan, mencoba bertahan di kerasnya kehidupan.

Dari setiap wajah yang kita lihat, dari setiap individu yang mengantre bersama kita, ada cerita yang berbeda-beda. Setiap orang yang berdiri di sana membawa bebannya masing-masing, menghadapi perjuangan hidup yang tak selalu terlihat dari luar.

Mengantre, pada akhirnya, mengajarkan kita tentang kesabaran, empati, dan rasa syukur. Mengantre mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan, di mana setiap orang memiliki giliran dan tujuannya masing-masing.

Budaya antre mengajarkan kita bahwa tak selalu segalanya bisa didapatkan dengan cepat. Kadang, kita harus menunggu. Dan dalam proses menunggu itulah, kita diajarkan untuk bersabar, untuk mengerti bahwa hidup tak hanya tentang kita sendiri.

Baca Juga :  Mengupas Stigma Stereotipikal terhadap Wibu di Indonesia

Ada banyak orang di luar sana yang mungkin lebih lelah, lebih berjuang, namun tetap menapaki langkah mereka dengan tegar. Kita belajar untuk menghargai waktu dan usaha orang lain, serta menerima kenyataan bahwa tak semua hal bisa kita kontrol.

Jadi, lain kali ketika Anda merasa kesal karena harus mengantre, coba alihkan perhatian Anda dari rasa jenuh itu. Perhatikan sekeliling, lihat bagaimana orang-orang di sekitar Anda menjalani hidup mereka, dan tanyakan pada diri sendiri: “Apa yang bisa saya pelajari dari mereka hari ini?”

Antre, pada akhirnya, bukan hanya tentang menunggu giliran. Ini adalah pelajaran tentang kehidupan itu sendiri—tentang bagaimana kita saling menghargai, memahami perjuangan orang lain, dan menjalani setiap detik dengan kesadaran penuh. Antre mengingatkan kita untuk hidup dengan lebih tenang, lebih sabar, dan lebih peduli.

Penulis : Redaksi

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Melek Finansial di Era Digital: Peluang Besar, Risiko Tak Kecil
Harga Diskon: Strategi Peningkatan Penjualan
Pencatatan Double Entry: Mengatasi Salah Hitung Debit UMKM
Kritik Anarkisme: Ilusi Kebebasan dalam Masyarakat Tanpa Negara
Dari Rak ke Layar: Terbitan Berseri di Era Digital
Penyiangan Koleksi Terbitan Berseri: Menjaga Relevansi Tanpa Mengorbankan Ingatan Kolektif
Anatomi Regresi Demokrasi: Keterkaitan Struktur Konstitusi dengan Sentralisasi Kekuasaan Daerah
Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:16 WIB

Melek Finansial di Era Digital: Peluang Besar, Risiko Tak Kecil

Rabu, 28 Januari 2026 - 08:59 WIB

Harga Diskon: Strategi Peningkatan Penjualan

Minggu, 25 Januari 2026 - 12:56 WIB

Kritik Anarkisme: Ilusi Kebebasan dalam Masyarakat Tanpa Negara

Selasa, 20 Januari 2026 - 11:45 WIB

Dari Rak ke Layar: Terbitan Berseri di Era Digital

Selasa, 20 Januari 2026 - 10:45 WIB

Penyiangan Koleksi Terbitan Berseri: Menjaga Relevansi Tanpa Mengorbankan Ingatan Kolektif

Berita Terbaru

Opini

Harga Diskon: Strategi Peningkatan Penjualan

Rabu, 28 Jan 2026 - 08:59 WIB