Kenapa Tata Cara Shalat Berbeda? Ini Penjelasan Menurut Mazhab

- Redaksi

Jumat, 27 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi seorang Muslim sedang berdoa usai shalat, Perbedaan cara ibadah dalam Islam tetap berpijak pada tujuan yang sama: mendekat kepada Allah SWT. (gettyimages.com)

Ilustrasi seorang Muslim sedang berdoa usai shalat, Perbedaan cara ibadah dalam Islam tetap berpijak pada tujuan yang sama: mendekat kepada Allah SWT. (gettyimages.com)

Pernahkah Anda merasa bingung saat sedang shalat berjamaah, lalu menyadari bahwa orang di sebelah Anda membaca doa qunut saat Subuh, sementara Anda tidak? Atau ketika melihat posisi tangan mereka berbeda—ada yang meletakkan tangan di dada, di bawah pusar, bahkan membiarkannya lurus di samping badan? Padahal, semuanya sama-sama Muslim, sama-sama shalat, dan sama-sama mengucap “Allahu Akbar.”

Pertanyaan semacam ini bukan hal baru. Diskusi mengenai perbedaan tata cara shalat telah lama menjadi perbincangan hangat, baik di forum kajian, grup WhatsApp keluarga, hingga obrolan santai selepas Jumatan di warung kopi. Namun, yang sering luput dari pembahasan adalah mengapa perbedaan ini bisa terjadi, dari mana asalnya, dan yang terpenting, apakah perbedaan tersebut dibenarkan dalam Islam?

Asal Mula Perbedaan Mazhab

Perbedaan tata cara shalat sebenarnya berakar dari perbedaan ijtihad para ulama dalam memahami dan merumuskan syariat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in berusaha menggali hukum-hukum ibadah, termasuk shalat, berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Dari proses inilah lahir empat mazhab fikih besar yang dikenal hingga saat ini: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Masing-masing mazhab memiliki metodologi tersendiri dalam menafsirkan dalil dan memilah riwayat. Perbedaan metodologi inilah yang menjadi akar dari variasi dalam praktik shalat yang kita temui hari ini.

Ragam Perbedaan yang Kerap Ditemui

Salah satu perbedaan yang paling sering menimbulkan pertanyaan adalah doa qunut dalam shalat Subuh. Mazhab Syafi’i menganjurkan pembacaan qunut sebagai sunnah muakkad berdasarkan hadis dari Anas bin Malik, “Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut pada shalat Subuh hingga beliau meninggalkannya” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi). Sementara itu, mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali tidak mewajibkan qunut, kecuali dalam kondisi darurat seperti musibah besar (qunut nazilah).

Baca Juga :  SMP Negeri 2 Sragi Luncurkan Program Gerakan Anti Perundungan Berbasis SIPERSIS

Perbedaan lain juga terlihat dalam posisi tangan saat berdiri dalam shalat. Mazhab Hanafi menyarankan tangan diletakkan di bawah pusar berdasarkan hadis Wa’il bin Hujr. Mazhab Syafi’i dan Hanbali meletakkannya di atas pusar atau di dada, sedangkan mazhab Maliki membiarkan tangan lurus di sisi badan, sebagaimana praktik penduduk Madinah pada masa Imam Malik.

Contoh ketiga yang juga sering ditemui adalah bacaan di antara dua sujud. Mazhab Syafi’i mengajarkan bacaan lengkap: “Rabbighfirli, warhamni, wajburni, warzuqni, warfa’ni, wa’afini, wahdini.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Sedangkan Hanafi dan Hanbali cukup membaca “Rabbighfirli, Rabbighfirli,” dan Maliki menggunakan doa yang singkat namun tetap mengandung permohonan ampun dan rahmat.

Kenapa Bisa Berbeda Padahal Dalilnya Sama?

Satu pertanyaan yang wajar muncul adalah: mengapa dalilnya sama, tapi hasilnya bisa berbeda?

Jawabannya terletak pada metode ijtihad masing-masing mazhab. Misalnya, mazhab Hanafi cenderung mengedepankan qiyas (analogi) dan pertimbangan kemaslahatan umum. Mazhab Maliki sangat menghargai praktik penduduk Madinah sebagai representasi ajaran Nabi. Mazhab Syafi’i menekankan pada keabsahan sanad hadis, sementara Hanbali sangat ketat dalam memilih riwayat paling otentik dan menghindari takwil.

Baca Juga :  Toleransi Antar-Mazhab: Mengapa Perbedaan Fikih Tidak Pernah Mengancam Islam

Dengan pendekatan yang berbeda-beda ini, maka wajar jika menghasilkan variasi dalam praktik. Namun, penting digarisbawahi bahwa semua perbedaan tersebut memiliki landasan dalil yang sahih dan melalui proses ijtihad yang mendalam.

Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menyampaikan bahwa:
“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila dia berijtihad lalu salah, maka baginya satu pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Toleransi dan Penghargaan

Perbedaan dalam tata cara shalat semestinya tidak menjadi alasan untuk saling mencela atau mempertanyakan keabsahan ibadah orang lain. Justru sebaliknya, perbedaan ini menunjukkan betapa kaya dan fleksibelnya khazanah fikih Islam. Para ulama terdahulu saling menghormati perbedaan pendapat, tidak saling merendahkan, bahkan saling belajar dari ijtihad satu sama lain.

Daripada sibuk memperdebatkan qunut, posisi tangan, atau bacaan tertentu, alangkah lebih baik jika kita fokus pada hal yang paling esensial dalam shalat: kekhusyukan. Karena yang paling penting bukanlah di mana posisi tangan kita, melainkan apakah hati kita benar-benar hadir di hadapan Allah dalam setiap rakaat yang kita kerjakan.

Penulis : Najma Rahmatunnisa | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemimpin Bukan Sekadar Memberi Perintah, tetapi Membangun Kepercayaan
Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah
Belajar Bahwa Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja
Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja
Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks
Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya
Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus
Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 21:10 WIB

Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

Rabu, 4 November 2026 - 11:00 WIB

Belajar Bahwa Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja

Selasa, 3 November 2026 - 21:21 WIB

Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja

Selasa, 3 November 2026 - 07:07 WIB

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya

Berita Terbaru