Pukul 06.00, Aisyah mengunci pintu rumah dan berangkat ke kampus. Tiga menit kemudian, ponselnya bergetar di dalam tas. Ia tidak menyadarinya. Sebuah pesan baru masuk ke grup kelas Survey of American Literature: perkuliahan hari itu dialihkan dari tatap muka menjadi daring.
Aisyah baru membaca pesan tersebut setelah tiba di kampus. Jarak rumahnya sekitar tujuh kilometer. Tiga menit yang terlewat membuat perjalanan pagi itu sia-sia. Ia akhirnya menghabiskan waktu di kos seorang teman.
Pengalaman mahasiswa Sastra Inggris semester 3 itu bukan kejadian langka. Di ponsel mahasiswa, grup WhatsApp kelas menjadi ruang tempat informasi penting dan obrolan sehari-hari bercampur dalam satu layar. Empat mahasiswa dari jurusan berbeda menceritakan pengalaman mereka menghadapi dinamika tersebut.
Kabar Penting di Tengah Keriuhan
Bagi Azka, mahasiswa Pendidikan Matematika semester 3, grup kelas merupakan “tempat informasi internal paling cepat”. Penjelasan dosen mengenai tugas yang dirasa kurang lengkap kerap menemukan jawabannya melalui diskusi di grup. Ia juga pernah hampir terlambat masuk kelas karena perubahan jadwal yang baru diketahuinya melalui pesan.
Amelia, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) semester 3, merasakan manfaat serupa. Ketika tenggat pengumpulan tugas semakin dekat, teman sekelas dan penanggung jawab (PJ) kelas biasanya memberikan pengingat agar tidak ada tugas yang terlewat.
Grup kelas bahkan pernah menyelamatkan Aisyah dari perjalanan yang sia-sia. Suatu pagi, ia sudah bersiap berangkat sebelum memutuskan membuka grup sekali lagi. Ternyata, perkuliahan hari itu dialihkan menjadi daring.
Pengalaman tersebut membuat notifikasi “99+” memunculkan perasaan campur aduk. Aisyah kesal, tetapi juga penasaran karena khawatir ada informasi penting. Setelah membuka grup, ia justru merasa malas ketika mendapati sebagian besar pesan hanya berisi obrolan yang tidak berkaitan dengan perkuliahan.
Amelia mengaku deg-degan setiap melihat banyak pesan masuk karena takut tertinggal informasi mata kuliah. Sebaliknya, H, mahasiswa Psikologi semester 7, menanggapinya dengan lebih santai. “Buset, tumben. Bahas apaan dah,” katanya.
Tumpukan Grup, Tumpukan Kecemasan
Banyaknya pesan tidak terlepas dari jumlah grup yang diikuti mahasiswa. Aisyah tergabung dalam 29 grup kuliah yang masih aktif digunakan untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Lebih dari 40 grup lainnya sudah jarang ia buka, tetapi belum ditinggalkan.
H memiliki grup mata kuliah, kuliah kerja nyata (KKN), bimbingan, angkatan, hingga komunitas. Hampir semuanya dibisukan. Notifikasi hanya diaktifkan untuk grup atau orang tertentu. Sementara itu, Amelia mengikuti lebih dari enam grup dan Azka lebih dari lima.
Banyaknya grup juga meningkatkan risiko informasi penting terlewat. Saat mengikuti pengenalan kehidupan kampus, percakapan Amelia sempat tenggelam hingga membuatnya salah masuk kelompok.
H mengalami persoalan berbeda. Karena mengulang mata kuliah, ia hanya bergabung dengan grup mata kuliah, bukan grup kelas. Untuk memperoleh informasi, ia harus menghubungi PJ kelas atau kenalan di kelas tersebut. “Berasa buta arah,” tuturnya.
Membaca Pesan, tetapi Tak Menjawab
Satu keluhan muncul dari pengalaman keempat mahasiswa: anggota grup yang membaca pesan, tetapi tidak memberikan tanggapan. “Apa susahnya bales chat doang, apalagi ini tentang tugas kelompok,” kata Amelia.
Bagi Azka, komunikasi merupakan bagian penting dari kerja kelompok. Ketika anggota tidak merespons, kendala yang dihadapi tidak tersampaikan dan penyelesaian tugas ikut terhambat.
Aisyah, yang pernah menjadi PJ, menghadapi persoalan serupa. Instruksi dosen sebenarnya sudah tercantum dengan jelas dalam berkas, tetapi masih ada anggota yang menanyakan hal yang sama. “Tapi masih aja ada yang nanya,” katanya.
Persoalan komunikasi juga dapat berkembang menjadi konflik. Azka mengenang pengalaman ketika miskomunikasi tidak diselesaikan dengan kepala dingin, melainkan berujung pada saling membalas dengan nada tinggi hingga suasana grup menjadi kacau. Amelia pun pernah menyaksikan perdebatan antarteman sekelas.
H memiliki keluhan yang lebih sederhana, tetapi mewakili kejengkelan dalam kerja kelompok: tolong ketik dulu sebentar, ini kerja kelompok, bukan perbudakan.
Banyak Peran dalam Satu Layar
Di tengah dinamika tersebut, setiap mahasiswa memiliki cara berkomunikasi sendiri. Aisyah kerap mengambil peran sebagai penggerak ketika tidak ada yang memulai percakapan, menjadi perespons ketika anggota lain diam, atau sekadar mengirimkan tanda jempol sebagai bentuk persetujuan.
Amelia lebih sering membaca pesan tanpa menimpali. Sementara itu, H berganti peran sesuai suasana hati, mulai dari pembaca diam, pengirim stiker, hingga pengingat tugas.
Berisik, tetapi Sulit Ditinggalkan
Bagaimana jika grup kelas tiba-tiba menghilang?
Aisyah mengaku akan panik jika grup penting yang hilang, tetapi justru merasa lega apabila grup yang terlalu ramai obrolan tidak lagi tersedia. Amelia akan terkejut karena khawatir kehilangan informasi perkuliahan. Azka juga merasa cemas lantaran banyak data penting belum dicadangkan dan membutuhkan waktu untuk dipulihkan.
H memberikan jawaban paling singkat sekaligus menggambarkan dilema tersebut. Ia mungkin merasa lega karena terbebas dari notifikasi, tetapi tetap bertanya, “Gimana aku ikut matkulnya?”
Pengalaman keempat mahasiswa ini memperlihatkan dua sisi grup WhatsApp kelas. Di satu sisi, grup menjadi saluran cepat untuk memperoleh informasi akademik. Di sisi lain, tumpukan pesan, miskomunikasi, dan minimnya respons dapat memunculkan kecemasan serta mengganggu perhatian.
Setiap mahasiswa memiliki cara sendiri untuk mengelolanya, mulai dari membisukan notifikasi hingga memilah grup yang perlu dipantau. Namun, meninggalkannya bukan perkara mudah. Di antara puluhan atau bahkan ratusan pesan, selalu ada kemungkinan terselip satu informasi yang menentukan kegiatan kuliah keesokan hari.
Kisah ini memang berasal dari empat narasumber. Meski terbatas, pengalaman mereka mungkin terasa akrab bagi banyak mahasiswa yang setiap hari bergantung pada grup kelas.
Catatan: H ditulis dengan inisial atas permintaan narasumber.
Penulis : Faris Muhammad Basyar | UIN Sunan Gunung Djati
Editor : Fadli Akbar









