Buku How Leader Act karya Aswin Giandra menawarkan perspektif tentang kepemimpinan modern di tengah perubahan dunia kerja dan organisasi. Buku ini menegaskan bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar menduduki jabatan tinggi, memiliki kekuasaan, atau memberikan perintah kepada bawahan. Kepemimpinan justru tercermin dari kemampuan menginspirasi, memotivasi, dan memberikan teladan bagi orang lain. Melalui pendekatan praktis dan bahasa yang mudah dipahami, Aswin mengajak pembaca bertransformasi dari sosok yang hanya berperan sebagai bos menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Pembahasan diawali dengan menguraikan perbedaan karakter antara seorang bos dan seorang leader. Sosok bos kerap diasosiasikan dengan sikap otoriter, menciptakan rasa takut, serta berorientasi pada pencapaian hasil tanpa cukup memperhatikan kondisi anggota tim. Sebaliknya, seorang pemimpin mampu mengambil keputusan secara tegas dengan tetap mempertimbangkan kepentingan bersama. Ia membangun kepercayaan, menjaga hubungan dengan anggota tim, dan memperoleh penghargaan melalui sikap serta tindakannya. Perbedaan tersebut menjadi dasar bagi pembaca untuk memahami bahwa kepemimpinan seharusnya bertumpu pada tanggung jawab dan pelayanan, bukan semata-mata kekuasaan.
Aspek lain yang mendapat perhatian adalah kecerdasan emosional dan kemampuan berkomunikasi. Menurut buku ini, pemimpin yang efektif tidak hanya dituntut memahami pekerjaan, tetapi juga harus mampu mengelola emosi pribadi dan mengenali kondisi emosional orang lain. Kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui kebiasaan mendengarkan secara aktif, memahami sudut pandang anggota tim, serta membangun komunikasi terbuka. Pola komunikasi dua arah memungkinkan setiap orang menyampaikan gagasan dan persoalan tanpa merasa tertekan. Hubungan kerja pun dapat tumbuh atas dasar saling menghargai dan kepercayaan.
Selain membangun hubungan yang sehat, seorang pemimpin harus mampu menentukan arah dan tujuan organisasi. Buku ini menjelaskan pentingnya merumuskan target yang spesifik, jelas, dan terukur. Pencapaian tujuan tersebut perlu disertai evaluasi berkala untuk mengetahui perkembangan pekerjaan sekaligus mengidentifikasi hambatan yang muncul. Pemimpin juga perlu memberikan umpan balik yang konstruktif agar anggota tim memahami aspek yang harus diperbaiki dan dikembangkan. Kejelasan tujuan dan evaluasi yang konsisten membantu setiap anggota bekerja secara terarah dalam mencapai sasaran bersama.
Aswin juga menyoroti pentingnya penghargaan dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Setiap anggota tim memiliki karakter serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, bentuk apresiasi perlu disesuaikan agar dapat memberikan motivasi secara tepat. Perhatian terhadap keseimbangan kehidupan kerja atau work-life balance juga menjadi bagian dari tanggung jawab pemimpin. Penyediaan ruang istirahat, kesempatan berekreasi, dan lingkungan kerja yang mendukung dapat membantu mengurangi kejenuhan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tidak semestinya dicapai dengan mengabaikan kesejahteraan anggota tim.
Keempat aspek tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan modern membutuhkan keseimbangan antara pencapaian target dan perhatian terhadap manusia yang menjalankan pekerjaan. Pemimpin tidak cukup hanya menyusun strategi, membagi tugas, dan mengawasi hasil. Ia juga harus membangun lingkungan yang memungkinkan setiap anggota berkembang dan berkontribusi secara optimal. Kelebihan buku ini terletak pada upayanya menerjemahkan konsep kepemimpinan menjadi langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi kerja dan organisasi.
Dari segi penyajian, How Leader Act menggunakan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan relatif mudah dipahami oleh pembaca dari beragam latar belakang. Mahasiswa, profesional, hingga pelaku usaha dapat mengikuti pembahasannya tanpa harus memiliki pengetahuan mendalam tentang teori manajemen. Buku ini juga tidak hanya menekankan aspek pencapaian kinerja, tetapi memberi ruang bagi pembahasan mengenai pengelolaan emosi, pemberian umpan balik, dan kesejahteraan anggota tim. Pendekatan tersebut membuat pembahasan kepemimpinan terasa lebih dekat dengan persoalan sehari-hari.
Meski demikian, buku ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Uraiannya cenderung bertumpu pada penjelasan konseptual dan kiat praktis dari penulis. Pembahasan akan lebih kuat apabila dilengkapi studi kasus konkret dari perusahaan, organisasi, atau pengalaman pemimpin yang berhasil menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Contoh nyata dapat membantu pembaca memahami bagaimana gagasan kepemimpinan diterapkan ketika menghadapi konflik, tekanan pekerjaan, atau perubahan organisasi. Selain itu, penggunaan diagram, bagan, dan ilustrasi visual masih dapat ditingkatkan untuk memudahkan pembaca memahami hubungan antarkonsep.
Terlepas dari keterbatasan tersebut, How Leader Act karya Aswin Giandra layak dipertimbangkan sebagai bacaan pengantar bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Buku ini mengingatkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar kewenangannya atau seberapa patuh anggota tim terhadap perintahnya. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuannya membangun kepercayaan, mengarahkan tujuan bersama, serta menghadirkan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitarnya. Pesan tersebut relevan bagi siapa pun yang ingin memimpin dengan lebih manusiawi sekaligus tetap berorientasi pada hasil.

| Judul Buku | : | How Leader Act |
| Penulis | : | Aswin Giandra |
| Penerbit | : | Caesar Media Pustaka, Jawa Tengah |
| Cetakan | : | Pertama, 2023 |
| Tebal Buku | : | vii + 192 halaman |
Penulis : Aura Latifatul Uluwiyah | Program Studi Psikologi | Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Fadli Akbar









