Menurut saya, masalah utama dalam berkirim pesan bukanlah lambatnya balasan, melainkan ketidakjelasan. Banyak orang aktif berjam-jam di media sosial, tetapi membiarkan pesan temannya menumpuk selama berhari-hari. Padahal, status daring tidak selalu berarti seseorang siap membalas pesan. Anggapan sebaliknya justru membuat orang merasa diabaikan. Di tengah kemudahan komunikasi digital, kejelasan sering kali menjadi hal yang terlupakan.
Saya pernah mengalaminya. Pesan saya tidak dibalas selama lebih dari seminggu. Pikiran saya pun dipenuhi pertanyaan: apakah saya berbuat salah, menyinggung perasaannya, atau membuatnya tidak nyaman? Ketika akhirnya bertanya, jawabannya ternyata sederhana. Pesan saya tertimbun percakapan lain, sementara teman saya sedang tidak ingin membuka WhatsApp. Ada pula teman yang sudah membaca pesan, merasa telah menjawabnya dalam hati, tetapi kemudian lupa membalas. Tidak ada masalah di antara kami. Hanya saja, kebiasaan bermedia sosial terkadang menimbulkan dampak yang tidak disadari.
Menurut saya, kecemasan seperti ini bukanlah sikap berlebihan. Penelitian Kato, Kato, dan Ozawa (2020) terhadap 213 mahasiswi di Jepang menemukan bahwa emosi negatif, seperti sedih, cemas, marah, dan bersalah, muncul lebih cepat ketika seseorang menunggu balasan atas pesan yang sudah terbaca dibandingkan pesan yang belum terbaca. Sementara itu, Lynden dan Rasmussen (2017) mengaitkan fitur tanda terbaca dengan perilaku menghindar, kebiasaan sering memeriksa aplikasi, dan kecemasan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pesan yang sudah terbaca tanpa balasan dapat memicu berbagai dugaan negatif.
Namun, saya juga pernah berada di posisi orang yang terlambat membalas. Ketika sibuk mengerjakan tugas kuliah atau menggunakan perangkat lain, saya terkadang tidak menyadari notifikasi di ponsel utama. Tanpa sengaja, saya membuat orang lain menunggu. Pengalaman ini mengajarkan bahwa keterlambatan membalas pesan tidak selalu berarti ketidakpedulian. Terkadang, kita hanya tidak menyadari bahwa seseorang sedang menanti jawaban.
Meski terlihat sepele, persoalan ini dapat merenggangkan pertemanan ketika seseorang mulai menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui keadaan sebenarnya. Dalam situasi mendesak, seperti urusan keluarga atau tugas kelompok yang dibatasi tenggat waktu, sulitnya menghubungi seseorang bahkan dapat menghambat penyelesaian masalah. Membiarkan pesan tanpa kejelasan berisiko menormalisasi kebiasaan komunikasi yang mengabaikan perasaan dan kebutuhan orang lain.
Menurut saya, solusinya tidak rumit. Jika belum sempat membalas, kita bisa mengirim pesan singkat, seperti, “Sebentar ya, nanti aku balas.” Jika ingin beristirahat dari aplikasi pesan selama beberapa hari, memberi tahu orang terdekat juga dapat mencegah kesalahpahaman. Kebiasaan sederhana ini tidak mengharuskan kita selalu memegang ponsel, tetapi membantu orang lain memahami keadaan kita.
Kecepatan membalas memang bukan segalanya. Namun, kejelasan dalam komunikasi merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain. Kita tidak selalu bisa menjawab pesan dengan cepat, tetapi kita bisa berusaha memberi kabar. Sebab, di balik pesan yang belum terjawab, mungkin ada seseorang yang sedang menunggu dengan hati gelisah.
Daftar Pustaka
Kato, S., Kato, Y., & Ozawa, Y. (2020). Reply speed as nonverbal cue in text messaging with a read receipt display function: Effects of messaging dependency on times until negative emotions occur while waiting for a reply. International Journal of Technology and Human Interaction, 16(1), 36–53. https://doi.org/10.4018/IJTHI.2020010103
Lynden, J., & Rasmussen, T. (2017). Exploring the impact of ‘read receipts’ in mobile instant messaging. https://tidsskrift.dk/mef-journal/article/view/28781
Penulis : Hadiat Abdurahman Sidiq | UIN Sunan Gunung Djati
Editor : Fadli Akbar









