Tinggi Protein Bukan Jaminan Sehat: Saatnya Anak Muda Lebih Cerdas Pilih Asupan Gizi

- Redaksi

Rabu, 15 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sumber protein (Sumber: Shutterstock)

Ilustrasi sumber protein (Sumber: Shutterstock)

Pernah nggak sih kamu berpikir kalau semua makanan tinggi protein itu otomatis sehat? Akhir-akhir ini, tren makan tinggi protein lagi nge-hype banget. Banyak orang mulai rajin minum susu tinggi protein, ngemil protein bar, sampai rutin makan telur rebus setiap hari.

Semua itu dianggap bikin tubuh lebih kuat dan ideal. Tapi, benarkah semakin banyak protein yang kita konsumsi, semakin sehat juga tubuh kita? Jawabannya: nggak selalu begitu.

Protein memang penting banget buat tubuh. Ia berperan dalam regenerasi dan perbaikan jaringan, membantu sistem kekebalan tubuh, serta menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit (Rofidah et al., 2024).

Tapi, kalau dikonsumsi berlebihan, apalagi dari sumber hewani berlemak, tubuh malah bisa “protes”. Ginjal bakal kerja lebih keras untuk membuang sisa metabolisme protein. Kalau ini berlangsung terus-menerus, bisa muncul risiko gangguan ginjal di kemudian hari.

Belum lagi kalau kamu hanya fokus pada protein tanpa memperhatikan asupan lain, tubuh bisa kekurangan serat, vitamin, dan mineral penting (Rani et al., 2023).

Nggak cuma itu, konsumsi protein berlebih tanpa aktivitas fisik cukup juga bisa bikin berat badan naik karena kelebihan kalori (Suryandari & Widyastuti, 2015). Sumber protein hewani seperti daging merah sering mengandung lemak jenuh tinggi yang bisa meningkatkan kolesterol dan risiko penyakit jantung (Putri et al., 2021).

Baca Juga :  Diet dan Gaya Hidup Mahasiswa: Meningkatkan Kesadaran Akan Pentingnya Nutrisi Seimbang

Menurut Akmaliyah (2025), efek lain dari kebanyakan protein adalah sembelit akibat minimnya serat, tubuh terasa lemas karena ginjal dan hati bekerja ekstra, bahkan bisa muncul bau mulut akibat produksi keton berlebihan. Jadi, makan protein aja nggak cukup tanpa memahami keseimbangan gizi.

Nah, biar nggak salah langkah, penting banget buat mulai paham nilai gizi dari makanan yang kita konsumsi. Setiap orang punya kebutuhan berbeda misalnya, atlet tentu butuh lebih banyak protein dibandingkan pekerja kantoran. Dengan tahu kebutuhan tubuh, kita bisa menyesuaikan porsi dan jenis makanan. Jadi, nggak cuma ikut-ikutan tren tinggi protein, tapi juga sadar gizi sesuai kondisi masing-masing.

Kamu bisa mulai dari hal simpel, kayak baca label gizi sebelum beli makanan. Lihat komposisinya: ada protein, tapi juga seimbang nggak dengan lemak, serat, dan gula? Hindari pilih makanan cuma karena lagi viral di media sosial. Makin sering kita sadar dan cek kandungan gizi, makin terbiasa juga kita pilih makanan yang benar-benar bikin tubuh sehat, bukan sekadar ikut gaya hidup orang lain.

Baca Juga :  Puskesmas Bojong I Jalankan Program RODA untuk Cegah Masalah Kesehatan Remaja

Intinya, makan tinggi protein boleh, tapi jangan berlebihan. Tubuh kamu butuh perhatian, bukan perlakuan ekstrem. Mulai sekarang, yuk belajar lebih bijak dalam memilih makanan. Seimbangin antara protein, karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral. Karena pada akhirnya, hidup sehat itu bukan tren sesaat tapi kebiasaan yang dibangun dari keputusan kecil setiap hari.

Referensi

  • Akmaliyah, U. 2025. Protein Molekul Sensial Untuk Metabolisme dan Imunitas: Biologika: Jurnal Ilmiah Biologi. Vol. 1(1): 27-33.
  • Putri, M. P., Dary, D., dan Mangalik, G. 2022. Asupan Protein, Zat Besi dan Status Gizi pada Remaja Putri Journal of Nutrition College.Vol. 11(1): 6-17.
  • Rani, S., Wardhana, F. P., Adianto, M. R., dan Bagas, A. 2023. Analisis Menu Makanan terhadap Para Atlet Universitas Negeri Semarang. Jurnal Analisis. Vol. 2(1): 45-54.
  • Rofidah, K., Putriana, N., Roqimah, A. G. C., dan Arini, L. D. D. 2024. Membangun Kesehatan Dari Dalam Dengan Menu Sehat Berprotein Tinggi. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi. Vol. 2(3): 6-19.
  • Suryandari, B. D., dan Widyastuti, N. 2015. Hubungan Asupan Protein Dengan Obesitas pada Pemaja. Journal of Nutrition College. Vol. 4(4): 492-498.

Penulis : Karina Aditia Ningrum | Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Game Online Terhadap Tingkat Paparan Konten Bermuatan Radikalisme dan Toxic pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban
Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata
Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata
Ancaman di Balik Rutinitas Kerja: Mengungkap Risiko Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Modern
Fenomena Influencer Saham di Media Sosial dan Urgensi Perlindungan Hukum bagi Investor Pemula
Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:52 WIB

Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Game Online Terhadap Tingkat Paparan Konten Bermuatan Radikalisme dan Toxic pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:56 WIB

Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:42 WIB

Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:47 WIB

Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata

Senin, 25 Mei 2026 - 23:00 WIB

Ancaman di Balik Rutinitas Kerja: Mengungkap Risiko Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Modern

Berita Terbaru

Ilustrasi

Opini

Perlukah Indonesia Memiliki Hukum Pailit Khusus UMKM?

Sabtu, 6 Jun 2026 - 20:03 WIB