Ada Apa dengan Kandungan Boba? Analisis Pangan Mengungkap Fakta di Balik Minuman Favorit Masyarakat

- Redaksi

Kamis, 2 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Setiap hari, gerai minuman kekinian dipadati pelanggan yang membeli boba milk tea, thai tea, hingga berbagai varian es teh manis berukuran besar. Rasanya yang manis dan tampilannya yang menarik menjadikan minuman tersebut bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan anak muda. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang patut mendapat perhatian. Apa sebenarnya kandungan dalam satu gelas minuman tersebut, dan seberapa aman jika dikonsumsi secara rutin?

Jawaban atas pertanyaan itu dapat diperoleh melalui analisis pangan, yaitu serangkaian pengujian laboratorium yang bertujuan mengidentifikasi kandungan zat gizi, bahan tambahan pangan, hingga kemungkinan adanya zat yang berpotensi membahayakan kesehatan. Analisis pangan menjadi instrumen ilmiah untuk memastikan bahwa informasi mengenai suatu produk tidak hanya bergantung pada label kemasan atau klaim pemasaran, tetapi juga berdasarkan hasil pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Metode yang digunakan dalam analisis pangan sangat beragam. Pengujian dapat dilakukan melalui uji sederhana, seperti perubahan warna pada sampel, hingga menggunakan teknologi laboratorium modern, seperti spektrofotometri dan kromatografi. Berbagai metode tersebut memungkinkan peneliti mengetahui komposisi sebenarnya dari makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat.

Hasil Analisis yang Patut Menjadi Perhatian

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kandungan gula dalam minuman kekinian tergolong tinggi. Safitri et al. (2021) melaporkan bahwa satu gelas besar boba milk tea mengandung sekitar 47,21 gram gula, atau setara hampir 10 sendok teh. Selain itu, kandungan energinya mencapai 675 kilokalori, jauh melampaui anjuran kalori untuk satu porsi minuman dalam Pedoman Diet Indonesia yang berada di kisaran 200 kilokalori.

Baca Juga :  Cinta Beda Agama: Bagaimana Islam dan Negara Menyikapinya?

Angka tersebut menunjukkan bahwa satu gelas minuman saja sudah mampu menyumbang sebagian besar kebutuhan energi harian seseorang. Apabila dikonsumsi secara rutin tanpa diimbangi pola makan sehat dan aktivitas fisik yang memadai, risiko kelebihan asupan energi akan semakin besar.

Persoalan tidak berhenti pada tingginya kandungan gula. Rosita (2023), melalui analisis kualitatif dan kuantitatif di laboratorium, menemukan bahwa sejumlah pelaku usaha menggunakan pemanis buatan seperti siklamat sebagai pengganti gula untuk menekan biaya produksi. Penggunaan bahan tambahan pangan sebenarnya diperbolehkan selama memenuhi ketentuan yang berlaku. Namun, pemakaian yang melebihi batas atau tidak dicantumkan secara benar dapat menimbulkan persoalan bagi kesehatan maupun perlindungan konsumen.

Temuan tersebut diperkuat oleh BPOM (2019), yang mengidentifikasi adanya kandungan siklamat dan sakarin pada sejumlah sampel boba komersial yang beredar di pasaran. Fakta ini menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap produk pangan sekaligus perlunya konsumen memahami kandungan yang terdapat dalam minuman yang mereka beli.

Penelitian juga mengungkap bahwa kadar sukrosa pada boba milk tea dapat mencapai 77,44 persen. Kandungan gula yang sangat tinggi ini patut menjadi perhatian karena konsumsi gula secara berlebihan dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes, penyakit metabolik, hingga gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi.

Mengapa Analisis Pangan Sangat Penting?

Keberadaan analisis pangan memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar kegiatan penelitian di laboratorium. Melalui proses tersebut, masyarakat memperoleh informasi yang objektif mengenai kualitas dan keamanan pangan yang beredar di pasaran. Hasil analisis juga menjadi dasar bagi pemerintah dalam melakukan pengawasan serta memastikan bahwa setiap produk memenuhi standar keamanan pangan yang telah ditetapkan.

Baca Juga :  Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Di sisi lain, hasil penelitian semestinya tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Informasi mengenai kandungan gula, kalori, maupun penggunaan bahan tambahan pangan perlu dikomunikasikan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami. Langkah ini penting agar konsumen mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar, bukan sekadar mengikuti tren atau promosi.

Mengonsumsi boba milk tea bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memahami kandungan di dalamnya dan mengonsumsinya secara bijak. Kesadaran tersebut dapat membantu masyarakat mengendalikan asupan gula harian sekaligus mengurangi risiko berbagai penyakit tidak menular di masa mendatang.

Karena itu, saat memesan minuman favorit, tidak ada salahnya memilih ukuran yang lebih kecil atau meminta kadar gula yang lebih rendah. Kebiasaan sederhana seperti memilih opsi less sugar dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan tanpa harus meninggalkan minuman yang disukai.

Daftar Pustaka

Safitri, R.A., Sunarti, A., Parisudha, dan Herliyanti, Y. 2021. Kandungan Gizi dalam Minuman Kekinian “Boba Milk Tea”. Gorontalo Journal of Public Health. Vol. 4(1): 55–61.

Rosita, N. 2023. Analisis Kandungan Gula pada Minuman Kekinian Thai Tea, Milk Boba dan Ice Tea di UIN Jakarta. Journal of Natural Sciences. Vol. 4: (2).

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. 2019. Peraturan BPOM No. 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan Pemanis. Jakarta: BPOM.

Penulis : Sela Tabita Gabriella Fermundez

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Game Online Terhadap Tingkat Paparan Konten Bermuatan Radikalisme dan Toxic pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban
Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata
Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata
Ancaman di Balik Rutinitas Kerja: Mengungkap Risiko Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Modern
Fenomena Influencer Saham di Media Sosial dan Urgensi Perlindungan Hukum bagi Investor Pemula
Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:38 WIB

Ada Apa dengan Kandungan Boba? Analisis Pangan Mengungkap Fakta di Balik Minuman Favorit Masyarakat

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:52 WIB

Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Game Online Terhadap Tingkat Paparan Konten Bermuatan Radikalisme dan Toxic pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:56 WIB

Menguatkan Manajemen Risiko K3 di Proyek Gedung Bertingkat: Mencegah Bahaya Sebelum Menelan Korban

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:42 WIB

Bahaya Durasi Penggunaan Komputer di Tempat Kerja terhadap Kesehatan Mata

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:47 WIB

Di Balik Keindahan Pulau Bali: Problematika Akut Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Pariwisata

Berita Terbaru