Yogyakarta, Sorotnesia.com – Mahasiswa KKN-PPM 107 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) memasang plang sampah terurai di RT 02 Dusun Sembung, Minggu, (9/8/2026). Media edukasi sederhana tersebut dipasang untuk mendorong masyarakat mulai mengenali jenis sampah dan membangun kebiasaan memilah sampah sebelum membuangnya.
Pemasangan plang dilakukan di dekat pos ronda yang dinilai menjadi salah satu lokasi mudah terlihat dan sering dilewati masyarakat. Langkah tersebut dipilih setelah mahasiswa menemukan kondisi lingkungan RT 02 Dusun Sembung secara umum sudah cukup bersih dan terawat, tetapi pengelolaan sampah masih belum disertai pemilahan berdasarkan jenisnya.
Berdasarkan pengamatan mahasiswa, sampah yang berada di tempat penampungan berbentuk semen di sekitar pos ronda masih dikumpulkan dalam satu tempat. Sampah organik dan nonorganik belum dipisahkan sehingga belum terlihat adanya kebiasaan pemilahan antara sampah yang mudah terurai dan jenis sampah lainnya.
Kondisi itu kemudian menjadi perhatian mahasiswa KKN-PPM 107 UMBY. Alih-alih hanya mengandalkan sosialisasi yang berlangsung dalam waktu tertentu, mahasiswa memilih menghadirkan media visual yang dapat dilihat masyarakat secara berulang melalui pemasangan plang.
Plang tersebut memuat informasi sederhana mengenai jenis sampah serta perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk terurai. Informasi itu diharapkan membantu masyarakat memahami bahwa sampah memiliki karakteristik berbeda, termasuk perbedaan waktu penguraiannya.
Mahasiswa KKN-PPM 107 UMBY menilai keberadaan plang tidak dimaksudkan sebagai solusi instan terhadap persoalan pemilahan sampah. Media tersebut lebih diarahkan sebagai pengingat yang terus hadir di ruang publik sehingga masyarakat perlahan terbiasa memperhatikan jenis sampah sebelum membuangnya.
“Mahasiswa memilih plang sebagai media edukasi karena plang dapat menjadi pengingat yang bisa dilihat masyarakat secara terus-menerus, bukan hanya saat kegiatan sosialisasi berlangsung,” demikian penjelasan mahasiswa dalam hasil wawancara mengenai kegiatan tersebut.
Penempatan di dekat pos ronda menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Lokasi yang mudah terlihat diharapkan membuat informasi pada plang tidak berhenti sebagai materi kegiatan KKN, tetapi tetap dapat dijumpai masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Isi plang juga dibuat dalam bentuk informasi visual yang sederhana. Selain menampilkan jenis sampah, terdapat informasi mengenai perkiraan waktu yang diperlukan sampah untuk terurai. Penyajian tersebut ditujukan agar masyarakat tidak hanya memahami sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga mengenali karakteristik sampah yang dihasilkan.
Bukan Persoalan Lingkungan yang Kotor
Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah mahasiswa tidak menemukan kondisi lingkungan RT 02 Sembung yang digambarkan sebagai lingkungan kotor atau tidak terawat. Justru, lingkungan disebut sudah cukup bersih. Persoalan yang ditemukan lebih spesifik, yakni bagaimana sampah yang sudah dibuang dapat dikelola dengan lebih baik melalui pemilahan.
Temuan tersebut membuat pemasangan plang tidak semata-mata diarahkan untuk mengatasi sampah berserakan. Fokusnya adalah membangun kesadaran mengenai pemilahan dari tahap awal, yakni ketika masyarakat menentukan jenis sampah sebelum membuangnya.
Menurut mahasiswa, perubahan tersebut membutuhkan pembiasaan. Selama sampah masih dikumpulkan dalam satu tempat, masyarakat perlu membangun kebiasaan baru untuk memperhatikan jenis sampah yang dihasilkan.
Respons masyarakat terhadap pemasangan plang disebut cukup baik. Kegiatan dapat berlangsung dengan lancar dan mendapat dukungan dari lingkungan setempat.
Namun, mahasiswa mengakui tantangan utamanya bukan terletak pada pemasangan fisik plang, melainkan bagaimana pesan yang disampaikan dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan memilah sampah tidak serta-merta berubah hanya karena satu kegiatan. Karena itu, mahasiswa memandang plang sebagai salah satu instrumen pengingat yang dapat membantu proses perubahan tersebut berlangsung secara bertahap.
“Perubahan kebiasaan tentu membutuhkan proses dan tidak dapat dilihat secara langsung setelah satu kegiatan,” demikian penjelasan mahasiswa terkait keberlanjutan program tersebut.

Tantangan Ada pada Konsistensi
Pemilahan sampah pada dasarnya membutuhkan tindakan sederhana, tetapi dilakukan secara berulang. Dalam konteks RT 02 Sembung, tantangan yang diidentifikasi mahasiswa adalah membangun konsistensi karena sebelumnya sampah masih dikumpulkan dalam satu tempat.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat perlu mulai memperhatikan sampah yang hendak dibuang. Kebiasaan baru itu diharapkan tumbuh secara bertahap, bukan sekadar dilakukan ketika ada kegiatan KKN.
Keberadaan plang kemudian diposisikan sebagai pengingat visual. Setiap kali masyarakat melewati area pos ronda, informasi mengenai sampah terurai dapat kembali terlihat. Pola tersebut diharapkan membantu pesan tentang pemilahan sampah tetap berada dalam perhatian masyarakat meski kegiatan pemasangan telah selesai.
Pihak RT dan masyarakat memberikan respons positif terhadap kegiatan tersebut. Dukungan lingkungan setempat memungkinkan pemasangan plang berjalan dengan lancar.
Mahasiswa berharap media tersebut dapat memberikan manfaat dalam jangka lebih panjang. Pesan yang dibawa bukan hanya mengenai membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mengajak masyarakat memperhatikan jenis sampah sebelum membuangnya.
Dengan cara tersebut, masyarakat diharapkan mulai memahami bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada aktivitas membuang. Pemilahan menjadi bagian awal yang dapat dilakukan dari lingkungan rumah maupun ruang bersama.
Setelah KKN Selesai, Keberlanjutan Menjadi Kunci
Program pemasangan plang juga menyisakan persoalan keberlanjutan. Setelah masa KKN-PPM 107 UMBY berakhir, mahasiswa berharap pihak RT bersama masyarakat setempat dapat menjaga dan merawat plang yang telah dipasang.
Perawatan menjadi penting agar media edukasi tersebut tetap dapat digunakan dan tidak berhenti sebagai penanda kegiatan mahasiswa. Pesan yang tercantum di dalamnya diharapkan tetap dapat menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya mengenali dan memilah sampah.
Sementara itu, penerapan pemilahan sampah tetap bergantung pada kesadaran dan keterlibatan masyarakat. Mahasiswa tidak menyebut pemasangan plang sebagai penyelesaian persoalan pengelolaan sampah, melainkan sebagai salah satu langkah awal untuk mendorong perubahan kebiasaan.
Program tersebut menunjukkan pendekatan sederhana yang digunakan mahasiswa dalam merespons persoalan lingkungan di tingkat masyarakat. Ketika persoalan yang ditemukan bukan semata lingkungan yang kotor, tetapi belum terbentuknya kebiasaan memilah, edukasi ditempatkan pada ruang yang dapat dilihat berulang kali.
KKN-PPM 107 UMBY melalui kegiatan tersebut pada akhirnya menempatkan perubahan perilaku sebagai tujuan yang membutuhkan waktu. Plang menjadi pengingat, sementara keberhasilan program bergantung pada sejauh mana masyarakat kemudian menerapkan pesan tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
Kegiatan pemasangan plang sampah terurai dilaksanakan oleh 10 mahasiswa KKN-PPM 107 UMBY, yakni Adrian Pascal Sebayang dari Agroteknologi, Daffa Nauvan Pramudya dari Sistem Informasi, Dila Shinta Dewi dan Elsa Ermayani dari Manajemen, serta Nabila Desti Nur Aisah, Dilla Salma Alfira, Gini Nurul Fadhila, Y. Kingkin Mayang Chirstya Devi, Muhammad Yurcel Adiatama, dan Aswangga Dewa Putra Pradana dari Psikologi.
Kegiatan tersebut berada di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Ir. Putri Taqwa Prasetyanigrum, S.T., M.T., M. CE., M.CF.
Bagi mahasiswa, keberadaan plang di dekat pos ronda diharapkan tidak berhenti sebagai hasil fisik program KKN. Lebih dari itu, informasi mengenai sampah terurai diharapkan terus mengingatkan masyarakat bahwa perubahan pengelolaan sampah dapat dimulai dari tindakan sederhana: mengenali jenis sampah dan memilahnya sebelum dibuang.
Penulis : Rizka Amalia
Editor : Anisa Putri









