Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

- Redaksi

Selasa, 3 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi create by AI

Ilustrasi create by AI

Di era digital, scrolling media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Beragam konten, mulai dari hiburan hingga berita, hadir dalam satu ruang yang sama. Percampuran ini membuat hoaks semakin mudah menyelinap dan memicu kegaduhan. Salah satu fenomena yang perlu diwaspadai ialah tren timpa teks, yang semula berupa candaan, tetapi kini disalahgunakan untuk menyebarkan informasi menyesatkan.

Tren ini muncul di komunitas Facebook Timpa Teks: Singularity sebagai bentuk humor satir. Pengguna menimpa gambar atau video dengan kalimat absurd hingga menghasilkan meme. Biasanya, kualitas suntingan yang sengaja dibuat buruk menjadi ciri khasnya. Namun, ketika gambar diedit terlalu rapi, batas antara candaan dan informasi asli semakin sulit dikenali.

Tidak semua suntingan rapi bertujuan menipu. Namun, kasus poster kajian Mamah Dedeh yang beredar di TikTok dan X menunjukkan bagaimana manipulasi visual dapat mengecoh publik. Lokasi acara dalam poster tersebut diubah menjadi Masjid Agung Kota Tasikmalaya, dengan tanggal 20 Juli 2026. Sejumlah orang dilaporkan terkecoh dan mendatangi lokasi, lalu mendapati bahwa informasi yang mereka percaya ternyata hasil keisengan pengguna internet.

Baca Juga :  Gunung Tak Membutuhkan Pendaki Pintar, Melainkan yang Beretika

Masalahnya, format timpa teks kini berpotensi melampaui lingkaran humor dan menjangkau platform terbuka seperti TikTok dan Instagram. Teks provokatif yang ditempelkan pada gambar atau video dapat mengubah persepsi penonton. Bahkan, generasi muda yang akrab dengan teknologi pun tidak kebal terhadap manipulasi semacam ini.

Dalam wawancara singkat dengan sesama mahasiswa, mayoritas mengaku perhatian mereka langsung tertuju pada teks tebal di tengah layar hingga memicu reaksi emosional. Temuan kecil ini sejalan dengan penelitian Gordon Pennycook dan David Rand dalam jurnal Cognition (2018), yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir analitis berkaitan dengan kemampuan membedakan berita palsu, terlepas dari afiliasi politik seseorang.

Dampak manipulasi visual semakin serius ketika pengguna bereaksi sebelum memeriksa kebenaran informasi. Teks bermuatan politik, suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), atau kepanikan sosial dapat memancing kemarahan dan mendorong orang segera menekan tombol share. Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) mencatat 1.593 kasus hoaks sepanjang 21 Oktober 2024 hingga 17 Oktober 2025. Sebanyak 48,1 persen di antaranya bertema politik.

Baca Juga :  Kreatif dengan Canva, Siswa SMP PGRI 03 Wonosari Belajar Promosikan Pariwisata Desa Sumberdem

Menghadapi ancaman ini, literasi digital perlu melampaui kemampuan menggunakan aplikasi atau mengenali berita palsu yang sudah diberi label. Masyarakat perlu membangun kebiasaan memeriksa informasi secara mandiri, termasuk menelusuri sumber asli dan membandingkannya dengan sumber tepercaya.

Salah satu langkah sederhana ialah menerapkan jeda tiga detik sebelum membagikan konten. Gunakan waktu itu untuk membaca konteks, memeriksa komentar secara kritis, dan meredakan emosi sebelum bereaksi. Candaan di media sosial mungkin tampak sepele, tetapi ketika manipulasi dibungkus dalam format yang akrab, dampaknya bisa meluas. Di tengah derasnya arus informasi, nalar kritis menjadi benteng agar kita tidak tanpa sadar ikut menyebarkan kepanikan dan kebohongan.

Penulis : Irgan Arandia Putra Rustandi

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya
Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus
Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen
Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal
Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas
Esensi Pendidikan Politik: Membangun Keadilan dan Kepentingan Umum di Era Digital
Media Sosial dan Opini Publik: Bagaimana Perhatian Masyarakat Memengaruhi Kebijakan Publik?
Mengapa Pandangan Politik Masyarakat Bisa Berbeda? Memahami Budaya Politik dalam Kehidupan Sehari-hari

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 07:07 WIB

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:57 WIB

Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal

Berita Terbaru

Ilustrasi create by AI

Opini

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Selasa, 3 Nov 2026 - 07:07 WIB

Ilustrasi create by AI

Esai

Chat Tak Terbalas, Mengapa Kita Merasa Diabaikan?

Senin, 2 Nov 2026 - 22:04 WIB