BNPL: Inovasi Finansial atau Jeratan Riba?

- Redaksi

Kamis, 26 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi belanja dulu, bayar belakangan. (pinterest.com)

Ilustrasi belanja dulu, bayar belakangan. (pinterest.com)

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk dalam hal berbelanja. Belanja online kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Dari kebutuhan pokok hingga barang mewah, semuanya bisa didapat hanya dalam hitungan detik melalui layar smartphone. Di tengah kemudahan ini, salah satu fitur yang paling digemari adalah Buy Now Pay Later (BNPL) atau “beli sekarang, bayar belakangan”.

Secara praktis, BNPL menawarkan kemudahan. Konsumen dapat langsung menikmati produk atau layanan tanpa harus membayar lunas di awal. Pembayaran bisa dicicil dalam beberapa bulan, bahkan tanpa menggunakan kartu kredit. Namun, di balik kenyamanan tersebut, muncul pertanyaan mendasar, terutama bagi umat Muslim: apakah skema BNPL ini sejalan dengan prinsip-prinsip syariah Islam?

Di Balik Kemudahan, Ada Hutang

Secara substansi, BNPL adalah bentuk transaksi utang-piutang. Konsumen menerima produk terlebih dahulu dan membayar kemudian. Dalam perspektif Islam, utang (qardh) adalah bentuk tolong-menolong yang mengandung nilai sosial. Oleh karena itu, Islam melarang keras adanya tambahan keuntungan dari praktik utang, baik berupa bunga, denda keterlambatan, maupun biaya tersembunyi lainnya.

Baca Juga :  Sinergi Fintech Syariah dan Ekonomi Kreatif: Jalan Baru Ekonomi Berkeadilan

Islam sangat tegas dalam persoalan riba. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah [2]: 275)

Ayat ini menjadi landasan utama dalam menilai keabsahan suatu transaksi finansial. Dalam konteks BNPL, apabila terdapat tambahan apa pun dari pokok utang, maka hal tersebut dikategorikan sebagai riba, yang jelas dilarang dalam Islam, meskipun jumlahnya kecil atau telah disepakati sebelumnya.

Apakah Semua BNPL Dilarang?

Penting untuk menegaskan bahwa tidak semua layanan BNPL otomatis haram. Terdapat beberapa penyedia layanan yang menawarkan skema tanpa bunga, tanpa penalti, dan tanpa biaya tersembunyi. Dalam kondisi semacam ini, selama akadnya jelas dan tidak ada unsur spekulatif, transaksi tersebut bisa dianggap sesuai dengan prinsip keuangan syariah.

Namun kenyataannya, model seperti ini masih sangat jarang. Mayoritas layanan BNPL, baik lokal maupun global, menerapkan sistem bisnis berbasis bunga atau imbal jasa yang tidak transparan. Bahkan, tidak sedikit yang mengenakan penalti cukup besar jika konsumen telat membayar. Situasi ini menjadi perhatian serius para ulama kontemporer dan lembaga fatwa.

Dalam Fatwa DSN-MUI No. 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah, dinyatakan bahwa setiap transaksi keuangan digital harus menghindari unsur riba, gharar (ketidakjelasan), dan maysir (spekulasi). Selain itu, harus menjunjung asas keadilan, keterbukaan, dan keberkahan.

Baca Juga :  Hubungan Mahasiswa dan Masyarakat

Bijak Menyikapi Inovasi Digital

Hidup di era teknologi membuat umat Islam tak mungkin menolak kemajuan, termasuk dalam hal inovasi finansial. Namun, kita dituntut untuk lebih cerdas dan bijaksana. Jangan sampai tergoda oleh kemudahan yang justru menjebak dalam lilitan utang yang tidak berkah. Apalagi jika skema yang digunakan ternyata bertentangan dengan ajaran agama.

Maka dari itu, sebelum memanfaatkan layanan BNPL, sangat penting untuk membaca dengan saksama syarat dan ketentuan yang berlaku. Tanyakan: apakah ada biaya tambahan? Apakah skemanya transparan? Apakah mengandung unsur riba? Jika masih ada keraguan, sebaiknya tinggalkan dan cari alternatif yang lebih aman secara syar’i.

Islam tidak pernah menolak inovasi. Justru, Islam sangat mendorong perkembangan teknologi dan ekonomi, selama tetap berpijak pada prinsip moral, keadilan, dan keberkahan. Sebab pada akhirnya, keberkahan dalam harta jauh lebih berharga dibanding kemudahan sesaat yang bisa menjerumuskan.

Penulis : Syifa Najwa Salmah | Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya
Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus
Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen
Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal
Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas
Esensi Pendidikan Politik: Membangun Keadilan dan Kepentingan Umum di Era Digital
Media Sosial dan Opini Publik: Bagaimana Perhatian Masyarakat Memengaruhi Kebijakan Publik?
Mengapa Pandangan Politik Masyarakat Bisa Berbeda? Memahami Budaya Politik dalam Kehidupan Sehari-hari

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:57 WIB

Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas

Berita Terbaru