Diskon sering dijadikan andalan dalam strategi pemasaran di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat dan daya beli masyarakat yang cenderung tidak menentu. Harga diskon dapat menarik pelanggan dalam situasi ekonomi yang tidak stabil.
Siapa sih yang tidak mau dapat diskon? Slogan seperti diskon sepuluh persen, beli satu gratis satu, atau promo akhir pekan sukses mendorong pelanggan untuk melakukan pembelian. Dorongan psikologis yang kuat, membuat mereka merasa untung karena diskon dianggap bisa menghemat pengeluaran.
Bagi pelaku usaha, diskon dapat membantu mengurangi stok produk yang menumpuk dan mempercepat perputaran modal. Diskon juga terbukti efektif untuk memperkenalkan produk baru kepada pelanggan agar produk tersebut lebih mudah diterima di pasaran. Namun, apakah pelaku usaha tidak akan rugi jika terus menerus memberikan harga diskon?
Diskon yang berlebihan tentu bisa mengurangi keuntungan. Pemberian harga diskon secara terus menerus akan mempengaruhi pelanggan tentang nilai produk tersebut. Pelanggan akan berpikir jika produk yang sama selalu diskon, mungkin saja produknya kurang berkualitas dan kurang diminati di pasaran. Oleh karena itu, harga diskon perlu ditentukan waktunya. Hari raya, akhir tahun, hari jadi usaha merupakan waktu yang tepat untuk memberikan harga diskon kepada pelanggan.
Diskon beli satu gratis satu menjadi salah satu diskon yang paling diminati pelanggan. Ini tentu saja karena pelanggan merasa lebih untung, membayar seharga satu barang, tetapi mendapatkan dua barang. Diskon satu gratis satu berarti barang yang terjual sebanyak dua, tetapi pendapatan yang diterima hanya seharga satu barang. Apakah pelaku usaha tidak rugi? Ini tentu harus dengan perhitungan yang matang.
Harga satu barang yang terjual seharusnya bisa memberikan keuntungan untuk dua barang. Tetapi tidak selalu seperti itu, karena diskon ini lebih cocok untuk mempromosikan barang yang sudah lama atau hampir kadaluwarsa, sehingga produk dapat terjual dan meminimalisasi kerugian meskipun keuntungannya tipis.
Dalam penerapannya, stok barang akan lebih cepat ludes. Oleh karena itu, pelaku usaha bisa memberi batasan, misalnya hanya untuk satu kali pembelian agar barang lebih luas penyebarannya dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
Di era yang serba digital ini, penerapan harga diskon lebih mudah melalui media sosial. Informasi diskon dapat dengan cepat menyebar dan menjangkau banyak pelanggan. Hal ini tentu menjadi peluang emas untuk pelaku usaha meningkatkan penjualannya. Namun, diskon bukan semata-mata untuk menurunkan harga dan meningkatkan penjualan.
Nilai produk di mata konsumen perlu diperhatikan. Oleh karena itu, pelaku usaha harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum menerapkan diskon. Target pasar yang tepat, minim saingan, serta harus tetap memperoleh keuntungan.
Pada akhirnya, strategi harga diskon mampu meningkatkan penjualan, tetapi sangat bergantung dengan cara penerapannya. Jika dilakukan secara terstruktur, maka diskon menjadi strategi yang sangat efektif untuk meningkatkan penjualan.
Sebaliknya jika dilakukan tanpa perhitungan, diskon justru berisiko menurunkan nilai usaha itu sendiri, rugi dong!. Maka dari itu, pelaku usaha perlu mengatur harga diskon dengan cermat dan tidak sekadar tergoda oleh peningkatan penjualan sesaat.
Penulis : Khaerin Amalia | Prodi Akuntansi | Universitas Peradaban
Editor : Anisa Putri









