Sarjana Muslim di Tengah Tantangan Dunia Kerja

- Redaksi

Senin, 30 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua profesional sedang bekerja bersama dengan penuh fokus, mencerminkan etos kerja yang terencana, terstruktur, dan produktif sebagaimana diajarkan dalam Islam. Foto: Pexels/Mikhail Nilov

Dua profesional sedang bekerja bersama dengan penuh fokus, mencerminkan etos kerja yang terencana, terstruktur, dan produktif sebagaimana diajarkan dalam Islam. Foto: Pexels/Mikhail Nilov

Di tengah harapan besar masyarakat terhadap pendidikan tinggi, banyak sarjana Muslim saat ini mendambakan agar ijazah yang diperoleh bisa menjadi kunci pembuka gerbang pekerjaan. Namun realitas berkata lain: ijazah saja tidak cukup.

Tanpa disertai etos kerja Islami yang kokoh, gelar akademik cenderung kehilangan nilai praktisnya. Tidak sedikit lulusan yang akhirnya merasa kecewa karena realitas dunia kerja tidak seindah bayangan semasa kuliah.

Dokumen kelulusan seperti ijazah atau sertifikat memang bisa menjadi modal awal untuk menapaki dunia profesional. Tetapi itu hanya awal. Dunia kerja yang kompetitif menuntut lebih dari sekadar bukti akademik; ia membutuhkan keterampilan, tanggung jawab, keuletan, dan ketangguhan mental.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika lulusan tidak memiliki bekal keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri, maka ketimpangan pun terjadi. Akibatnya, angka pengangguran terdidik semakin tinggi dan menjadi beban sosial yang bisa mengganggu stabilitas bangsa.

Lebih jauh lagi, kondisi ini membuka refleksi bahwa akar masalah pengangguran kerap datang dari individu itu sendiri. Banyak generasi muda, termasuk lulusan universitas, yang tidak siap menghadapi kenyataan bahwa dunia kerja menuntut kesiapan mental dan kemampuan adaptasi. Oleh karena itu, etos kerja Islami perlu dipahami bukan hanya sebagai tuntutan zaman, tapi juga bagian dari nilai-nilai fundamental Islam.

Seorang sarjana Muslim tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, melainkan harus peka terhadap kondisi sosial sekitarnya. Pendidikan idealnya membentuk pribadi yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga :  Menghapus Batas, Menguatkan Empati: Membangun Pendidikan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Sarjana sejati adalah mereka yang tidak sekadar mencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja. Bukan hanya unggul dalam kompetisi akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi di tengah persoalan sosial masyarakat seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, dan pengangguran.

Masalah sosial seperti ini semestinya menjadi panggilan bagi para lulusan Muslim untuk berkontribusi secara nyata. Di sinilah pentingnya memperkuat peran sosial lulusan perguruan tinggi Islam dalam menghidupkan kembali semangat zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen kesejahteraan umat. Bukan sekadar konsep teoritis, tetapi menjadi gerakan nyata yang terstruktur dan berkelanjutan.

Islam sangat menekankan pentingnya bekerja. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan ibadah secara ritual, tapi juga mendorong umatnya untuk aktif, produktif, dan berkontribusi. Malas dan ketergantungan adalah sifat yang tidak mendapat tempat dalam ajaran Islam.

Sebagaimana Allah SWT telah menetapkan manusia sebagai khalifah fil ardi pemimpin di muka bumi yang bertanggung jawab mengelola segala potensi alam demi kemaslahatan bersama.

Al-Qur’an dengan jelas memberikan panduan hidup seimbang antara ibadah dan kerja. Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10, Allah berfirman:

اِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”

Ayat ini mencerminkan keselarasan hidup dalam Islam: setelah menjalankan ibadah, manusia dianjurkan untuk bekerja dan mencari rezeki yang halal sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan kontribusi kepada masyarakat.

Baca Juga :  Ketimpangan Hukum di Indonesia: Antara Idealitas dan Realitas

Pepatah menyatakan: “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati esok hari.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kerja dan ibadah bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari ketaatan seorang Muslim.

Etos kerja Islami harusnya bisa menjadi roh dalam membangun karakter bangsa. Perpaduan antara semangat individu dan semangat kolektif ini akan menjadi kekuatan besar. Terutama bagi generasi muda mereka bukan sekadar pewaris kejayaan masa lalu, tetapi juga penentu kejayaan masa depan.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Ahmad Syauqi, “Sebaik-baik manusia adalah yang memiliki kejayaan masa lalu, namun mampu menciptakan kejayaan baru di masa mendatang.”

Maka dari itu, mari kita jadikan gelar sarjana bukan sekadar status sosial, tetapi sebagai tanggung jawab moral. Jangan hanya menjadi ahli teori, tapi jadilah pelaku perubahan. Teruslah berikhtiar, tekuni proses dengan sungguh-sungguh, dan hiduplah mandiri dengan prinsip-prinsip Islam yang kokoh.

Kini saatnya sarjana Muslim bangkit. Tidak hanya tampil cemerlang dalam transkrip nilai, tetapi juga hadir secara nyata di tengah umat dengan solusi dan aksi. Dunia kerja tidak membutuhkan orang pintar yang pasif, tetapi individu yang tangguh dan berdampak. Sebab Islam menanti generasi baru yang bukan sekadar terdidik, tapi juga menginspirasi dan menebar manfaat.

Penulis : Ahmad Mulyadi | Mahasiswa jurusan Perbandingan Mazhab Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan
Inflasi Terkendali, Daya Beli Menyusut: Realitas yang Terlewat dari Narasi Resmi
Pasal Zina dalam KUHP Baru: Di Mana Posisi Keadilan Menurut Islam?
Korupsi dan Merosotnya Akuntabilitas dalam Praktik Kekuasaan
Persinggungan Hukum Pidana dan Perdata Internasional dalam Perlindungan TKI Indonesia di Luar Negeri: Pelajaran dari Kasus Satinah binti Jumadi Ahmad
Arduino dan Demokratisasi Inovasi Teknologi Elektro
Mahasiswa dan Tanggung Jawab Menjaga Nilai Pancasila di Daerah
Mahasiswa UNS Dukung Pembelajaran di Sekolah Indonesia Singapura lewat Pengajaran Lintas Bidang

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 07:21 WIB

Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan

Selasa, 13 Januari 2026 - 10:35 WIB

Inflasi Terkendali, Daya Beli Menyusut: Realitas yang Terlewat dari Narasi Resmi

Jumat, 9 Januari 2026 - 20:30 WIB

Pasal Zina dalam KUHP Baru: Di Mana Posisi Keadilan Menurut Islam?

Minggu, 4 Januari 2026 - 13:51 WIB

Korupsi dan Merosotnya Akuntabilitas dalam Praktik Kekuasaan

Jumat, 2 Januari 2026 - 17:59 WIB

Persinggungan Hukum Pidana dan Perdata Internasional dalam Perlindungan TKI Indonesia di Luar Negeri: Pelajaran dari Kasus Satinah binti Jumadi Ahmad

Berita Terbaru

Ilustrasi foto perpustakaan. Sumber: perpustakaan.unimed.ac.id

Opini

Terbitan Berseri dan Ingatan Pengetahuan yang Terabaikan

Minggu, 18 Jan 2026 - 07:21 WIB