Tantangan Literasi Keuangan pada Generasi Muda dalam Menghadapi Perubahan Ekonomi Global

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perubahan ekonomi global bergerak cepat dan sering kali terasa rumit, terutama bagi generasi muda yang sedang berada di fase awal mengelola keuangan sendiri. Fluktuasi nilai tukar, dinamika pasar internasional, hingga kehadiran teknologi keuangan atau fintech mengubah cara orang berbelanja, menabung, dan berinvestasi. Di satu sisi, kemudahan ini membuka banyak peluang. Di sisi lain, tanpa pemahaman yang cukup, justru memunculkan risiko baru.

Sayangnya, tingkat literasi keuangan generasi muda masih tergolong rendah. Banyak anak muda kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan, atau belum terbiasa menyusun rencana keuangan jangka panjang. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terjebak utang konsumtif dan kesulitan membangun tabungan.

Pandemi COVID-19 turut mempercepat peralihan ke ekonomi digital, menciptakan ketidakpastian pendapatan sekaligus memperluas akses ke layanan keuangan instan. Situasi ini menegaskan bahwa pemahaman keuangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar agar generasi muda mampu beradaptasi di tengah perubahan ekonomi yang tidak menentu.

Kerentanan Generasi Muda dalam Pengambilan Keputusan Keuangan

Kemajuan teknologi keuangan memang memudahkan hidup. Cukup dengan ponsel, transaksi bisa dilakukan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini juga membawa godaan. Promosi agresif, fitur paylater, dan tekanan media sosial memicu perilaku belanja impulsif serta rasa takut ketinggalan tren atau FOMO. Generasi Z, yang sangat akrab dengan dompet digital, sering kali tidak menyadari bahwa transaksi kecil yang berulang dapat menumpuk menjadi beban utang.

Baca Juga :  Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Melalui Literasi Keuangan: Kolaborasi GenBI UNRI dan Ibu-ibu PKK

Dalam kajian keuangan perilaku, kepuasan sesaat kerap mengalahkan manfaat jangka panjang. Teori perilaku terencana menjelaskan bahwa keputusan finansial dipengaruhi oleh sikap, norma sosial, dan kemampuan mengendalikan diri.

Lingkungan digital yang penuh dorongan konsumsi membuat pengendalian diri menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, teori siklus hidup menunjukkan bahwa konsumsi berlangsung sepanjang kehidupan, tetapi generasi muda cenderung lebih fokus menikmati saat ini dibandingkan menyiapkan masa depan, termasuk dana pensiun.

Di sinilah peran kepercayaan diri finansial atau self-efficacy menjadi penting. Anak muda yang yakin dengan kemampuannya mengelola uang cenderung lebih rasional dalam mengambil keputusan. Mereka lebih berhati-hati sebelum berutang dan lebih konsisten menabung, meski penghasilan belum besar.

Dampak Perubahan Ekonomi Global terhadap Pola Pengelolaan Keuangan Generasi Muda

Ekonomi global yang saling terhubung membuat guncangan di satu negara cepat terasa di negara lain. Perubahan suku bunga, inflasi, dan nilai tukar memengaruhi biaya hidup dan akses pinjaman, termasuk bagi generasi muda. Ketika ekonomi global melambat, risiko pengangguran meningkat dan kesempatan menabung atau berinvestasi jangka panjang menjadi lebih terbatas.

Baca Juga :  STEP CUP 2025: Turnamen Mobile Legends Dorong Semangat Kompetitif dan Sportivitas Generasi Muda Yogyakarta

Di saat yang sama, transformasi digital menghadirkan semakin banyak pilihan produk keuangan. Aplikasi investasi, pinjaman daring, hingga aset digital menawarkan kemudahan, tetapi juga menambah kompleksitas pengambilan keputusan. Tanpa literasi yang memadai, generasi muda bisa salah langkah dan terjebak dalam pola konsumtif yang merugikan.

Upaya Peningkatan Literasi Keuangan Generasi Muda dalam Menghadapi Perubahan Ekonomi Global

Pendidikan keuangan sejak dini menjadi fondasi penting. Pembelajaran tentang anggaran, menabung, dan pengelolaan utang di sekolah maupun perguruan tinggi terbukti membantu membentuk kebiasaan keuangan yang lebih sehat. Selain itu, program berbasis komunitas dapat menjadi ruang belajar praktis, terutama dalam menyikapi pinjaman digital dan risiko finansial sehari-hari.

Literasi keuangan digital juga perlu diperkuat. Generasi muda tidak hanya perlu tahu cara menggunakan fintech, tetapi juga memahami manfaat, risiko, dan konsekuensinya. Ketika literasi keuangan, pemahaman teknologi, dan kepercayaan diri finansial berjalan beriringan, generasi muda akan lebih siap membangun ketahanan finansial di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.

Penulis : Septia Anisa Putri | S1 Akuntansi | Fakultas Ekonomi dan Bisnis | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Intan Permata

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:21 WIB

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:57 WIB

Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Berita Terbaru