Enrique Justine Sun Kutuk Dugaan Diskriminasi terhadap Calon Paskibraka Nasional Asal Makassar

- Redaksi

Senin, 25 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Tokoh muda Tionghoa sekaligus aktivis kepemudaan, Enrique Justine Sun. Doc. Istimewa

Foto Tokoh muda Tionghoa sekaligus aktivis kepemudaan, Enrique Justine Sun. Doc. Istimewa

Makassar, Sorotnesia.com – Tokoh muda Tionghoa sekaligus aktivis kepemudaan, Enrique Justine Sun, mengutuk keras dugaan tindakan diskriminasi dan rasisme yang dialami Cathlyn, calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional asal Makassar, Sulawesi Selatan. Dugaan pengguguran yang dikaitkan dengan latar belakang etnis dinilai mencederai semangat keberagaman dan persatuan bangsa.

Menurut Enrique, apabila dugaan tersebut terbukti benar, maka persoalan itu bukan sekadar polemik dalam proses seleksi Paskibraka Nasional. Ia menilai, kasus tersebut menjadi cerminan kegagalan negara dalam menjamin kesetaraan hak warga negara tanpa membedakan suku maupun ras.

“Ini bukan masalah kecil. Jika benar ada unsur diskriminasi rasial dalam proses seleksi calon Paskibraka Nasional, maka ini adalah penghinaan terhadap nilai Pancasila dan pengkhianatan terhadap semangat Bhineka Tunggal Ika. Kami mengutuk keras segala bentuk rasisme yang masih terjadi di negeri ini,” kata Enrique dalam keterangannya.

Ia menegaskan, tidak boleh ada anak bangsa yang diperlakukan berbeda hanya karena memiliki latar belakang etnis tertentu. Menurut dia, Indonesia dibangun atas prinsip kebersamaan dan keberagaman, bukan dominasi kelompok tertentu.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN UNS Ciptakan Sensor Pendeteksi Api Sederhana untuk Warga Dukuh Sosogan

“Cukup tindakan diskriminasi etnis terjadi di era gelap masa lalu. Indonesia hari ini harus berdiri sebagai bangsa yang adil, setara, dan menghormati keberagaman. Jangan biarkan generasi muda kehilangan masa depan hanya karena perbedaan identitas dan latar belakang,” ujarnya.

Enrique menilai, dugaan diskriminasi rasial dalam proses seleksi nasional berpotensi menimbulkan luka sosial di tengah masyarakat apabila tidak segera ditangani secara terbuka dan transparan. Karena itu, ia mendesak pemerintah pusat untuk turun tangan menyelidiki persoalan tersebut.

Ia meminta Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), kementerian terkait, hingga Presiden Republik Indonesia mengambil langkah konkret guna memastikan proses seleksi berjalan adil dan bebas diskriminasi.

“Kami meminta Pemerintah Pusat untuk tidak tutup mata. Jangan sampai publik menilai negara lemah terhadap praktik diskriminasi dan rasisme. Harus ada investigasi terbuka, transparan, dan independen agar kebenaran dapat diungkap secara jelas,” tutur Enrique.

Lebih lanjut, Enrique menegaskan bahwa generasi muda membutuhkan ruang yang adil untuk berkembang dan berprestasi. Ia mengingatkan, pembiaran terhadap dugaan tindakan rasis hanya akan merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Baca Juga :  Kakesbangpol Buka Musda VI LDII Trenggalek, Apresiasi Peran Ormas Islam dalam Pembangunan Daerah

“Kalau benar seorang anak bangsa digugurkan karena identitas etnisnya, maka itu adalah kemunduran besar bagi Indonesia. Negara harus hadir, bukan diam. Pemerintah wajib memastikan bahwa seluruh proses seleksi nasional bebas dari diskriminasi dalam bentuk apa pun,” katanya.

Kasus ini, lanjut Enrique, seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen nasional terhadap nilai persatuan dan toleransi. Ia berharap seluruh pihak dapat menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa, bukan sumber perpecahan.

Menurut dia, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus dijaga dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa, termasuk dalam proses seleksi yang melibatkan generasi muda.

“Perbedaan bukan ancaman bagi bangsa ini. Justru keberagaman adalah kekuatan Indonesia. Jangan biarkan rasisme hidup di negeri yang dibangun atas semangat persaudaraan,” ucap Enrique menutup pernyataannya.

Dugaan kasus ini kini menjadi perhatian publik dan memunculkan sorotan terhadap pentingnya transparansi dalam proses seleksi Paskibraka Nasional. Sejumlah pihak berharap polemik tersebut dapat diselesaikan secara objektif agar tidak memicu keresahan sosial yang lebih luas.

Penulis : Erik Pratama

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Semangat Waisak 2570, PERMABUDHI Sulsel Gelar Donor Darah Kemanusiaan di Vihara Sasanadipa
Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan Pemkab Nganjuk
Rapimnas 2026, LDII Siapkan Munas dan Selaraskan Program dengan Asta Cita
Kejati Jatim Bekali 1.000 Lebih Calon Juru Dakwah LDII dengan Penangkalan Radikalisme dan Intolerasi Beragama
Kakesbangpol Buka Musda VI LDII Trenggalek, Apresiasi Peran Ormas Islam dalam Pembangunan Daerah
UKM UK3 UTM Tekankan Transformasi Diri dan Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan dalam Perayaan Natal 2025
Hukum Poligami Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanafi
Peringatan Maulid Nabi di Masjid Besar Al-Falah Rowokangkung, 700 Jamaah Hadir dan Suasana Penuh Kekhidmatan

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 22:53 WIB

Enrique Justine Sun Kutuk Dugaan Diskriminasi terhadap Calon Paskibraka Nasional Asal Makassar

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:52 WIB

Semangat Waisak 2570, PERMABUDHI Sulsel Gelar Donor Darah Kemanusiaan di Vihara Sasanadipa

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:52 WIB

Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan Pemkab Nganjuk

Senin, 16 Februari 2026 - 19:42 WIB

Rapimnas 2026, LDII Siapkan Munas dan Selaraskan Program dengan Asta Cita

Kamis, 29 Januari 2026 - 20:12 WIB

Kejati Jatim Bekali 1.000 Lebih Calon Juru Dakwah LDII dengan Penangkalan Radikalisme dan Intolerasi Beragama

Berita Terbaru

Opini

Terorisme dan Ancaman Nyata bagi Kehidupan Bangsa

Senin, 25 Mei 2026 - 23:28 WIB