Pacitan, Sorotnesia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 100 periode Januari–Februari 2026 berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pacitan menggelar edukasi dan pendampingan pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Sanggrahan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Kamis (5/2/2026).
Kegiatan ini menyasar ibu-ibu PKK dan perangkat desa sebagai motor penggerak tata kelola lingkungan di tingkat permukiman. Edukasi tersebut menjadi langkah awal membangun kesadaran kolektif warga terkait pentingnya sistem pengelolaan sampah yang terencana dan berkelanjutan.
Desa Sanggrahan hingga kini belum memiliki sistem Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) yang terkelola secara terstruktur. Kondisi itu berpotensi menurunkan kualitas kebersihan lingkungan serta meningkatkan risiko pencemaran tanah dan air apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang tepat.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T UNS bersama DLH Pacitan mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena menekankan tanggung jawab individu sebelum sampah memasuki sistem pengumpulan.

Pemaparan materi dari Dinas Lingkungan Hidup oleh Surosurawan. Foto: Dokumentasi Pribadi KKN-T UNS Kelompok 100Pemaparan materi dari Dinas Lingkungan Hidup oleh Surosurawan. Foto: Dokumentasi Pribadi KKN-T UNS Kelompok 100
Materi edukasi disampaikan oleh Surosurawan, perwakilan DLH Kabupaten Pacitan. Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar aktivitas membuang limbah, melainkan bagian dari sebuah sistem yang harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari.
“Sampah bukan hanya soal tempat pembuangan. Apa yang kita lakukan sejak dari rumah menentukan bagaimana sampah itu dikelola kemudian. Dengan memilah sejak awal, kita mempermudah proses pengumpulan dan pengolahan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Surosurawan di hadapan peserta.
Menurut dia, pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah merupakan langkah sederhana namun krusial dalam mengurangi beban lingkungan. Kebiasaan tersebut sekaligus memperpanjang usia tempat pembuangan akhir karena volume sampah yang masuk dapat ditekan.
Ia juga menekankan bahwa TPS perlu dipahami bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebagai sistem pengelolaan terpadu. Sistem itu mencakup proses pemilahan, pengumpulan, penyimpanan sementara, hingga pengangkutan. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, infrastruktur yang dibangun tidak akan berjalan optimal.
Selain pemaparan materi, kegiatan diisi dengan diskusi interaktif yang difasilitasi mahasiswa KKN-T UNS Kelompok 100. Sebelum diskusi dimulai, peserta diajak mengikuti ice breaking berupa Tepuk 3R dengan yel-yel “Dikurangi! Pakai lagi! Daur ulang! Lingkungan jadi bersih, yes!” Suasana yang cair membuat peserta lebih aktif terlibat dalam sesi tanya jawab.

Dalam forum tersebut, peserta merefleksikan kebiasaan pengelolaan sampah sehari-hari di lingkungan masing-masing. Sejumlah gagasan sederhana mengemuka, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai, hingga merencanakan sistem pengumpulan sampah berbasis RT.
Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap kebersihan lingkungan. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memfasilitasi proses perumusan langkah nyata yang dapat diterapkan warga setelah kegiatan berakhir.
Program ini diprakarsai oleh Novita Nanda Sari selaku penanggung jawab kegiatan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Djoko Nugroho, S.Pd., M.Or. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kontribusi KKN-T UNS Kelompok 100 dalam mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui edukasi dan pendampingan ini, masyarakat Desa Sanggrahan diharapkan semakin memahami bahwa pengelolaan sampah rumah tangga merupakan fondasi terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk membangun sistem yang berkelanjutan di tingkat desa.
Penulis : Novita Nanda Sari | KKN-T UNS Kelompok 100 Periode Januari–Februari 2026
Editor : Fadli Akbar









