Surakarta, Sorotnesia.com – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui program KIPSMARTS (KIP-K Sebelas Maret Road to School). Program ini menjadi upaya konkret dalam menyebarluaskan informasi terkait KIP Kuliah, sekaligus mendukung pencapaian SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas).
Di tengah masih adanya kesenjangan akses pendidikan tinggi, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu, keberadaan informasi yang akurat dan mudah diakses menjadi kunci. Banyak siswa yang sebenarnya berpotensi melanjutkan pendidikan, namun terhambat minimnya pemahaman mengenai program bantuan seperti KIP Kuliah. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa UNS menghadirkan KIPSMARTS sebagai jembatan informasi yang menyasar langsung siswa di tingkat SMA/SMK/MA/sederajat.
Program KIPSMARTS 2026 dirancang secara sistematis, dimulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan lapangan. Pada tahap awal, panitia melakukan pembentukan tim, penyusunan konsep kegiatan, serta koordinasi intensif dengan sekolah-sekolah sasaran. Materi sosialisasi disusun dengan pendekatan komunikatif agar mudah dipahami oleh siswa, sekaligus relevan dengan kebutuhan mereka dalam merencanakan pendidikan tinggi.
Kegiatan inti berlangsung sepanjang Januari hingga Februari 2026. Dalam periode tersebut, tim KIPSMARTS melakukan sosialisasi langsung ke berbagai sekolah di sejumlah daerah. Berdasarkan data panitia, program ini berhasil menjangkau 266 sekolah dengan total peserta mencapai 57.656 siswa.
Dalam setiap sesi, mahasiswa menyampaikan informasi komprehensif mengenai KIP Kuliah, mulai dari manfaat program, persyaratan administrasi, alur pendaftaran, hingga strategi mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif, disertai sesi diskusi terbuka yang memberi ruang bagi siswa untuk bertanya secara langsung.
Respon peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Banyak siswa aktif mengajukan pertanyaan, terutama terkait peluang lolos seleksi dan teknis pendaftaran. Tingginya partisipasi ini menjadi indikator bahwa kebutuhan informasi terkait akses pendidikan masih sangat besar.

Tak hanya memberikan pemahaman teknis, KIPSMARTS juga membawa dampak psikologis bagi siswa. Program ini mendorong tumbuhnya motivasi untuk melanjutkan pendidikan, bahkan di tengah keterbatasan ekonomi. Bagi sebagian siswa, informasi yang disampaikan membuka perspektif baru bahwa kuliah bukan lagi hal yang mustahil.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, panitia menggelar Grand Closing pada Minggu, 8 Maret 2026. Acara tersebut dihadiri Direktur Direktorat Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir. Joko Sutrisno, M.P., yang secara resmi menutup program KIPSMARTS tahun ini.
Dalam sambutannya, Joko Sutrisno mengapresiasi kerja keras panitia dan tim sosialisator. Ia menilai program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan literasi pendidikan, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam pembangunan nasional.
“Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Melalui kegiatan seperti KIPSMARTS, mereka turut memastikan bahwa informasi pendidikan dapat diakses secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Selain seremoni penutupan, kegiatan Grand Closing juga diisi dengan pemaparan laporan capaian program serta evaluasi menyeluruh. Panitia turut memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, termasuk sekolah mitra dan relawan sosialisator.
KIPSMARTS UNS menjadi salah satu inisiatif mahasiswa yang berdampak luas dalam mendukung pemerataan pendidikan. Program ini tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan tinggi sebagai jalan keluar dari kemiskinan.
Ke depan, program ini diharapkan terus berkembang, baik dari sisi jangkauan maupun kualitas pelaksanaan. Kolaborasi antara mahasiswa, institusi pendidikan, dan pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar program serupa dapat memberikan dampak yang lebih besar.
Dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan siswa, KIPSMARTS berpotensi menjadi model sosialisasi pendidikan yang efektif. Di tengah tantangan pemerataan akses pendidikan di Indonesia, langkah kecil yang dilakukan mahasiswa ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana, seperti ruang kelas sekolah menengah.
Penulis : Deviana Dwi Putri
Editor : Anisa Putri









