Klaten, Sorotnesia.com – Tumpukan limbah serbuk gergaji yang selama ini menjadi persoalan di sentra industri mebel Desa Mireng, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, mulai dilirik sebagai sumber peluang ekonomi baru. Melalui program pemberdayaan masyarakat, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memperkenalkan inovasi pengolahan limbah biomassa menjadi briket arang yang memiliki nilai jual sekaligus berpotensi menjadi energi alternatif ramah lingkungan.
Selama ini, serbuk gergaji yang dihasilkan dari aktivitas industri mebel di Desa Mireng umumnya hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk proses pengeringan kayu atau bahkan dibakar dan dibuang begitu saja. Padahal, limbah tersebut masih menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa UNS melalui Program Hibah Pembelajaran Berdampak menggelar pelatihan pembuatan briket arang bagi masyarakat Desa Mireng pada Jumat (12/6/2026). Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada aspek teknis produksi, tetapi juga memperkenalkan strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan memiliki peluang bersaing di pasar.
Program ini menjadi salah satu upaya mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular, yakni mengubah limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan rangkaian materi mulai dari pengenalan limbah biomassa, teknik pembuatan briket arang, pengujian kualitas produk, hingga strategi pemasaran berbasis digital.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai bagaimana limbah serbuk gergaji dapat diolah menjadi sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan praktik pembakaran limbah secara terbuka.
Kegiatan juga dirancang secara bertahap agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengetahui peluang pengembangannya menjadi usaha produktif.
Desa Mireng dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas industri mebel yang cukup tinggi. Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut sehingga produksi limbah serbuk gergaji berlangsung hampir setiap hari.
Selama ini, pemanfaatan limbah tersebut dinilai belum optimal. Sebagian besar limbah hanya dimanfaatkan sebagai bahan pembakaran sederhana atau dibuang tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut. Kondisi itu menjadi latar belakang mahasiswa menghadirkan solusi yang lebih bernilai melalui pengolahan menjadi briket arang.
Pada sesi sosialisasi, peserta diperkenalkan dengan konsep dasar briket arang, manfaatnya sebagai sumber energi alternatif, hingga peluang usaha yang dapat dikembangkan dari produk tersebut.
Materi juga mencakup penjelasan mengenai alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses produksi, tahapan pembuatan briket, serta teknik pencetakan agar menghasilkan produk yang memiliki kualitas baik.
Selain menjelaskan proses produksi, tim mahasiswa Program Studi Teknik Kimia UNS turut memaparkan hasil pengujian kualitas briket yang telah dilakukan.
Pengujian tersebut meliputi uji nilai kalor sebagai indikator kemampuan menghasilkan panas, uji nyala untuk mengetahui performa pembakaran, uji kadar air, serta uji kadar abu guna memastikan kualitas produk yang dihasilkan memenuhi standar yang baik.
Dengan adanya pemaparan tersebut, peserta memperoleh gambaran bahwa pembuatan briket tidak hanya mengandalkan proses pencampuran bahan, tetapi juga memerlukan pengujian agar kualitas produk tetap terjaga apabila nantinya dipasarkan.
Tidak berhenti pada aspek produksi, mahasiswa juga memberikan materi mengenai creative branding dan pemasaran digital.
Dalam sesi tersebut, masyarakat dikenalkan dengan pemanfaatan media sosial serta platform e-commerce sebagai sarana memperluas pasar.
Mahasiswa menjelaskan bahwa pemasaran melalui platform digital memungkinkan produk lokal desa menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa terbatas wilayah pemasaran konvensional.
“Tim mahasiswa menjelaskan bahwa pemanfaatan media sosial dan marketplace dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperluas jangkauan pemasaran sehingga produk tidak hanya dipasarkan di lingkungan sekitar desa, tetapi juga dapat menjangkau konsumen dari berbagai daerah.”
Sebagai bagian dari materi pemasaran, peserta juga memperoleh pendampingan mengenai pembuatan akun TikTok Shop dan Shopee sebagai langkah awal memperkenalkan produk secara daring.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru berbasis masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing produk hasil olahan limbah biomassa.

Suasana kegiatan semakin hidup ketika memasuki sesi diskusi. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait proses produksi maupun peluang usaha.
Beberapa pertanyaan yang muncul di antaranya mengenai persentase perekat yang ideal agar briket memiliki kualitas baik, jenis perekat yang dapat digunakan, hingga estimasi modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha.
Selain itu, masyarakat juga berdiskusi mengenai efisiensi proses produksi, kualitas hasil pembakaran, hingga strategi pemasaran yang sesuai dengan kondisi desa.
Diskusi berlangsung interaktif karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga berbagi pengalaman berdasarkan aktivitas mereka sebagai pelaku industri mebel.
Melalui sesi tersebut, masyarakat memperoleh gambaran lebih komprehensif mengenai peluang pengembangan usaha berbasis limbah biomassa.
Dari sisi ekonomi, pemanfaatan limbah serbuk gergaji menjadi briket arang dinilai mampu meningkatkan nilai tambah industri mebel.
Produk sampingan yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual dapat diolah menjadi komoditas baru dengan potensi harga yang lebih tinggi.
Apabila dikelola secara berkelanjutan, pengolahan limbah biomassa tersebut berpotensi mendorong lahirnya usaha mikro berbasis energi terbarukan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat desa.
Tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, inovasi tersebut juga memiliki dampak positif terhadap lingkungan.
Pengolahan limbah menjadi briket dapat membantu mengurangi praktik pembakaran terbuka yang selama ini menjadi salah satu penyebab pencemaran udara.
Selain itu, pemanfaatan limbah biomassa juga mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular dengan mengoptimalkan penggunaan kembali sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai.
Melalui pendekatan tersebut, jumlah limbah yang berakhir di lingkungan dapat ditekan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Perangkat Desa Mireng bersama masyarakat memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi penyuluhan maupun diskusi, terutama ketika membahas peluang pemasaran dan alat yang digunakan dalam proses produksi briket.
Ketertarikan masyarakat terhadap teknologi sederhana tersebut menjadi indikator bahwa inovasi pengolahan limbah memiliki peluang untuk terus dikembangkan di tingkat desa.
Program pemberdayaan ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau, tujuan ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, tujuan ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta tujuan ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, mahasiswa berharap inovasi pemanfaatan limbah serbuk gergaji kayu menjadi briket arang dapat terus berkembang sebagai salah satu solusi pengelolaan limbah sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Dengan memanfaatkan potensi lokal yang selama ini belum tergarap secara optimal, limbah biomassa tidak lagi dipandang sebagai sisa produksi semata, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru, mendukung penggunaan energi alternatif, serta memperkuat pembangunan desa yang berkelanjutan.
Penulis : Tim MBKM UNS ID 2092
Editor : Anisa Putri





![Demonstrasi pembuatan baglog berbasis sekam padi. (Dok. Tim Hibah MBKM ID [2132] UNS)](https://sorotnesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Demonstrasi-pembuatan-baglog-berbasis-sekam-padi.-Dok.-Tim-Hibah-MBKM-ID-2132-UNS-225x129.webp)



