Surabaya, Sorotnesia.com — Inovasi pangan tidak selalu lahir dari laboratorium perguruan tinggi. Gagasan mengenai pangan juga dapat tumbuh dari ruang kelas sekolah menengah atas ketika siswa memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi ide, menguji konsep, dan mendapatkan pendampingan dari pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Hal itu tergambar dalam keterlibatan Program Studi Teknologi Pangan Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam mendampingi siswa SMA Kristen Gloria 2 Surabaya yang mengikuti Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI).

Pendampingan tersebut dilakukan melalui kegiatan Academic Review and Pitch for Student Innovation. Kegiatan ini mempertemukan dosen Program Studi Teknologi Pangan UK Petra dengan siswa yang tengah mempersiapkan sejumlah inovasi produk pangan untuk kompetisi.
Para siswa mempresentasikan gagasan dan produk yang mereka kembangkan di hadapan dosen. Dari presentasi tersebut, dosen memberikan umpan balik berdasarkan perspektif ilmu dan teknologi pangan.
Pendekatan itu membuat proses pendampingan tidak berhenti pada penilaian apakah sebuah produk menarik atau kreatif. Siswa juga diajak memahami alasan ilmiah di balik inovasi yang mereka kembangkan, termasuk pemilihan bahan baku dan proses pengolahan yang digunakan.
Dari Ide Kreatif ke Dasar Ilmiah
Dalam ajang FIKSI, siswa SMA Kristen Gloria 2 Surabaya mengembangkan sejumlah produk pangan dengan memanfaatkan bahan dan cita rasa yang dekat dengan kekayaan lokal.
Produk yang dikembangkan antara lain keripik berbasis sorgum dengan cita rasa lokal rawon, minuman herbal berbahan baku daun belalai gajah, serta produk gummy yang memanfaatkan rempah-rempah lokal.
Gagasan tersebut kemudian dipresentasikan dalam kegiatan Academic Review and Pitch for Student Innovation. Setiap kelompok siswa memperoleh kesempatan untuk menjelaskan konsep produk sekaligus berdiskusi mengenai pengembangan inovasinya.
Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya dituntut mampu menjelaskan produk yang dibuat, tetapi juga memahami aspek teknologi pangan yang mendasarinya. Pertanyaan dan tanggapan dari dosen menjadi bagian dari proses untuk menguji sekaligus memperkuat gagasan yang telah disusun.
Perspektif tersebut penting karena sebuah inovasi pangan tidak cukup hanya memiliki konsep yang menarik. Pemilihan bahan baku, karakteristik bahan, metode pengolahan, hingga karakteristik produk akhir merupakan bagian yang saling berkaitan.
Siswa pun mendapatkan ruang untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan klarifikasi atas pertanyaan yang disampaikan dosen. Interaksi dua arah tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk melihat produk yang mereka buat dari perspektif yang lebih luas.
Dengan demikian, kegiatan pendampingan diarahkan agar siswa memahami proses di balik terciptanya sebuah produk pangan. Ide tidak berhenti pada tahap menemukan konsep, tetapi dilanjutkan dengan eksplorasi, eksperimen, pencarian dasar ilmiah, serta pengembangan produk.
Perguruan Tinggi Tidak Mengambil Alih Gagasan
Bagi Program Studi Teknologi Pangan UK Petra, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya membangun hubungan antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat.
Pendampingan dilakukan bukan untuk mengambil alih gagasan yang telah dikembangkan siswa. Peran perguruan tinggi justru diarahkan untuk memperkuat ide tersebut melalui perspektif keilmuan yang relevan.
Bagi siswa, hasil diskusi dengan dosen dapat menjadi bahan pengayaan untuk menyempurnakan inovasi yang mereka kembangkan. Mereka mendapatkan pengalaman menghadapi pertanyaan, mempertanggungjawabkan gagasan, sekaligus melihat kemungkinan pengembangan produk dari sudut pandang teknologi pangan.
Sementara bagi Program Studi Teknologi Pangan UK Petra, kegiatan tersebut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan sekolah. Hubungan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk terlibat dalam pengembangan kreativitas dan minat ilmiah generasi muda.
Pendekatan serupa juga telah dilakukan melalui berbagai bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan siswa sekolah menengah atas di sejumlah negara. Salah satunya berupa proyek penelitian yang melibatkan dosen sebagai pembimbing, sementara siswa SMA memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam proses penelitian, mulai dari pengumpulan data hingga penulisan publikasi (Min, 2026; Rastogi et al., 2023; Satyanarayana, 2024).
Keterlibatan siswa dalam proses semacam itu dapat menjadi ruang untuk mengenalkan budaya ilmiah sejak dini. Siswa tidak hanya belajar mengenai hasil akhir sebuah penelitian atau inovasi, tetapi juga memahami tahapan yang harus dilalui sebelum sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi karya.
Pengalaman tersebut menjadi penting karena kemampuan berinovasi tidak semata-mata dibentuk melalui hasil kompetisi. Proses menemukan persoalan, menyusun ide, mengeksplorasi kemungkinan, menguji gagasan, dan menemukan dasar ilmiah merupakan bagian dari pembelajaran yang dapat membentuk cara berpikir siswa.
Dalam konteks inovasi pangan, pendampingan akademik juga membantu mempertemukan kreativitas siswa dengan pengetahuan ilmiah. Ide mengenai bahan pangan lokal, misalnya, dapat dikembangkan lebih jauh ketika siswa memahami karakteristik bahan dan pengaruh proses pengolahan terhadap produk akhir.
Karena itu, kompetisi seperti FIKSI dapat dilihat bukan hanya sebagai arena untuk memperoleh penghargaan. Kompetisi juga menjadi ruang belajar bagi siswa untuk menguji keberanian dalam menuangkan gagasan sekaligus mempertanggungjawabkannya secara ilmiah.
Kehadiran perguruan tinggi dalam proses tersebut memperluas fungsi pendampingan. Kampus tidak hanya menjadi tempat pendidikan bagi mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi mitra sekolah dalam memperkenalkan pengalaman akademik dan penelitian kepada generasi muda.
Pengalaman yang diperoleh siswa melalui proses tersebut diharapkan menjadi bekal untuk mengembangkan gagasan pada masa mendatang. Sementara bagi perguruan tinggi, keterlibatan bersama sekolah menjadi kesempatan untuk memperluas kontribusi keilmuan sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap sains dan inovasi.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa menarik produk yang dihasilkan. Ada proses panjang di belakangnya. Ketika kreativitas siswa bertemu dengan pendampingan akademik, proses tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan ide, eksperimen, dan dasar ilmiah dalam satu rangkaian.
Penulis : Rhema Nafiri Syalom, S.T.P., M.Si. | Dosen Teknologi Pangan, Universitas Kristen Petra
Editor : Intan Permata









