Pilangrejo, Sorotnesia.com – Edukasi mengenai menstruasi dan kesehatan reproduksi tidak hanya penting bagi perempuan. Pemahaman yang sama juga diperlukan siswa laki-laki untuk membangun empati sekaligus mencegah munculnya stigma dan perundungan terhadap perempuan.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus kegiatan edukasi kesehatan reproduksi dan fikih menstruasi yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram (KKN MIT) ke-22 Posko 113 UIN Walisongo Semarang di SMK Sabilul Huda, Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Kamis (6/8/2026).
Sebanyak 30 siswa kelas XI dan XII, yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, mengikuti kegiatan tersebut. Edukasi dikemas secara interaktif melalui pemaparan materi, penayangan video edukatif, pembagian buku saku, serta sesi refleksi dengan menuliskan pengalaman peserta.
Kegiatan itu diarahkan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai kesehatan reproduksi remaja, khususnya terkait menstruasi. Selain aspek kesehatan, mahasiswa KKN juga memasukkan materi fikih menstruasi agar siswa memahami keterkaitan antara kondisi biologis perempuan dan kewajiban bersuci dalam pelaksanaan ibadah.

Materi yang disampaikan meliputi penjelasan fisiologis organ reproduksi, siklus menstruasi normal, serta panduan fikih mengenai bersuci setelah haid. Siswa diperkenalkan dengan niat, tata cara, dan rukun mandi wajib atau ghusl setelah menstruasi.
Integrasi materi kesehatan reproduksi dan fikih tersebut diharapkan membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih utuh. Menstruasi tidak hanya dipahami sebagai proses biologis, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap pelaksanaan ibadah bagi perempuan.
Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT ke-22 Posko 113 Desa Pilangrejo, Muhammad Rifqin Nashih, mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Menurut dia, keterlibatan siswa laki-laki menjadi bagian penting untuk membangun empati di lingkungan sekolah.
“Fokus edukasi tidak hanya ditujukan bagi siswi perempuan, tetapi juga secara khusus melibatkan siswa laki-laki guna mengedukasi serta mencegah perundungan atau lelucon negatif yang kerap terjadi di lingkungan remaja. Melalui pemahaman yang benar, siswa laki-laki diajak untuk menumbuhkan rasa empati dan menghargai kondisi kesehatan reproduksi perempuan,” ujarnya.
Rifqin berharap kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan siswa mengenai kesehatan reproduksi dan menstruasi. Ia juga berharap pemahaman tersebut dapat mendorong sikap saling menghargai antara siswa laki-laki dan perempuan.
Menurut dia, pemahaman yang memadai sejak usia remaja penting agar pembicaraan mengenai menstruasi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Lingkungan sekolah diharapkan menjadi ruang yang aman bagi siswa untuk memperoleh informasi kesehatan yang benar.
Kepala SMK Sabilul Huda, Tsalist Jalaluddin, menyambut positif kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang tersebut. Ia menilai edukasi kesehatan reproduksi perlu diberikan kepada seluruh peserta didik tanpa membedakan gender.
“Edukasi reproduksi dan menstruasi sangat penting bagi siswa. Bahkan kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk perempuan saja, namun laki-laki juga perlu tahu bahwa nantinya kelak pasti berpasangan dengan perempuan,” ujar Sanis seusai kegiatan.
Ia menilai kehadiran mahasiswa KKN MIT Posko 113 memberikan manfaat bagi peserta didik. Menurut dia, mahasiswa juga mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan menyampaikan materi kepada siswa meskipun berasal dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda.
“Tujuan edukasi yang dilaksanakan mahasiswa KKN UIN Walisongo sangat baik. Penyampaiannya yang mampu memberikan edukasi serta nilai-nilai positif untuk anak-anak didik menunjukkan bahwa mahasiswa bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat mengabdi, walaupun tidak semua dari latar belakang Pendidikan,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 113 di Desa Pilangrejo. Melalui edukasi yang melibatkan siswa laki-laki dan perempuan, pembahasan mengenai menstruasi ditempatkan bukan sekadar sebagai persoalan kesehatan perempuan, melainkan bagian dari pengetahuan reproduksi yang perlu dipahami bersama.
Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi siswa untuk memahami menstruasi secara lebih objektif. Pengetahuan yang benar diharapkan dapat mengurangi candaan, stigma, maupun perlakuan yang berpotensi merendahkan siswa perempuan ketika mengalami menstruasi di lingkungan sekolah.
Penulis : Azkiya Salsa Afiana | Tim Mahasiswa KKN UIN Walisongo
Editor : Intan Permata









