Magelang, Sorotnesia.com – Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) di SMP Negeri 13 Magelang tidak sekadar menjadi agenda tahunan untuk memperingati Hari Pramuka. Kegiatan yang berlangsung pada 14–15 Agustus 2026 itu menjadi ruang bagi siswa untuk belajar kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kerja sama melalui pengalaman langsung di luar kelas.
Sebanyak 190 siswa kelas VII mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari rangkaian Penerimaan Tamu Penggalang (PTP). Melalui kegiatan itu, siswa baru diperkenalkan dengan kehidupan kepramukaan sekaligus secara resmi menjadi bagian dari Gugus Depan (Gudep) SMP Negeri 13 Magelang.
Perjusa tahun ini juga melibatkan berbagai unsur sekolah. Selain peserta dari kelas VII, terdapat 62 siswa kelas VIII yang bertugas sebagai Panitia Dewan Penggalang serta 37 siswa kelas IX yang berperan sebagai Dewan Penggalang senior dan koordinator. Kegiatan tersebut juga didukung 23 pembina Pramuka bersama guru pendamping, 13 mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar (Untidar), dan sembilan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Salah satu Pembina Pramuka SMP Negeri 13 Magelang, Pratiwi, mengatakan Perjusa dirancang bukan hanya sebagai kegiatan seremonial untuk memperingati Hari Pramuka ke-65. Kegiatan itu sekaligus diarahkan untuk membentuk karakter siswa melalui pengalaman langsung.
“Tujuan utamanya ialah sebagai wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian siswa, memperingati Hari Pramuka ke-65, serta melaksanakan prosesi Penerimaan Tamu Penggalang bagi siswa kelas VII agar resmi menjadi bagian dari Penggalang Gudep SMPN 13 Magelang,” ujar Pratiwi.
Pembagian tugas dalam kegiatan tersebut disusun berdasarkan peran masing-masing. Pembina dan guru bertanggung jawab memberikan arahan sekaligus memastikan aspek teknis dan keamanan kegiatan. Sementara itu, Dewan Penggalang menjalankan tugas di lapangan, termasuk mendampingi adik kelas dan menjadi juri dalam sejumlah perlombaan.
Adapun siswa kelas VII diarahkan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan menjaga ketertiban regu masing-masing. Dalam pelaksanaan di lapangan, mahasiswa MKT Untidar turut membantu pengawasan dan pendampingan peserta.
Keterlibatan mahasiswa MKT tidak berdiri sendiri. Mereka bekerja bersama pembina, guru pendamping, Dewan Penggalang, mahasiswa PPG, dan unsur sekolah lainnya untuk memastikan rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan aman.
Selama dua hari, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang menggabungkan aktivitas fisik, kerja sama kelompok, kreativitas, serta pembentukan kedisiplinan. Rangkaian kegiatan meliputi upacara pembukaan dan peringatan Hari Pramuka, lomba wide game antarregu, memasak bersama, upacara api unggun dan pentas seni, renungan malam, ibadah berjamaah, senam pagi, hingga jelajah lingkungan atau outbound.
Menurut Pratiwi, variasi kegiatan tersebut sengaja disusun agar siswa memperoleh pengalaman yang lebih menyeluruh.

“Kegiatannya sangat beragam, diawali Upacara Pembukaan dan Peringatan Hari Pramuka, lomba antar regu, upacara api unggun dan pentas seni, renungan malam, ibadah berjamaah, senam pagi, hingga jelajah lingkungan atau outbound,” tuturnya.
Salah satu rangkaian yang menjadi perhatian peserta adalah malam api unggun. Pada kegiatan tersebut, pengucapan Dasa Darma Pramuka dilakukan bersamaan dengan penyalaan api Dharma. Suasana kemudian berlanjut dengan pentas seni yang melibatkan perwakilan regu, Calon Dewan Penggalang, dan Dewan Penggalang.
Mahasiswa MKT Untidar juga mengambil bagian dalam pentas tersebut dengan menampilkan tarian. Keterlibatan itu menjadi salah satu bentuk interaksi mahasiswa dengan siswa di luar aktivitas pendampingan teknis.
Setelah api unggun dan pentas seni, kegiatan dilanjutkan sekitar pukul 03.00 WIB dengan sesi “jalan senyap”. Peserta berjalan berurutan bersama regu masing-masing mengelilingi lingkungan sekolah dengan mata ditutup menggunakan setangan leher dan didampingi kakak pendamping.
Setelah menyelesaikan tugas dalam sesi tersebut, anggota regu dipisahkan untuk mengikuti persiapan renungan malam. Dua mahasiswa MKT Untidar turut terlibat dalam pendampingan kegiatan tersebut.
Rangkaian Perjusa kemudian ditutup dengan tradisi “Operasi Semut”, yakni kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekolah. Kegiatan ini dilakukan sebelum upacara penutupan dan menjadi bagian dari pembiasaan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar.
Bagi Pratiwi, pengalaman semacam itu menjadi salah satu alasan kegiatan kepramukaan tetap relevan sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa.
“Karena PERJUSA memberi pengalaman langsung atau learning by doing yang tidak didapatkan di dalam kelas formal. Di perkemahan, siswa belajar bertahan hidup, beradaptasi dengan lingkungan luar, serta menguji ketangkasan mental dan fisiknya,” jelasnya.
Melalui aktivitas yang sederhana dan dilakukan secara berkelompok, siswa juga dilatih mengelola kebutuhan mereka sendiri. Peserta harus menyiapkan perlengkapan, merapikan barang, mengatur waktu makan dan ibadah, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Pratiwi mengatakan proses tersebut membantu siswa membangun kebiasaan yang berkaitan dengan nilai-nilai Dasa Darma Pramuka. Nilai kemandirian, gotong royong, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi dipraktikkan selama kegiatan berlangsung.
“Ini secara alami menempa kemandirian dan kedisiplinan mereka,” ujar Pratiwi.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, panitia telah melakukan sejumlah persiapan sebelum Perjusa berlangsung. Tahapan tersebut meliputi pembentukan kepanitiaan, penerbitan surat keputusan (SK), penyusunan proposal dan rencana anggaran biaya (RAB), pemetaan regu, pembekalan Dewan Penggalang, serta sosialisasi dan perizinan kepada orang tua.
Peserta juga mendapatkan daftar perlengkapan yang harus dibawa. Perlengkapan pribadi antara lain seragam Pramuka, alat salat, alat makan, obat pribadi, senter, serta matras atau sleeping bag. Sementara itu, perlengkapan regu mencakup alat memasak dan alas tidur.
Aspek keamanan dan kesehatan menjadi bagian lain yang disiapkan panitia. Sistem keamanan dilakukan dengan menugaskan seksi keamanan untuk melaksanakan ronda secara bergantian selama 24 jam. Langkah tersebut diterapkan untuk memastikan lingkungan kegiatan tetap terpantau sepanjang pelaksanaan perkemahan.
Sementara itu, seksi PPPK atau kesehatan ditempatkan di posko medis yang dilengkapi obat-obatan. Panitia juga berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan terdekat, seperti puskesmas atau rumah sakit, sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kondisi darurat.
Meski telah dipersiapkan, pelaksanaan Perjusa tidak sepenuhnya lepas dari kendala. Kondisi fisik peserta yang mudah lelah menjadi salah satu tantangan, terutama karena rangkaian kegiatan berlangsung cukup padat. Manajemen waktu juga menjadi perhatian panitia agar seluruh agenda dapat berjalan sesuai rencana.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, panitia menyiapkan rencana alternatif atau Plan B. Rekayasa waktu dilakukan secara fleksibel dengan tetap mempertahankan esensi kegiatan. Dengan demikian, perubahan teknis di lapangan tidak menghilangkan tujuan utama Perjusa sebagai kegiatan pembelajaran dan pembentukan karakter.
Antusiasme siswa menjadi salah satu catatan penting dalam pelaksanaan tahun ini. Bagi siswa kelas VII, Perjusa menjadi pengalaman perkemahan pertama mereka di jenjang SMP. Sementara itu, Dewan Penggalang dari kelas VIII dan IX memperoleh kesempatan menjalankan peran kepemimpinan dengan membimbing peserta yang lebih muda.
“Sangat luar biasa dan penuh semangat! Bagi siswa kelas VII, ini adalah momen perkemahan pertama mereka di jenjang SMP. Sementara bagi Dewan Penggalang (kelas VIII & IX), mereka sangat antusias membimbing dan menunjukkan jiwa kepemimpinannya,” ungkap Pratiwi.
Keterlibatan Dewan Penggalang sekaligus menunjukkan bahwa Perjusa tidak hanya menjadi ruang belajar bagi peserta kelas VII. Siswa yang lebih senior juga memperoleh pengalaman dalam menjalankan tanggung jawab, bekerja dalam tim, memberikan arahan, dan mendampingi anggota yang lebih muda.
Dalam konteks tersebut, kehadiran mahasiswa MKT Untidar turut memperkuat pola pendampingan selama kegiatan. Mahasiswa tidak hanya membantu mengawasi peserta, tetapi juga berinteraksi langsung dalam sejumlah agenda, termasuk mendampingi renungan malam dan berpartisipasi dalam pentas seni.
Kolaborasi tersebut mempertemukan pembina, guru, siswa, mahasiswa MKT Untidar, mahasiswa PPG, dan Dewan Penggalang dalam satu kegiatan pendidikan nonformal. Setiap unsur menjalankan peran berbeda, tetapi saling mendukung agar kegiatan berjalan sesuai tujuan.
Perjusa di SMP Negeri 13 Magelang pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar perkemahan dua hari. Di tengah kegiatan yang padat, siswa belajar mengatur diri, bekerja bersama, mematuhi aturan, menyelesaikan tugas, serta beradaptasi dengan situasi di luar rutinitas pembelajaran di kelas.
Pendekatan learning by doing yang diterapkan melalui kegiatan Pramuka memberikan pengalaman konkret bagi siswa untuk memahami nilai-nilai yang selama ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter di sekolah. Sementara bagi Dewan Penggalang dan mahasiswa pendamping, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berkoordinasi dan bertanggung jawab.
Dengan dukungan berbagai unsur sekolah dan pendamping, pelaksanaan Perjusa tidak hanya memperingati Hari Pramuka ke-65, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan pengalaman belajar siswa melalui kegiatan bersama. Nilai kemandirian, kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan dipraktikkan secara langsung selama dua hari kegiatan.
Penulis : MKT Untidar SMPN 13 Magelang
Editor : Intan Permata









