Penangkan, Sorotnesia.com – Pemanfaatan media visual menjadi salah satu cara yang dilakukan mahasiswa KKN-R Tim II Universitas Diponegoro (Undip) untuk memperluas akses informasi di Desa Penangkan, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang.
Melalui tiga program kerja, Annisa, mahasiswa Program Studi Informasi dan Hubungan Masyarakat Undip yang tergabung dalam KKN-R Tim II Desa Penangkan, mengembangkan media informasi yang menggabungkan dokumentasi visual, teknologi digital, dan komunikasi langsung.
Tiga program tersebut mencakup pendokumentasian fasilitas umum dan UMKM untuk mendukung pemetaan desa, pembuatan video edukasi pemilahan sampah berbasis QR Code, serta pembelajaran komunikasi santun bagi siswa kelas III SD Negeri Penangkan.
Rangkaian kegiatan itu menjadi bagian dari penerapan ilmu yang dipelajari di Program Studi Informasi dan Hubungan Masyarakat. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi, tetapi juga bagaimana informasi tersebut dapat ditemukan, dipahami, dan digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dokumentasi fasilitas desa menjadi sumber informasi visual
Program pertama dilakukan melalui pendokumentasian berbagai fasilitas umum dan pelaku UMKM yang berada di Desa Penangkan. Kegiatan tersebut dilakukan secara bertahap selama pelaksanaan KKN dengan mendatangi sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
Fasilitas yang didokumentasikan antara lain balai desa, sekolah, masjid, lapangan, perpustakaan, serta sejumlah UMKM di wilayah Desa Penangkan.
Dokumentasi tersebut kemudian dihimpun dalam Google Drive sebagai arsip digital. Foto yang terkumpul selanjutnya digunakan sebagai pelengkap peta pemetaan fasilitas umum Desa Penangkan yang disusun mahasiswa KKN-R Tim II Undip.
Kehadiran foto pada titik-titik lokasi membuat peta tersebut tidak sekadar menunjukkan keberadaan suatu fasilitas. Informasi visual juga membantu memberikan gambaran mengenai objek yang terdapat di lokasi.
Dengan pendekatan itu, pemetaan desa dapat berfungsi sebagai salah satu sumber informasi mengenai fasilitas umum dan potensi UMKM yang terdapat di Desa Penangkan.
Program tersebut sekaligus menunjukkan pemanfaatan dokumentasi sebagai bagian dari komunikasi informasi. Data mengenai suatu lokasi tidak hanya disajikan dalam bentuk nama atau penanda pada peta, tetapi dilengkapi dengan visual yang dapat membantu masyarakat mengenali objek tersebut.
Edukasi pengelolaan sampah melalui QR Code

Pemanfaatan teknologi digital juga diterapkan dalam program edukasi lingkungan. Annisa mengembangkan video tutorial mengenai pemilahan sampah dan penerapan prinsip 5R, yakni Reduce, Reuse, Recycle, Rot, dan Refuse.
Proses pembuatan video dilakukan mulai dari penyusunan konsep dan penulisan naskah, pengambilan gambar, hingga penyuntingan. Setelah produksi selesai, video disimpan di Google Drive dan dihubungkan dengan QR Code.
Kode tersebut kemudian ditempatkan pada infografis yang dipasang di setiap pos kampling di seluruh RT Desa Penangkan. Masyarakat dapat mengakses materi edukasi dengan memindai kode menggunakan telepon genggam.
Penggunaan QR Code memberikan alternatif dalam penyampaian materi edukasi. Informasi mengenai pengelolaan sampah tidak hanya disampaikan ketika kegiatan sosialisasi berlangsung, tetapi dapat kembali diakses masyarakat setelah kegiatan selesai.
Media tersebut kemudian digunakan dalam kegiatan Sosialisasi Eco-Penangkan pada 31 Juli 2026. Video menjadi salah satu media pendukung untuk menjelaskan pemilahan sampah rumah tangga dan penerapan prinsip 5R dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Penggunaan media digital dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan materi edukasi. Masyarakat tidak harus bergantung pada penyampaian informasi secara langsung karena materi telah tersedia dalam bentuk digital.
Komunikasi santun dikenalkan sejak sekolah dasar
Selain mengembangkan media visual dan digital, penerapan ilmu komunikasi juga dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Pada 21 Juli 2026, Annisa memberikan materi kepada siswa kelas III SD Negeri Penangkan mengenai penggunaan ungkapan yang mencerminkan komunikasi santun.
Materi tersebut mengenalkan gerakan 3M, yaitu “minta tolong”, “makasih”, dan “maaf”. Ketiga ungkapan itu diperkenalkan sebagai bagian dari kebiasaan berkomunikasi yang menunjukkan penghargaan kepada orang lain.
Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Siswa diajak mengikuti tanya jawab, permainan edukatif, serta praktik langsung dalam berbagai situasi sederhana.
Pendekatan tersebut digunakan agar siswa tidak sekadar mengetahui ungkapan yang perlu digunakan, tetapi juga memahami konteks penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti proses pembelajaran secara interaktif. Praktik komunikasi melalui situasi sederhana menjadi bagian dari kegiatan untuk membantu siswa membiasakan penggunaan ungkapan tersebut di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Media dan komunikasi menjawab kebutuhan informasi desa

Tiga program yang dijalankan Annisa memperlihatkan bahwa penerapan ilmu Informasi dan Hubungan Masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai bentuk. Dokumentasi fasilitas dan UMKM digunakan untuk memperkuat informasi visual pada pemetaan desa. Video dan QR Code dimanfaatkan untuk memperluas akses edukasi lingkungan. Sementara itu, pembelajaran di sekolah digunakan untuk mengenalkan kebiasaan komunikasi yang santun.
Ketiga pendekatan tersebut memiliki bentuk yang berbeda, tetapi berada dalam tujuan yang sama, yakni membuat informasi lebih mudah diterima dan digunakan oleh masyarakat.
Bagi Desa Penangkan, dokumentasi visual dapat menjadi arsip informasi mengenai fasilitas dan potensi desa. Materi edukasi berbasis QR Code memberikan akses digital terhadap informasi pengelolaan sampah. Adapun pembelajaran komunikasi di sekolah menyasar pembentukan kebiasaan berkomunikasi sejak usia dini.
Rangkaian program tersebut menjadi bagian dari kegiatan KKN-R Tim II Undip di Desa Penangkan sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan keilmuan yang diperoleh di perguruan tinggi dalam konteks kebutuhan masyarakat.
Pemanfaatan media visual dan komunikasi dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penyebaran informasi di tingkat desa dapat dikembangkan melalui pendekatan yang sederhana. Dokumentasi, teknologi digital, dan interaksi langsung dapat digunakan secara berdampingan untuk mendukung kebutuhan informasi, edukasi, serta pembentukan kebiasaan positif di masyarakat.
Penulis : Annisa Nur Rahmah Awalia
Editor : Intan Permata









