Pedalangan, Sorotnesia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram (KKN MIT) ke-22 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mendorong warga Dusun Pedalangan, Desa Banyuurip, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, untuk mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah.
Upaya itu dilakukan melalui sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pengenalan program Bank Sampah yang digelar Kamis (13/8/2026). Kegiatan tersebut menyasar ibu-ibu rumah tangga yang dinilai memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah di lingkungan keluarga.
Program yang mengusung tema “Kelola Sampah dengan Bijak, Wujudkan Lingkungan Sehat” itu menjadi kolaborasi Divisi Kesehatan Lingkungan (Kesling) dan Divisi Sosial Ekonomi (Sosek) KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Posko 213.
Kolaborasi tersebut tidak hanya membahas persoalan kebersihan, tetapi juga menawarkan mekanisme sederhana agar sampah anorganik memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat mendukung kas di tingkat RT.
Koordinator Divisi Kesling, Amelia Kartika, mengatakan sosialisasi PHBS dilakukan karena masih ditemukan kebiasaan warga membuang sampah ke sungai dan membakar sampah.
”Kondisi masyarakat di sini masih sangat perlu ditingkatkan karena melihat kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah di sungai dan membakar sampah, di mana hal ini akan mencemari lingkungan,” jelas Amelia.
Menurut Amelia, kebiasaan tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Dalam sosialisasi, Amelia menjelaskan pengertian PHBS, pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, penyakit yang dapat muncul akibat penumpukan sampah, serta manfaat penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.
Materi juga diarahkan pada pengelolaan sampah berdasarkan jenisnya, yakni sampah organik, anorganik, dan residu. Warga diperkenalkan pula dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) sebagai salah satu pendekatan dalam mengurangi timbulan sampah.
”Karena di dalam rumah lah ibu-ibu yang memiliki peran besar dalam mengelola kebutuhan rumah dibanding bapak-bapak yang mungkin hanya sibuk bekerja,” ungkap Amelia.
Ia menjelaskan, pemilihan ibu-ibu rumah tangga sebagai sasaran kegiatan berkaitan dengan peran mereka dalam aktivitas rumah tangga, termasuk pengelolaan sampah sehari-hari.
Setelah materi PHBS, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan mengenai Bank Sampah oleh Divisi Sosek. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan pilihan pengelolaan sampah anorganik yang dapat dilakukan secara lebih terorganisasi.
Koordinator Divisi Sosek, Angga Khoirul Anwar, mengatakan materi PHBS dan Bank Sampah memiliki keterkaitan. Menurut dia, perilaku hidup sehat tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
”PHBS itu mencakup materinya dan perilaku hidup sehat salah satunya dengan pengelolaan sampah yang baik, kami menjelaskan macam-macam sampah dan salah satu solusi nyata untuk pengelolaan sampah anorganik, yaitu Bank Sampah program kerja dari Divisi Sosek,” katanya.
Dalam program tersebut, mahasiswa KKN berencana menempatkan tiga kotak Bank Sampah di tiga RT yang berada di Dusun Pedalangan. Warga dapat memasukkan sejumlah jenis sampah anorganik yang memiliki nilai jual.
”Nanti ada 3 kotak yang akan disebar di 3 RT di Dusun Pedalangan, isi sampahnya berupa botol plastik, kaleng, kardus, botol kaca, dan sampah yang sekiranya bernilai jual ke tukang rongsok,” jelas Anwar.
Sampah yang terkumpul selanjutnya akan dijual kepada tukang rongsok. Hasil penjualan tersebut direncanakan masuk ke kas masing-masing RT sehingga manfaat program tidak berhenti pada persoalan kebersihan.
Anwar berharap keberadaan Bank Sampah dapat membantu warga mengurangi kebiasaan membuang sampah ke sungai sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan setempat.
”Saya berharap warga dapat membiasakan buang sampah pada tempat yang sudah disediakan seperti Bank Sampah ini dan tidak membuang ke sungai lagi. Selain itu, jika nanti terkumpul bisa dijual ke tukang rongsok terus uangnya nambah ke uang kas per-RT,” harapnya.
Bagi warga, program tersebut juga menjadi alternatif untuk memilah sampah yang selama ini masih menjadi persoalan, terutama sampah rumah tangga.
Salah satu warga yang mengikuti kegiatan, Fitri Lestari, mengatakan dirinya sudah mengetahui keberadaan Bank Sampah. Namun, ia mengaku belum memahami istilah PHBS.
”Bank Sampah sudah tahu, kalau PHBS belum paham. Saya kadang susah untuk mengelola sampah apalagi yang sampah basah, kalau sampah kering itu udah saya kumpulkan dan dijual ke pengepul,” ungkap Fitri.
Fitri menilai sosialisasi tersebut penting karena memberikan pemahaman mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah. Ia juga menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam program Bank Sampah.
”Sangat penting karena menasihati untuk memilah sampah, jadi bisa mengurangi sampah dan kalau dijual bisa mendapatkan penghasilan untuk kas per-RT. Bentuk dukungan saya akan ikut berpartisipasi mengumpulkan sampah ke bank sampah,” ujarnya.
Menurut Fitri, keberlanjutan program menjadi hal penting setelah mahasiswa KKN menyelesaikan kegiatan mereka di Desa Banyuurip. Ia berharap Bank Sampah tidak hanya berjalan selama program KKN berlangsung.
”Harapannya bisa berjalan terus dan tidak berhenti di sini saja, jangan sampai saat anak-anak KKN pulang nanti malah program Bank Sampahnya ikut berhenti, semoga warganya tetap sadar dan program ini terus berjalan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Posko 213 tidak hanya memperkenalkan konsep PHBS, tetapi juga menghubungkannya dengan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Tiga titik Bank Sampah yang direncanakan di Dusun Pedalangan akan menjadi sarana bagi warga untuk mengumpulkan sampah anorganik seperti botol plastik, botol kaca, kardus, kaleng, dan jenis sampah lain yang memiliki nilai jual.
Setelah terkumpul, sampah akan dijual kepada tukang rongsok. Hasilnya kemudian dikembalikan untuk menambah kas RT. Skema tersebut diharapkan dapat membuat pengelolaan sampah menjadi kebiasaan bersama, bukan sekadar kegiatan yang berlangsung selama mahasiswa KKN berada di desa.
Penulis : Nailatul Fitroh dari Kelompok KKN MIT 22 Posko 213 | UIN Walisongo
Editor : Intan Permata









