Gerakan literasi di sekolah terus berkembang mengikuti kebutuhan siswa dan perubahan cara masyarakat mengakses informasi. Jika sebelumnya kegiatan literasi identik dengan membaca buku cetak di dalam kelas atau perpustakaan, kini sekolah mulai memanfaatkan bacaan digital sebagai sumber pengetahuan tambahan.
Kehadiran bacaan digital tidak dimaksudkan untuk menggantikan buku cetak. Keduanya justru dapat digunakan secara berdampingan. Buku cetak memberikan pengalaman membaca yang lebih fokus, sedangkan bacaan digital menawarkan kemudahan akses, pencarian judul, dan pilihan topik yang lebih beragam.
Pemanfaatan teknologi ini menjadi relevan karena pelaksanaan jam literasi di setiap sekolah tidak selalu sama. Ada sekolah yang menyediakan waktu 15 menit sebelum pelajaran, membuat jadwal khusus setiap minggu, atau menggabungkannya dengan kunjungan perpustakaan, diskusi buku, jurnal membaca, dan presentasi siswa.
Jam Literasi Tidak Sekadar Membaca
Kegiatan literasi pada dasarnya tidak berhenti ketika siswa selesai membaca sebuah teks. Literasi juga melibatkan kemampuan memahami informasi, menemukan gagasan utama, menghubungkan bacaan dengan pengalaman, serta menyampaikan kembali hal yang telah dipelajari.
Karena itu, sekolah dapat mengembangkan kegiatan membaca menjadi beberapa bentuk berikut:
- Membaca mandiri sesuai minat siswa.
- Membaca nyaring yang dipandu oleh guru.
- Membaca bersama menggunakan satu bahan bacaan.
- Berdiskusi mengenai tokoh, peristiwa, atau informasi penting.
- Menceritakan kembali isi bacaan secara lisan.
- Menuliskan kesan singkat dalam jurnal membaca.
Bentuk kegiatan tersebut dapat disesuaikan dengan usia, kemampuan membaca, dan waktu yang tersedia. Untuk siswa yang baru mengembangkan kemampuan membaca, guru dapat memilih cerita pendek dengan ilustrasi dan bahasa sederhana. Sementara itu, siswa yang lebih mahir dapat diarahkan pada bacaan yang mendorong analisis dan pemikiran kritis.
Tantangan Ketersediaan Buku di Sekolah
Salah satu tantangan yang masih dijumpai dalam pelaksanaan program literasi adalah keterbatasan koleksi. Jumlah buku yang tersedia belum tentu sebanding dengan jumlah siswa. Koleksi yang tidak diperbarui juga dapat membuat siswa kehilangan ketertarikan karena terus menemukan judul yang sama.
Selain jumlah, kesesuaian bacaan juga perlu diperhatikan. Buku untuk kegiatan literasi sebaiknya mempertimbangkan kemampuan pembaca, bukan hanya usia atau tingkat kelas. Dua siswa yang duduk di kelas yang sama bisa memiliki kemampuan dan minat membaca yang berbeda.
Di sinilah sumber digital dapat membantu. Guru maupun siswa dapat menelusuri koleksi ebook di Perpus.org untuk menemukan judul dan topik yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan. Fasilitas pencarian mempermudah pengguna menemukan bacaan berdasarkan kata kunci tertentu tanpa harus memeriksa koleksi satu per satu.
Kebebasan memilih juga penting untuk menumbuhkan minat baca. Ketika siswa diperbolehkan memilih topik yang disukai, kegiatan literasi tidak lagi terasa sebagai kewajiban. Ada siswa yang tertarik pada cerita fiksi, sejarah, pengembangan diri, biografi tokoh, bisnis, atau pengetahuan umum. Pilihan yang beragam membuat lebih banyak siswa berpeluang menemukan bacaan yang menarik bagi mereka.
Beberapa Cara Memanfaatkan Ebook di Kelas
Pemanfaatan ebook dapat disesuaikan dengan fasilitas masing-masing sekolah. Jika siswa diperbolehkan membawa perangkat, guru dapat membagikan tautan dan meminta mereka memilih bacaan secara mandiri. Kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan refleksi singkat atau diskusi berpasangan.
Jika perangkat siswa terbatas, guru dapat menampilkan bacaan melalui proyektor. Satu teks kemudian dibaca bersama-sama, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kosakata, informasi penting, atau pesan yang terkandung di dalamnya.
Pilihan lainnya adalah membaca secara berkelompok. Setiap kelompok menggunakan satu perangkat dan membaca judul yang sama. Setelah selesai, kelompok dapat menunjuk satu perwakilan untuk menceritakan kembali bacaan kepada teman-temannya.
Dengan cara tersebut, keterbatasan perangkat tidak harus menghentikan pemanfaatan bacaan digital. Hal terpenting adalah memilih metode yang sesuai dengan kondisi sekolah dan memastikan seluruh siswa tetap terlibat.
Peran Guru Tetap Dibutuhkan
Kemudahan memperoleh informasi melalui internet harus disertai pendampingan. Guru atau pengelola perpustakaan sebaiknya memeriksa terlebih dahulu kesesuaian isi bacaan, tingkat kesulitan, panjang teks, dan waktu yang diperlukan untuk membacanya.
Pendampingan juga diperlukan agar siswa tidak sekadar membuka halaman, tetapi benar-benar membaca dan memahami isinya. Namun, tindak lanjut tidak harus selalu berbentuk tugas atau nilai. Pada tahap pembiasaan, percakapan ringan mengenai bagian yang paling menarik sudah dapat menjadi aktivitas yang bermakna.
Sekolah juga dapat membuat daftar bacaan rekomendasi berdasarkan kategori. Daftar tersebut akan membantu siswa yang belum mengetahui apa yang ingin dibaca sekaligus mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencari judul.
Membangun Kebiasaan Secara Berkelanjutan
Keberhasilan kegiatan literasi tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu membaca. Konsistensi, variasi aktivitas, kualitas bacaan, serta keterlibatan guru memiliki peran yang sama pentingnya.
Sekolah dapat mengevaluasi program secara sederhana dengan mengamati keterlibatan siswa, jenis bacaan yang paling diminati, jumlah judul yang dibaca, dan kemampuan siswa menceritakan kembali informasi yang diperoleh. Hasil pengamatan tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki kegiatan berikutnya.
Perpustakaan digital memberikan peluang bagi sekolah untuk memperluas akses bacaan tanpa bergantung sepenuhnya pada koleksi fisik. Melalui Perpus.org, guru dan siswa mempunyai alternatif tempat untuk mencari bahan bacaan yang dapat digunakan dalam kegiatan literasi maupun dibaca secara mandiri.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah sarana. Tujuan utamanya tetap sama, yaitu membuat siswa menikmati kegiatan membaca, memahami informasi, dan membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.
Penulis : Wira Pratama
Editor : Anisa Putri









