Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen

- Redaksi

Jumat, 23 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo from Instagram @onyourm_ark and Pinterest

Photo from Instagram @onyourm_ark and Pinterest

Langkah Mark Lee untuk mengakhiri perjalanan karier nya bersama NCT dan agensi SM Entertainment menandai sebuah titik balik besar dalam sejarah K-Pop modern. Sejak debutnya pada tahun 2016, Mark Lee bukan sekadar anggota biasa; ia adalah sosok yang multitalenta, pilar utama di berbagai unit (mulai dari NCT 127 hingga NCT DREAM), sekaligus pemersatu yang mempererat hubungan antara grup dan para penggemarnya.

Karena posisinya yang begitu sentral selama satu dekade, berita perpisahannya tidak hanya memicu dinamika baru dalam industri musik, tetapi juga mengguncang ekosistem emosional fandom NCTzen. Peristiwa ini melahirkan beragam gelombang emosi yang kompleks di kalangan penggemar, bermula dari guncangan rasa duka dan kehilangan (parasocial grief), hingga perlahan bertransformasi menjadi bentuk apresiasi dan dukungan penuh terhadap keputusan pribadi sang idola. Artikel ini hadir untuk membedah bagaimana proses transisi emosional tersebut terjadi dan apa maknanya bagi kedewasaan komunitas fandom di era digital.

Jika dilihat dari sudut pandang studi media, hubungan emosional satu arah yang dibangun penggemar terhadap sosok idola dikenal dengan istilah Parasocial Interaction (Interaksi Parasosial). Selama sepuluh tahun, NCTzen telah membangun kedekatan emosional ini bersama Mark Lee, menyaksikan tumbuh kembangnya, mengapresiasi karya-karyanya, hingga menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka, ketika kabar perpisahan itu hadir, perasaan guncangan yang muncul di tengah fandom bukan sekadar kekecewaan biasa, melainkan bentuk duka parasosial (parasocial grief).

Perasaan duka semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam kajian psikologi penggemar. Riset dari akademisi media seperti Cole & Leets (1999) serta Eyal & Cohen (2006) mengenai parasocial breakup menunjukkan bahwa ketika hubungan parasosial terputus, misalnya saat sosok figur utama memilih mundur atau berpisah dari kelompoknya, penggemar dapat merasakan rasa kehilangan yang nyata. Bagi penggemar, sosok idola bukan cuma sebatas hiburan di layar, melainkan bagian dari identitas dan kenyamanan emosional yang turut membentuk keseharian mereka.

Baca Juga :  Mengelola Diri Sendiri Sebelum Mengelola Orang Lain

Laporan dan pemberitaan dari berbagai media budaya populer global, seperti Soompi, Koreaboo, dan Allkpop, menggambarkan betapa masifnya guncangan awal yang melanda fandom NCTzen. Berbagai artikel mengulas keputusan perpisahan ini sebagai salah satu momen paling mengejutkan di industri hiburan, mengingat peran Mark yang selama ini dikenal sangat krusial di berbagai unit. Pada tahap awal pasca pengumuman resmi, linimasa media sosial didominasi oleh perdebatan dan guncangan emosi. Mengacu pada konsep fase duka Kübler-Ross, mayoritas penggemar berada dalam kondisi terkejut (shock) dan penyangkalan (denial). Diskusi di berbagai forum hiburan, seperti Reddit K-Pop dan X (Twitter), menunjukkan betapa banyak penggemar yang merasa kehilangan safe place. Beberapa ulasan media bahkan menyoroti bahwa keterkejutan publik dipicu oleh posisi Mark yang selama sepuluh tahun dianggap sebagai “wajah dan pondasi utama” dari identitas NCT itu sendiri. Reaksi awal ini terasa sangat manusiawi; bagi banyak penggemar, kehilangan hadirnya Mark di dalam grup terasa seperti hilangnya salah satu elemen penting dalam ruang aman yang telah mereka bangun bersama selama bertahun-tahun.

Namun, dinamika emosi dalam fandom tidak berhenti pada fase duka semata. Perlahan tapi pasti, guncangan awal tersebut mulai bergeser ke arah penerimaan (acceptance). Titik balik ini salah satunya dipicu oleh penjelasan terbuka dari Mark yang memberikan ruang bagi penggemar untuk mencerna keadaan. Dalam studi fandom yang diulas oleh Cornel Sandvoss, interaksi serta komunikasi yang jujur dari sang figur idola mampu meredakan ketegangan emosional dan membantu penggemar memahami keputusan pribadi yang diambil. Pesan tulus tersebut menjadi jembatan yang mengubah rasa kehilangan menjadi rasa hormat terhadap pilihan hidup sang seniman.

Pergeseran emosional ini juga tergambar jelas dari data survei kecil yang penulis lakukan terhadap sejumlah NCTzen. Saat pertama kali mendengar berita perpisahan tersebut, seluruh responden (100%) mengaku merasakan duka dan didera rasa sedih yang mendalam, serta mayoritas di antaranya (75%) mengalami fase shock dan denial. Menariknya, dampak emosional ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menjadikan Mark sebagai bias utama, melainkan juga oleh para penggemar anggota lain yang telah bertahun-tahun mengikuti perjalanan grup. Hal ini membuktikan betapa kuatnya posisi Mark sebagai simbol kebersamaan dalam ekosistem NCT.

Baca Juga :  Digital Citizenship: Fondasi Baru Membangun Demokrasi yang Sehat di Era Digital

Meski diawali dengan duka yang masif, proses pendewasaan fandom terlihat nyata pada respon jangka panjang mereka. Seluruh responden (100%) secara tegas sepakat bahwa langkah yang diambil Mark merupakan hak pribadi sebagai seorang seniman yang patut dihormati. Rasa duka parasosial yang semula memicu kesedihan kini bertransformasi menjadi komitmen dukungan yang matang; para penggemar menyatakan tetap bertahan mendukung perjalanan grup yang tersisa, sekaligus siap menyambut babak baru karier solo Mark. Ungkapan dan harapan hangat agar kedua belah pihak dapat terus bersinar di jalurnya masing-masing menjadi bukti bahwa ikatan antara fandom dan idola telah berevolusi dari sekadar konsumsi emosional menjadi bentuk apresiasi yang lebih dewasa.

Pada akhirnya, peristiwa perpisahan Mark Lee dari NCT dan SM Entertainment bukan sekadar narasi tentang akhir dari sebuah era, melainkan sebuah cermin dari pendewasaan komunitas penggemar di era digital. Proses transisi dari duka parasosial menuju penerimaan yang suportif memperlihatkan bahwa rasa cinta penggemar tidak lagi sebatas menuntut kehadiran sang idola di dalam grup, tetapi juga menghargai ruang tumbuh dan kebebasan menentukan pilihan dirinya sebagai seorang manusia dan seniman. Lewat perjalanan ini, NCTzen dan Mark Lee sama-sama membuktikan bahwa perpisahan tidak selalu berarti pemutusan ikatan, melainkan transformasi menuju bentuk dukungan yang lebih tulus dan dewasa.

Penulis : Maya Aulia Rahma / Mahasiswa Sastra Inggris

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal
Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas
Esensi Pendidikan Politik: Membangun Keadilan dan Kepentingan Umum di Era Digital
Media Sosial dan Opini Publik: Bagaimana Perhatian Masyarakat Memengaruhi Kebijakan Publik?
Mengapa Pandangan Politik Masyarakat Bisa Berbeda? Memahami Budaya Politik dalam Kehidupan Sehari-hari
Menunggu Sakit Parah Sebelum ke Dokter: Kebiasaan yang Perlu Diubah
Karawang Makin Dipenuhi Pabrik, Bagaimana Nasib Sawahnya?
Dari Kafe Kembali ke Kampus: Memanfaatkan Ruang Belajar yang Sering Terlupakan

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:55 WIB

Esensi Pendidikan Politik: Membangun Keadilan dan Kepentingan Umum di Era Digital

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:21 WIB

Media Sosial dan Opini Publik: Bagaimana Perhatian Masyarakat Memengaruhi Kebijakan Publik?

Berita Terbaru

Ilustrasi

Opini

Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas

Selasa, 20 Okt 2026 - 13:24 WIB