Pacitan, Sorotnesia.com – Mahasiswa KKN-T Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 100 Periode Januari–Februari 2026 menggelar pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah di Balai Desa Sanggrahan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Minggu (1/2/2026). Kegiatan ini diikuti 50 ibu perwakilan dari tujuh dusun: Mujing, Krajan, Kradenan, Jetis, Ngaren, Karang Tengah, dan Tanggung.
Program bertajuk “Tim Sanggrahan Berkelanjutan” tersebut dirancang sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga, sekaligus membuka peluang usaha kreatif berbasis potensi lokal. Pelatihan tidak hanya menekankan aspek keterampilan teknis, tetapi juga edukasi kesehatan dan lingkungan.
Pada sesi awal, mahasiswa memaparkan dampak penggunaan minyak jelantah secara berulang. Minyak goreng yang dipanaskan berkali-kali mengalami oksidasi dan degradasi kimia. Proses itu dapat menghasilkan senyawa berbahaya, termasuk radikal bebas yang memicu stres oksidatif dalam tubuh. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, senyawa tersebut berisiko menyebabkan kerusakan sel dan meningkatkan potensi gangguan kesehatan.
Selain dampak kesehatan, peserta juga mendapat penjelasan mengenai bahaya pembuangan minyak jelantah ke saluran air. Limbah ini dapat menyumbat drainase, mencemari tanah dan perairan, serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Karena itu, pemanfaatan kembali minyak jelantah menjadi produk nonkonsumsi dinilai sebagai solusi yang lebih aman dan bernilai tambah.
Ketua pelaksana program kerja, Serly Putri Rahmawati, mengatakan pelatihan ini dirancang untuk memberikan alternatif pemanfaatan limbah rumah tangga. “Kami ingin masyarakat tidak lagi membuang minyak jelantah sembarangan atau menggunakannya kembali untuk memasak. Melalui pelatihan ini, limbah tersebut bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual,” ujarnya.
Menariknya, lilin yang diproduksi menggunakan aroma kopi lokal Desa Sanggrahan. Desa ini memiliki produk kopi dari kelompok tani setempat dengan merek Doeng Waroe. Kopi tersebut dikenal memiliki cita rasa khas dan menjadi salah satu potensi unggulan desa.
Aroma kopi dipilih bukan tanpa alasan. Selain memberi efek relaksasi, aroma tersebut juga memiliki daya tarik pasar yang cukup kuat. Penggunaan kopi lokal dalam lilin aromaterapi sekaligus menjadi strategi promosi tidak langsung terhadap produk unggulan desa. Dengan demikian, pelatihan ini mengintegrasikan pengelolaan limbah dan penguatan identitas produk lokal.

Setelah sesi teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan lilin. Peserta mengikuti tahapan secara runtut, mulai dari penyaringan minyak untuk memastikan kebersihan bahan, penambahan bleaching earth guna menjernihkan dan mengurangi bau meski minyak yang telah dijernihkan tetap tidak layak konsumsi hingga pencampuran dengan parafin.
Selanjutnya, peserta menambahkan aroma kopi dari bubuk kopi Doeng Waroe, lalu menuangkan campuran ke dalam cetakan. Tahap akhir berupa proses pendinginan dan pelabelan produk. Metode praktik langsung dipilih agar peserta memahami seluruh proses produksi secara komprehensif dan dapat mempraktikkannya kembali secara mandiri.
Setiap peserta memperoleh leaflet berisi panduan pembuatan lilin aromaterapi, satu produk hasil praktik, serta penjelasan mengenai potensi pengembangan usaha rumahan. Antusiasme terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar ketersediaan bahan, estimasi biaya produksi, hingga peluang pemasaran.
Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Djoko Nugroho, S.Pd., M.Or., menilai kegiatan ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Program tersebut mendukung implementasi SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDGs 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Melalui pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, masyarakat didorong menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, keterampilan baru yang diperoleh berpotensi dikembangkan menjadi usaha mikro berbasis rumah tangga.
Bagi warga Desa Sanggrahan, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Program tersebut menjadi ruang belajar bersama tentang pentingnya pengelolaan limbah sekaligus peluang ekonomi kreatif. Mahasiswa berharap, inisiatif ini dapat berlanjut melalui kolaborasi antara pemerintah desa, kelompok tani, dan pelaku UMKM setempat.
Dengan memadukan edukasi lingkungan dan penguatan potensi kopi lokal, pelatihan ini menjadi contoh konkret bagaimana kegiatan KKN-T UNS dapat memberi dampak langsung bagi masyarakat desa secara berkelanjutan.
Penulis : Serly Putri Rahmawati | KKN-T UNS Kelompok 100 Periode Januari–Februari 2026
Editor : Anisa Putri









