Magelang, Sorotnesia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 74 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berkolaborasi dengan kelompok tani di Desa Gunungsari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk memperkenalkan pengendalian hama terpadu berbasis bahan alami. Program ini bertujuan mendorong praktik pertanian berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.
Kegiatan tersebut difokuskan pada pemanfaatan bahan alami, salah satunya daun pepaya, sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama kutu-kutuan pada tanaman cabai. Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan penggunaan botol bekas sebagai perangkap sederhana untuk mengendalikan hama seperti kutu dan lalat buah yang kerap menyerang tanaman cabai.
Wildan Fajar, mahasiswa UNS yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa pendekatan pengendalian hama terpadu dapat membantu menjaga kesehatan lingkungan pertanian tanpa bergantung pada bahan kimia secara terus-menerus.
Menurut dia, kegiatan ini juga bertujuan memperluas wawasan petani mengenai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa ada berbagai cara mengendalikan hama selain menggunakan pestisida kimia. Harapannya, petani dapat memahami dampak penggunaan bahan kimia secara berlebihan terhadap lingkungan maupun kesehatan dalam jangka panjang,” ujar Wildan.
Dalam praktiknya, daun pepaya dimanfaatkan karena mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, dan enzim papain yang efektif menekan populasi hama. Senyawa tersebut bekerja dengan merusak sistem pernapasan dan pencernaan serangga sehingga hama tidak berkembang dengan cepat.


Keunggulan lain dari pestisida nabati berbahan daun pepaya adalah tidak meninggalkan residu berbahaya pada tanah maupun tanaman. Bahan ini juga relatif mudah diperoleh dan murah karena dapat memanfaatkan tanaman yang tersedia di sekitar lingkungan petani.
Kanang (38), warga Desa Gunungsari yang mewakili kelompok tani setempat, menyambut baik kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UNS tersebut. Ia menilai penyuluhan dan praktik langsung yang diberikan mampu menambah pengetahuan petani mengenai cara pengendalian hama yang lebih aman.
“Petani mendapatkan ilmu baru dengan memanfaatkan daun pepaya sebagai pestisida. Dengan cara ini, petani tidak harus terus membeli bahan kimia untuk menyemprot hama,” kata Kanang.
Selain memperkenalkan pestisida nabati, mahasiswa juga mengenalkan penggunaan yellow trap atau pelikat kuning sebagai alat pengendali hama lalat buah pada tanaman cabai. Perangkap ini memanfaatkan warna kuning yang menarik perhatian serangga sehingga hama akan mendekat dan terperangkap pada permukaan yang telah dilapisi perekat.
Metode sederhana ini dinilai cukup efektif untuk menekan populasi lalat buah yang kerap menyebabkan kerusakan pada buah cabai serta menurunkan kualitas hasil panen.
Parji (56), Wakil Ketua Kelompok Tani Desa Gunungsari, mengatakan penggunaan pelikat kuning memberikan manfaat nyata bagi petani. Ia mengaku tertarik untuk menerapkan metode tersebut secara lebih luas di lahan pertaniannya.
“Saya sangat berminat menggunakan pelikat kuning karena cabai tidak mudah terserang lalat buah. Dengan begitu, hasil panen bisa lebih terjaga dan harga jual tetap stabil,” ujar Parji.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS berharap semakin banyak petani mulai beralih ke metode pengendalian hama ramah lingkungan. Upaya tersebut dinilai penting untuk menciptakan keseimbangan antara produktivitas pertanian, kelestarian lingkungan, serta keberlanjutan ekonomi petani di masa depan.
Penulis : Mahasiswa KKN 74 UNS
Editor : Anisa Putri









