Pengaruh Teman Sebaya terhadap Perilaku dan Motivasi Belajar Mahasiswa di Lingkup Perguruan Tinggi

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengaruh Teman Sebaya terhadap Perilaku Belajar Mahasiswa

Masa kuliah sering disebut sebagai fase transisi penting dalam hidup seseorang. Di tahap ini, mahasiswa mulai belajar mengelola tanggung jawab akademik sekaligus kehidupan sosial secara mandiri. Salah satu faktor yang paling dekat dan berpengaruh dalam proses tersebut adalah teman sebaya. Interaksi yang intens, hampir setiap hari, membuat pengaruh pertemanan hadir secara alami dan terus-menerus dalam kehidupan mahasiswa.

Dalam praktiknya, teman sebaya sering menjadi tempat berbagi cerita, berdiskusi soal materi kuliah, hingga saling bertukar informasi tentang tugas dan ujian. Ketika mahasiswa berada di lingkungan pertemanan yang positif, kebiasaan belajar yang baik cenderung ikut terbentuk. Disiplin mengerjakan tugas, rajin hadir di kelas, dan semangat untuk memahami materi sering muncul karena melihat contoh langsung dari teman-temannya.

Lingkungan pertemanan yang sehat juga menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Belajar tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai aktivitas bersama yang saling mendukung. Kondisi ini berpengaruh langsung pada kualitas proses belajar dan hasil akademik mahasiswa.

Namun, pengaruh teman sebaya tidak selalu membawa dampak baik. Jika mahasiswa berada dalam lingkungan yang kurang peduli terhadap tanggung jawab akademik, perilaku belajar bisa ikut terpengaruh.

Baca Juga :  Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pelayanan Fisioterapi

Kebiasaan menunda tugas, absen kuliah, atau menganggap remeh kewajiban akademik sering kali muncul tanpa disadari. Situasi ini dapat menghambat perkembangan potensi mahasiswa. Karena itu, memilih lingkungan pertemanan yang tepat menjadi langkah penting dalam perjalanan akademik.

Peran Dukungan Teman Sebaya dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Selain memengaruhi perilaku belajar, teman sebaya juga berperan besar dalam membentuk kepercayaan diri mahasiswa. Dalam dunia perkuliahan, kepercayaan diri sangat dibutuhkan, terutama saat presentasi, diskusi kelas, atau kerja kelompok. Dukungan dari teman dapat membuat mahasiswa merasa lebih aman untuk menyampaikan pendapat dan ide.

Lingkungan pertemanan yang suportif memungkinkan mahasiswa saling memberi semangat, apresiasi, dan empati ketika menghadapi tekanan akademik. Sekadar dukungan moral, pujian sederhana, atau teman yang mau mendengarkan keluhan bisa membantu mengurangi rasa cemas. Hal ini membuat mahasiswa lebih berani tampil dan terlibat aktif dalam kegiatan akademik.

Kepercayaan diri yang tumbuh dengan baik akan berdampak pada banyak aspek, mulai dari kemampuan komunikasi hingga keberanian mengambil tantangan baru. Sebaliknya, jika mahasiswa merasa kurang diterima atau sering mendapat respon negatif dari lingkungannya, kepercayaan diri bisa menurun. Mereka cenderung menarik diri dan enggan berpartisipasi. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi prestasi akademik, tetapi juga kesehatan psikologis secara keseluruhan. Dukungan sosial dari teman sebaya menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

Baca Juga :  Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Upaya Mengoptimalkan Pengaruh Positif Teman Sebaya di Lingkup Perguruan Tinggi

Melihat besarnya peran teman sebaya, mahasiswa perlu lebih sadar dalam membangun lingkungan pertemanan yang sehat. Salah satu caranya adalah memilih lingkar pertemanan yang memiliki tujuan dan nilai akademik yang sejalan. Lingkungan yang saling mendukung akan mendorong mahasiswa untuk tumbuh bersama, baik secara akademik maupun pribadi.

Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem sosial yang positif. Melalui organisasi, komunitas, dan berbagai kegiatan kampus, mahasiswa diberi ruang untuk berinteraksi secara produktif. Kegiatan tersebut tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan kepemimpinan.

Di sisi lain, menjaga keseimbangan antara belajar dan hiburan juga perlu diperhatikan. Teman yang baik memahami kapan waktunya serius dan kapan waktunya beristirahat. Mahasiswa pun perlu berani menjaga jarak dari pertemanan yang justru menghambat perkembangan diri. Dengan lingkungan yang tepat, proses belajar di perguruan tinggi akan terasa lebih bermakna dan menyenangkan.

Penulis : Dzarraf Fikri Nurzaki | Program Studi S1 Hukum Keluarga Islam | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Intan Permata

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:21 WIB

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:57 WIB

Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Berita Terbaru