Urgensi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Generasi Z dalam Perspektif Islam

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendidikan sejak lama dipahami sebagai kunci untuk membentuk kualitas manusia. Bukan hanya soal kepintaran akadem kepintaran akademik, tetapi juga cara seseorang bersikap, mengambil keputusan, dan memaknai hidup.

Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas. Ia menyentuh akal, perasaan, hubungan sosial, sekaligus akhlak. Karena itu, pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan, terutama ketika berbicara tentang Generasi Z yang tumbuh di tengah arus informasi cepat dan dunia digital yang serba terbuka.

Generasi Z hidup dalam situasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka akrab dengan teknologi, media sosial, dan berbagai nilai global yang datang tanpa sekat. Kondisi ini membuka peluang besar untuk berkembang, tetapi juga menyimpan tantangan serius.

Tanpa fondasi karakter yang kuat, generasi muda mudah terombang-ambing oleh tren, tekanan sosial, dan standar keberhasilan semu. Di sinilah pendidikan karakter dalam Islam menemukan relevansinya sebagai penyeimbang antara kehidupan dunia dan orientasi akhirat.

Pemahaman Mengenai Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Pendidikan karakter pada dasarnya adalah upaya sadar untuk menanamkan nilai moral agar seseorang mampu memahami, merasakan, dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, pendidikan karakter tidak berhenti pada teori atau hafalan nilai, tetapi diwujudkan melalui kebiasaan, keteladanan, dan latihan yang berkelanjutan. Nilai seperti jujur, tanggung jawab, empati, dan disiplin tumbuh seiring proses pendidikan yang konsisten.

Baca Juga :  Ternyata Gen Z Itu Saya

Landasan pendidikan karakter dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta pemikiran para ulama. Imam Al-Ghazali menekankan bahwa akhlak tidak muncul secara instan, melainkan dibentuk melalui pembiasaan yang terus-menerus.

Imam Nawawi melalui karya-karyanya juga menunjukkan bahwa teladan Nabi Muhammad menjadi rujukan utama dalam membangun moral manusia. Islam memandang akhlak sebagai kesatuan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia, sehingga karakter yang baik selalu berdimensi spiritual dan sosial.

Tujuan pendidikan karakter dalam Islam bukan sekadar mencetak individu yang berhasil secara materi. K.H. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang seimbang, mampu menjalani kehidupan dunia dengan baik tanpa melupakan tanggung jawab akhirat. Kesuksesan sejati tidak diukur dari pencapaian pribadi semata, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada lingkungan sekitar.

Faktor Penyebab Pengembangan Karakter pada Generasi Z

Pembentukan karakter Generasi Z tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga. Keluarga menjadi ruang pertama tempat nilai ditanamkan, baik melalui ucapan maupun perilaku sehari-hari. Cara orang tua bersikap, menyelesaikan masalah, dan berinteraksi akan membentuk pola pikir anak sejak dini.

Selain keluarga, lingkungan masyarakat turut memberi warna pada perkembangan karakter. Generasi Z hidup dalam masyarakat yang majemuk, sehingga mereka dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasar yang diyakini.

Baca Juga :  Membangun Generasi Berintegritas Melalui Pendidikan Karakter Pada Gen Z

Lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh besar. Pada fase remaja dan dewasa awal, teman sebaya sering menjadi rujukan utama dalam bersikap. Pergaulan yang sehat dapat mendorong tumbuhnya tanggung jawab dan empati, sementara lingkungan yang keliru berpotensi menormalisasi perilaku menyimpang. Karena itu, pendidikan karakter berfungsi sebagai penyangga agar Generasi Z tetap memiliki pendirian yang kuat.

Urgensi dan Strategi Penerapan Pendidikan Karakter Islam pada Generasi Z

Pendidikan karakter Islam menjadi penting karena mampu membentuk pribadi yang seimbang secara spiritual, moral, dan sosial. Karakter yang kokoh membuat seseorang tidak hanya mampu mengelola kehidupannya sendiri, tetapi juga berkontribusi positif di tengah masyarakat. Nilai-nilai Islam perlu diintegrasikan secara nyata dalam sistem pendidikan, bukan sekadar menjadi pelengkap kurikulum.

Strategi penerapannya harus disesuaikan dengan karakter Generasi Z. Pendekatan dialogis dan komunikasi yang setara membuat nilai moral lebih mudah diterima. Nilai Islam juga perlu disampaikan secara kontekstual, termasuk dalam ruang digital yang menjadi bagian dari keseharian mereka. Disiplin yang humanis, bukan paksaan, membantu menumbuhkan kesadaran moral dari dalam diri.

Melalui sinergi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan, pendidikan karakter Islam dapat menjadi fondasi kuat bagi Generasi Z. Dengan pendekatan yang relevan dan membumi, diharapkan lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan mampu menghadapi dinamika sosial dengan integritas.

Penulis : Tubagus Badrassalam | Program Studi S1 Hukum Keluarga Islam | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Fadli Akbar

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:21 WIB

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:57 WIB

Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Berita Terbaru