Magelang, Sorotnesia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 74 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan pembuatan sabun cuci piring ramah lingkungan bagi ibu-ibu PKK di Kantor Desa Gunungsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan keterampilan praktis sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan.
Puluhan ibu rumah tangga mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Dalam pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan mengenai cara membuat sabun cuci piring secara mandiri, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan langsung proses pembuatannya.
Koordinator kegiatan, Novrea Katarisna, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memberikan keterampilan sederhana yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap produk sabun kemasan yang berpotensi menambah limbah plastik.
“Sabun cuci piring merupakan kebutuhan harian setiap rumah tangga. Melalui pelatihan ini, kami berharap warga dapat lebih hemat karena mampu membuatnya sendiri, sekaligus mengurangi limbah plastik yang mencemari lingkungan,” ujar Novrea.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempraktikkan pembuatan sabun. Tahapan dimulai dari pengenalan alat dan bahan, proses pencampuran, hingga pengemasan produk.

Bahan-bahan yang digunakan tergolong mudah ditemukan di pasaran dan memiliki harga yang relatif terjangkau. Di antaranya texapon, garam halus, ekstrak jeruk nipis, serta pewarna makanan. Dengan bahan tersebut, peserta dapat menghasilkan sabun cuci piring dalam jumlah cukup banyak dengan biaya produksi yang rendah.
Antusiasme peserta terlihat saat mereka mencoba mengaduk campuran bahan dan memperhatikan proses pelarutan sabun hingga menghasilkan cairan yang siap digunakan. Beberapa peserta juga aktif bertanya mengenai takaran bahan serta jumlah sabun yang dapat dihasilkan dari setiap proses pembuatan.
Ketua PKK Desa Gunungsari, Siti Ngatofah (45), mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh mahasiswa KKN tersebut. Menurut dia, pelatihan semacam ini memberikan pengetahuan baru sekaligus manfaat langsung bagi masyarakat.
“Bagus, ini sangat bermanfaat. Apalagi setengah kilogram texapon bisa menjadi sekitar lima liter sabun. Kalau nanti ada acara besar di rumah atau kegiatan warga, tidak perlu membeli lagi sehingga lebih hemat,” kata Siti.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap masyarakat Desa Gunungsari tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk kebutuhan rumah tangga maupun peluang usaha rumahan bernilai ekonomis.
Selain itu, pelatihan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat menerapkan pola konsumsi yang lebih bijak dan ramah lingkungan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi warga desa secara berkelanjutan.
Penulis : Mahasiswa KKN Kelompok 74 UNS
Editor : Intan Permata









