Magelang, Sorotnesia.com – Limbah sayuran yang selama ini kerap menjadi sumber masalah lingkungan mulai diolah menjadi produk bermanfaat oleh warga Desa Gunungsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) 74 Universitas Sebelas Maret (UNS), mahasiswa mengedukasi masyarakat untuk mengolah sampah organik menjadi ecoenzyme yang memiliki berbagai kegunaan.
Kegiatan pelatihan tersebut dilaksanakan pada 17 Januari 2026 bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Puspita Arum di Dusun Gugu 2. Program ini digagas oleh Fanny Rahmania, mahasiswa Program Studi Pengelolaan Hutan, Fakultas Pertanian UNS, dengan pendampingan dosen pembimbing lapangan Raden Kunto Adi, S.P., M.P.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berupaya mendorong masyarakat agar lebih bijak mengelola limbah rumah tangga, khususnya sisa sayuran yang selama ini sering dibuang begitu saja.
Program tersebut juga selaras dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta tujuan ke-17 tentang kemitraan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.
Dalam kegiatan itu, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemaparan materi mengenai ecoenzyme, mulai dari pengertian, manfaat, hingga proses pembuatannya. Ecoenzyme merupakan cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik seperti sisa sayuran atau buah-buahan yang dicampur dengan molase atau gula merah dan air bersih.

Proses pembuatannya menggunakan komposisi sederhana, yakni satu bagian gula, tiga bagian sampah organik segar, dan sepuluh bagian air. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup, seperti galon bekas, untuk difermentasi selama sekitar tiga bulan atau 90 hari.
Hasil fermentasi ini memiliki berbagai manfaat. Cairan ecoenzyme dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik, pembersih lantai alami, hingga pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan dibandingkan produk berbahan kimia.
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung. Peserta dibagi menjadi lima kelompok, dan masing-masing kelompok membuat satu galon ecoenzyme menggunakan limbah sayuran yang telah disiapkan.
Mahasiswa KKN juga menjelaskan indikator keberhasilan proses fermentasi. Ecoenzyme yang berhasil biasanya memiliki aroma asam segar, tidak berbau busuk, serta muncul lapisan jamur putih atau tekstur menyerupai jeli di permukaan cairan.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Mereka terlihat aktif berdiskusi sekaligus mencoba langsung proses pembuatan ecoenzyme.
“Terima kasih, saya sangat senang mendapat ilmu baru ini. Bahan-bahannya mudah didapat. Nanti saya akan mencoba membuatnya sendiri di rumah,” ujar Triningsih (38), anggota KWT Puspita Arum Dusun Gugu 2.
Program edukasi ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah organik secara lebih produktif. Dengan mengolah sisa sayuran menjadi ecoenzyme, volume sampah organik yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat dikurangi.
Selain berdampak pada lingkungan, penggunaan ecoenzyme juga berpotensi membantu warga menekan pengeluaran rumah tangga. Produk tersebut dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk dan bahan pembersih yang biasanya dibeli di pasaran.
Hal ini dinilai relevan dengan kondisi Desa Gunungsari yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani sayuran. Ketersediaan limbah sayuran sebagai bahan baku ecoenzyme relatif melimpah dan mudah diperoleh setiap hari.
Mahasiswa KKN UNS 74 berharap praktik pembuatan ecoenzyme yang telah diperkenalkan ini dapat terus berlanjut secara mandiri oleh warga Dusun Gugu 2. Ke depan, kegiatan serupa juga diharapkan dapat diperluas ke dusun-dusun lain di Desa Gunungsari sebagai bagian dari upaya membangun pengelolaan lingkungan berkelanjutan di tingkat desa.
Penulis : mahasiswa KKN 74 UNS
Editor : Anisa Putri









