Sragen, Sorotnesia.com – Tim KKN 138 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar sosialisasi dan demonstrasi pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) berbahan akar bambu di Desa Kadipiro, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Jumat (30/1/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik pertanian ramah lingkungan berbasis potensi lokal.
Acara yang berlangsung di rumah Ketua Kelompok Tani Sri Makmur, Mardono, itu dihadiri sekitar 30 peserta. Mereka merupakan perwakilan kelompok tani di bawah naungan Gapoktan Amrih Utomo Desa Kadipiro. Kegiatan dimulai pukul 19.00 WIB dan berlangsung interaktif hingga selesai.
Ketua Gapoktan Kadipiro, Sugeng, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir petani di wilayahnya menghadapi persoalan serius berupa penyakit bercak coklat pada daun padi. Serangan penyakit tersebut menyebabkan daun tidak seragam, muncul bercak kecoklatan, hingga terjadi nekrosis atau kematian jaringan.
“Akibatnya pertumbuhan tanaman terganggu, bahkan muncul gejala kerdil. Hasil panen pun tidak maksimal,” ujar Sugeng.
Ia menambahkan, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus diduga ikut memengaruhi keseimbangan hayati tanah. Populasi mikroorganisme antagonis yang berperan menekan patogen penyebab penyakit semakin berkurang. Kondisi itu membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan penyakit.
Dalam konteks tersebut, PGPR diperkenalkan sebagai alternatif solusi. PGPR merupakan kelompok bakteri menguntungkan yang hidup di sekitar perakaran tanaman (rizosfer) dan berfungsi merangsang pertumbuhan sekaligus menekan perkembangan patogen di dalam tanah.
Akar bambu dipilih sebagai bahan utama karena mengandung mikroorganisme lokal seperti Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. Mikroorganisme tersebut berperan sebagai biofertilizer, biostimulan, dan bioprotektan yang mendukung kesehatan tanaman secara alami.
Materi sosialisasi disampaikan oleh Fifi Silfindya, mahasiswa S-1 Agroteknologi angkatan 2022 yang tergabung dalam tim KKN 138 UNS. Ia menjelaskan bahwa PGPR bekerja dengan meningkatkan ketersediaan unsur hara sekaligus memperkuat daya tahan tanaman.
“PGPR membantu merangsang pertumbuhan akar dan menekan patogen di dalam tanah. Bahan dasarnya, seperti akar bambu, mudah ditemukan di sekitar desa sehingga petani bisa memproduksinya sendiri dengan biaya lebih terjangkau,” kata Fifi.
Menurut dia, pupuk hayati ini bersifat slow release, sehingga mikroorganisme di dalamnya bekerja secara bertahap. Aplikasi dapat dilakukan pada berbagai fase pertumbuhan padi dengan interval tertentu, menyesuaikan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
Paparan tersebut disambut antusias peserta. Sejumlah petani mengaku telah memanfaatkan pupuk organik cair (POC) dari limbah sayur dan buah untuk menunjang produksi. Namun, potensi bahan alami lain di sekitar desa, seperti akar bambu, alang-alang, serai, dan rumput gajah, belum dimaksimalkan.
Diskusi semakin hidup ketika petani muda, Kholis, berbagi pengalaman membuat PGPR secara mandiri. Ia menekankan pentingnya proses fermentasi yang tepat.
“Fermentasi optimal biasanya lebih dari dua sampai tiga minggu. Kalau masih ada gas keluar dari wadah, berarti larutan masih masam. Sebelum diaplikasikan ke lahan, kondisinya harus netral agar aman bagi tanaman,” ujarnya.
Setelah sesi materi, tim KKN melanjutkan dengan demonstrasi pembuatan PGPR. Tahapan dimulai dari penyiapan bahan, proses perendaman akar bambu, pencampuran bahan pendukung, hingga teknik fermentasi.
Peserta memperhatikan ciri-ciri fermentasi yang berhasil, seperti munculnya aroma khas menyerupai tape yang tidak menyengat serta terbentuknya lapisan mikroorganisme di permukaan larutan. Penjelasan teknis tersebut dinilai memudahkan petani untuk mempraktikkan secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, tim KKN 138 UNS berharap petani Kadipiro mampu memproduksi pupuk hayati secara berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sarana produksi berbasis kimia sintetis, memperbaiki kualitas tanah, serta memperkuat sistem pertanian berkelanjutan di tingkat desa.
Pendekatan berbasis mikroorganisme lokal dinilai tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem tanah dalam jangka panjang. Di tengah tantangan penyakit tanaman dan degradasi lahan, inovasi sederhana dari akar bambu itu menjadi langkah kecil menuju kemandirian petani.
Penulis : Fifi Silfindya | Prodi S-1 Agroteknologi | UNS
Editor : Anisa Putri









