Meneguhkan Peran Ayah dalam Keluarga, Sekolah Pelangi Alam Ponorogo Gelar Seminar Parenting

- Redaksi

Minggu, 23 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rizqi Tajuddin memberikan materi pada peserta seminar parenting. Foto: Sekolah Pelangi Alam Ponorogo

Rizqi Tajuddin memberikan materi pada peserta seminar parenting. Foto: Sekolah Pelangi Alam Ponorogo

Sekolah Pelangi Alam Ponorogo menggelar seminar parenting bertajuk “Ayah Berperan, Ibu Tidak Baperan” guna menyoroti peran penting ayah dalam pengasuhan. Acara ini diisi oleh Rizqi Tajuddin dari Lingkar Ayah Indonesia dan diakhiri dengan pembentukan komunitas “Papa Hebat” sebagai wadah kolaborasi ayah dan sekolah.

Ponorogo, Sorotnesia.com – Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak menjadi perhatian serius bagi banyak kalangan. Menyikapi urgensi permasalahan ini, Sekolah Pelangi Alam Ponorogo melalui Yayasan Harapan Pelangi mengadakan Seminar Parenting Keayahan bertajuk “Ayah Berperan, Ibu Tidak Baperan” pada Minggu, 23 Februari 2025. Kegiatan ini berlangsung di Aula Planet Warrock Ponorogo dan dihadiri sekitar 70 peserta yang antusias mendalami peran ayah dalam keluarga.

Dwi Rahmat Hakim, Principal Sekolah Pelangi Alam Ponorogo, menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan untuk membuka wawasan para orang tua tentang pentingnya kolaborasi antara ayah dan ibu dalam pendidikan anak.

“Kami ingin menegaskan bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan sangat berpengaruh terhadap keseimbangan emosi dan mental anak,” ujar Hakim.

Sebagai pembicara utama, Rizqi Tajuddin, Ketua Umum Forum Lingkar Ayah Indonesia, menyoroti betapa pentingnya kehadiran ayah secara fisik dan emosional dalam kehidupan anak. Menurutnya, seorang ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik dan pelindung dalam keluarga.

Baca Juga :  Siswa SDN Seloprojo Antusias Ikuti Kegiatan Ecoprint Bersama Tim KKN UNS 81

“Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh The National Fatherhood Initiative (NFI) di Amerika Serikat, fenomena fatherless dapat berakibat buruk bagi perkembangan anak. Anak yang tumbuh tanpa peran ayah cenderung mengalami kesulitan emosi, kurang percaya diri, bahkan lebih rentan terhadap tekanan sosial seperti penyalahgunaan narkoba dan masalah kesehatan mental,” jelas Rizqi.

Rizqi Tajuddin memberikan materi pada peserta seminar parenting. Foto: Sekolah Pelangi Alam Ponorogo
Rizqi Tajuddin memberikan materi pada peserta seminar parenting. Foto: Sekolah Pelangi Alam Ponorogo

Menurut Rizqi, ada empat alasan peran ayang begitu vital dalam keluarga. Pertama, sebagai figur kepercayaan. Seorang anak membutuhkan ayah sebagai teladan dan pemimpin yang memberikan rasa aman. Kedua, membantu regulasi emosi anak. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan bisa menstabilkan emosi anak dan ibu. Ketiga, mengajarkan ketangguhan dan kemandirian. Anak yang dekat dengan ayahnya, cenderung memiliki kepribadian yang kuat. Si anak akan lebih percaya diri dan mandiri dalam menjalani hidup. Dan keempat, menjadi teladan dalam mengambil keputusan dan tanggung jawab.

Dalam seminar ini, Rizqi juga menekankan pentingnya komunikasi yang mendekatkan antara ayah dan anak. “Connection before correction adalah prinsip yang harus diterapkan. Sebelum menetapkan aturan atau larangan, ayah harus terlebih dahulu menjalin kedekatan emosional dengan anak,” imbuhnya.

Seminar parenting ini merupakan rangkaian kegiatan Expo 4 Sekolah Pelangi Alam Ponorogo, yang berlangsung selama tiga hari, dari 21 hingga 23 Februari 2025. Kegiatan ini diawali dengan pentas kreasi anak di hari pertama, dilanjutkan dengan belajar bersama maestro di hari kedua, dan ditutup dengan seminar parenting pada hari ketiga.

Baca Juga :  Kontroversi Awardee LPDP, Pemerintah Tekankan Etika dan Komitmen Kebangsaan

Menurut Hakim, Expo ini bertujuan untuk menampilkan potensi dan bakat siswa serta menjadi ajang edukasi bagi para orang tua mengenai konsep pendidikan berbasis alam. “Kami ingin menekankan bahwa pendidikan anak harus selaras dengan fitrah mereka, dan orang tua harus memahami bagaimana mengarahkan mereka dengan bijak,” katanya.

Salah satu hasil konkret dari seminar ini adalah launching komunitas “Papa Hebat”, yang merupakan singkatan dari Paguyuban Ayah Pelangi Alam Hebat. Komunitas ini diinisiasi oleh para ayah siswa Sekolah Pelangi Alam sebagai wadah diskusi dan berbagi pengalaman dalam pengasuhan anak.

“Melalui komunitas ini, kami berharap ayah-ayah di Ponorogo lebih sadar akan peran mereka dalam keluarga. Kami ingin membangun budaya parenting yang lebih seimbang, di mana ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam mendidik anak,” ujar Sapta Arif, seorang pengajar sastra di STKIP PGRI Ponorogo sekaligus anggota komunitas Papa Hebat.

Dengan adanya seminar ini, diharapkan semakin banyak keluarga yang menyadari pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Perubahan pola pikir dan peningkatan kualitas pengasuhan akan berdampak besar pada tumbuh kembang anak serta kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.

Penulis : Sapta Arif | Pengajar Sastra di STKIP PGRI Ponorogo dan anggota Komunitas Papa Hebat Ponorogo

Editor : Anisa Putri

Sumber Berita: https://www.krajan.id/putus-fenomena-fatherless-sekolah-pelangi-alam-ponorogo-selenggarakan-seminar-parenting-keayahan/

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS Gelar Program KOMPAK untuk Perkuat Ecovillage di Desa Segorogunung
Pengabdian Masyarakat Lewat Sekolah Lansia Tangguh, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia di Sukolilo Surabaya
Kolaborasi Kelembagaan Jadi Ruang Belajar Mahasiswa Administrasi Negara Untag Surabaya
Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global
Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR
Dari Indonesia ke Singapura: Pengalaman Exchange Semester@NIE Mahasiswa Universitas Sebelas Maret di NIE/NTU Singapore
Kolaborasi UPITRA dan RS Mata Solo Dorong Integrasi Sistem Lewat Pelatihan API
Cegah Sejarah Desa Luntur, Mahasiswa KKN UNS Luncurkan Buku “Desa Geneng: Babat Alas dan Sejarah”

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:15 WIB

Tim Hibah MBKM Desa Segorogunung Pendidikan Geografi FKIP UNS Gelar Program KOMPAK untuk Perkuat Ecovillage di Desa Segorogunung

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:00 WIB

Pengabdian Masyarakat Lewat Sekolah Lansia Tangguh, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia di Sukolilo Surabaya

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:54 WIB

Kolaborasi Kelembagaan Jadi Ruang Belajar Mahasiswa Administrasi Negara Untag Surabaya

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:55 WIB

Diskusi Pancasila, UM Soroti Relevansi Trisakti di Tengah Dinamika Global

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:55 WIB

Dorong Pola Makan Sehat, Mahasiswa Departemen Pendidikan IPS UNY Dampingi Program GEBYUR

Berita Terbaru

Keterasingan emosional dalam hubungan menjadi tema utama yang diangkat Armijn Pane dalam novel Belenggu. Sumber: Pinterest

Narasi+

Mengapa Belenggu Masih Terasa Dekat dengan Kehidupan Kita?

Minggu, 14 Jun 2026 - 18:46 WIB