Agroindustri Bikin Kedelai Lokal Naik Kelas, Siap Saingi Pasar Global

- Redaksi

Minggu, 12 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kedelai lokal memiliki potensi besar untuk naik kelas lewat pengembangan agroindustri, dari bahan tahu-tempe hingga produk ekspor berbasis nabati. Sumber: wallpaperflare.com

Kedelai lokal memiliki potensi besar untuk naik kelas lewat pengembangan agroindustri, dari bahan tahu-tempe hingga produk ekspor berbasis nabati. Sumber: wallpaperflare.com

Kedelai bukan sekadar bahan tahu dan tempe komoditas ini kini punya potensi besar jadi bintang baru di pasar global. Tren konsumsi kedelai di Indonesia meningkat tajam sejak 2015. Ada dua alasan utama di balik lonjakan ini.

Pertama, pandemi COVID-19 bikin banyak orang beralih ke protein nabati seperti tahu dan tempe yang lebih terjangkau dibanding daging. Kedua, gaya hidup sehat dan vegetarian yang makin populer di kalangan anak muda serta kelas menengah juga ikut mendorong permintaan produk berbasis kedelai.

Namun, upaya Indonesia untuk meningkatkan produksi kedelai lokal masih belum maksimal. Di sinilah agroindustri berperan penting. Bukan cuma mengolah biji kedelai jadi produk siap konsumsi, tapi juga memperbaiki seluruh rantai produksinya dari cara budidaya, proses pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran. Sekarang, produk olahan kedelai nggak cuma tahu dan tempe aja, tapi juga ada susu nabati, saus fermentasi, dan isolat protein yang mulai dilirik pasar ekspor.

Baca Juga :  Peran Agroindustri dalam Meningkatkan Nilai Tambah Produk Pertanian di Indonesia

Tren global terhadap makanan berbasis nabati (plant-based) dan fungsional lagi naik daun. Ini jadi peluang besar bagi produk kedelai Indonesia untuk menembus pasar Jepang, Korea, Eropa, hingga Amerika Serikat. Apalagi, produk fermentasi seperti tempe punya keunikan budaya dan nilai gizi tinggi yang sulit ditandingi.

Tapi, perjalanan menuju pasar dunia nggak semudah itu. Tantangan terbesar ada di mutu dan ketersediaan bahan baku. Pengendalian mutu mulai dari varietas unggul, pengendalian hama, waktu panen yang tepat, sampai penanganan pascapanen harus benar-benar diperhatikan. Di sisi pengolahan, proses fermentasi, kebersihan, pengemasan, dan fortifikasi gizi juga wajib sesuai standar internasional.

Baca Juga :  Menumbuhkan Nilai, Bukan Sekadar Hasil: Cerita tentang Peran Agroindustri di Tanah Air

Pemerintah pun perlu fokus pada lima hal penting untuk memperkuat produksi kedelai nasional: perluasan lahan tanam, peningkatan produktivitas, stabilitas hasil, pengurangan kesenjangan hasil, dan minimisasi kehilangan pascapanen. Dengan strategi yang tepat, kedelai lokal bukan cuma bisa mandiri, tapi juga berdaya saing tinggi di pasar global.

Agroindustri jelas jadi penggerak utama transformasi ini. Kalau rantai produksinya kuat dan efisien, bukan mustahil kedelai Indonesia bakal jadi ikon pangan masa depan yang sehat, berkelanjutan, dan mendunia.

Refrensi :

  • Kharisma, B. 2018. Determinan Produksi Kedelai di Indonesia dan Implikasi Kebijakannya. E-Jurnal ekonomi dan bisnis Universitas Udayana. Vol. 7(3): 679-710.
  • Permana, F., Karim, A. R., dan Hidayat, P. 2024. Produksi dan Impor Kedelai di Indonesia: Systematic Literature Review. Jurnal Ilmu Pertanian. Vol. 8(1): 41-49.


Penulis : Wulan Vanezia | Mahasiswi Jurusan Teknologi Pangan | Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah
Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan
Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?
Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?
Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis
Pendekatan Fisioterapi dalam Rehabilitasi Anak dengan Down Syndrome
Peralatan Bantu Rehabilitasi Pasien Fraktur Siku Berbasis AI dan IoT untuk Meningkatkan Kualitas Terapi
Pengembangan Karier Fisioterapi: Dari Ruang Klinik hingga Dunia Akademik

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:21 WIB

Pasal 412 UU No. 1 Tahun 2023 dan Tradisi Kawin Masyarakat Lampung (Sebambangan): Tinjauan Yuridis dan Maqāṣid al-Sharī‘ah

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:57 WIB

Dari Ladang ke Kosmos: Padungku sebagai Jembatan Sakral–Profan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:45 WIB

Mengapa Negara Perlu Memperluas Akses Fisioterapi untuk Anak Cerebral Palsy?

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:49 WIB

Dilema Profesi: Fisioterapis sebagai Tenaga Medis Mandiri atau Sekadar Asisten Dokter?

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:56 WIB

Cedera Sepak Bola yang Bisa Memperpendek Karier Atlet, Ini Peran Fisioterapis

Berita Terbaru