KKN UNS Kelompok 29 Gandeng EXALOS dan KATANYAPALA Edukasi Warga Grogol Soal Interaksi Aman dan Penanganan Gigitan Ular

- Redaksi

Kamis, 26 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 29 berfoto bersama narasumber dari EXALOS Indonesia, KATANYAPALA, serta perangkat desa dan warga usai kegiatan sosialisasi penanganan ular di depan Pendopo Kalurahan Grogol, Selasa (27/1/2026). Foto: Dokumentasi KKN UNS Kelompok 29 Grogol

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 29 berfoto bersama narasumber dari EXALOS Indonesia, KATANYAPALA, serta perangkat desa dan warga usai kegiatan sosialisasi penanganan ular di depan Pendopo Kalurahan Grogol, Selasa (27/1/2026). Foto: Dokumentasi KKN UNS Kelompok 29 Grogol

Gunung Kidul, Sorotnesia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Kelompok 29 periode Januari–Februari 2026 menggelar edukasi keselamatan bagi warga pedesaan yang berisiko berhadapan dengan satwa liar. Kegiatan bertajuk “Penanganan Gigitan dan Interaksi Aman dengan Ular” itu berlangsung pada Selasa (27/1/2026) di Pendopo Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul.

Dalam pelaksanaannya, KKN UNS Kelompok 29 berkolaborasi dengan dua organisasi pemerhati dan penyelamat reptil, yakni EXALOS INDONESIA dan KATANYAPALA. Sinergi ini dilakukan untuk memastikan materi yang disampaikan berbasis keahlian lapangan dan standar penanganan yang tepat.

Kalurahan Grogol dikenal memiliki bentang lahan pertanian dan kawasan hutan yang cukup luas. Kondisi geografis tersebut membuat potensi perjumpaan warga dengan ular baik di sawah, kebun, maupun area permukiman relatif tinggi. Situasi ini kerap menimbulkan kepanikan, terutama ketika warga tidak memiliki pengetahuan memadai tentang cara bersikap dan bertindak saat bertemu ular.

Ketua pelaksana KKN UNS Kelompok 29 menjelaskan, program ini dirancang berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan masyarakat setempat. Sejumlah petani mengaku pernah berhadapan langsung dengan ular saat bekerja di ladang. Namun, sebagian besar belum memahami langkah pencegahan maupun prosedur pertolongan pertama yang benar apabila terjadi gigitan.

“Kami melihat ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga. Tujuannya bukan hanya melindungi keselamatan manusia, tetapi juga mencegah tindakan yang justru merusak keseimbangan ekosistem,” ujarnya.

Baca Juga :  Satu Titik Seribu Pandang, Ikon Wisata Baru dari KKN UNS di Desa Glapansari

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–12.00 WIB itu dihadiri perangkat kalurahan, tokoh masyarakat, serta puluhan anggota kelompok tani. Materi disampaikan secara bertahap melalui pemaparan teori, diskusi interaktif, dan simulasi langsung.

Narasumber dari komunitas mitra memulai dengan pengenalan jenis-jenis ular yang umum dijumpai di wilayah Gunung Kidul. Peserta diajak memahami perbedaan karakteristik ular berbisa tinggi seperti King Cobra, welang, maupun jenis ular tanah, dengan ular tidak berbisa yang kerap disalahartikan sebagai ancaman mematikan.

Penjelasan tersebut penting untuk meluruskan persepsi yang berkembang di masyarakat. Tidak semua ular berbahaya, dan tidak semua perjumpaan harus berakhir dengan tindakan pembunuhan satwa. Pemahaman jenis ular menjadi dasar dalam menentukan respons yang tepat.

Selain itu, peserta juga dibekali strategi pencegahan di lingkungan rumah. Warga diimbau menjaga kebersihan halaman, menutup celah masuk ke rumah, serta mengelola sampah dan tumpukan barang yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular. Upaya preventif dinilai lebih efektif dibanding penanganan saat kondisi darurat.

Narasumber dari EXALOS INDONESIA dan KATANYAPALA memberikan simulasi pengenalan perilaku ular di hadapan warga dan mahasiswa KKN UNS Kelompok 29 di Pendopo Kalurahan Grogol, Selasa (27/1/2026). Foto: Dokumentasi KKN UNS Kelompok 29 Grogol
Narasumber dari EXALOS INDONESIA dan KATANYAPALA memberikan simulasi pengenalan perilaku ular di hadapan warga dan mahasiswa KKN UNS Kelompok 29 di Pendopo Kalurahan Grogol, Selasa (27/1/2026). Foto: Dokumentasi KKN UNS Kelompok 29 Grogol

Sesi yang paling menyita perhatian adalah pembahasan mengenai pertolongan pertama gigitan ular. Narasumber menegaskan bahwa praktik lama seperti mengikat luka terlalu kencang (torniket), menyedot darah, atau menyayat area gigitan merupakan tindakan keliru dan berbahaya. Cara tersebut dapat memperparah kerusakan jaringan serta mempercepat penyebaran racun.

Baca Juga :  Ecoprint Jadi Langkah Pemberdayaan Perempuan Desa Musuk Lewat Kreativitas Alam

Sebagai gantinya, peserta diperkenalkan pada teknik imobilisasi, yakni meminimalkan gerakan pada bagian tubuh yang tergigit agar racun tidak cepat menyebar melalui sistem limfatik. Korban dianjurkan tetap tenang, membatasi aktivitas fisik, dan segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Simulasi langsung dilakukan untuk memastikan peserta memahami prosedur tersebut. Beberapa petani turut membagikan pengalaman pribadi saat menghadapi ular di sawah. Pengalaman itu kemudian dikaji bersama untuk diluruskan berdasarkan standar medis dan teknik penyelamatan satwa.

Narasumber dari EXALOS INDONESIA dan KATANYAPALA memperagakan teknik penanganan ular secara aman sebagai edukasi keselamatan bagi masyarakat di hadapan warga dan mahasiswa KKN UNS Kelompok 29 di Pendopo Kalurahan Grogol, Selasa (27/1/2026). Foto: Dokumentasi KKN UNS Kelompok 29 Grogol
Narasumber dari EXALOS INDONESIA dan KATANYAPALA memperagakan teknik penanganan ular secara aman sebagai edukasi keselamatan bagi masyarakat di hadapan warga dan mahasiswa KKN UNS Kelompok 29 di Pendopo Kalurahan Grogol, Selasa (27/1/2026). Foto: Dokumentasi KKN UNS Kelompok 29 Grogol

Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan sepanjang sesi diskusi. Sejumlah peserta mengaku baru mengetahui bahwa kepanikan dan tindakan spontan justru dapat meningkatkan risiko fatalitas.

Melalui kegiatan ini, KKN UNS Kelompok 29 berharap masyarakat Kalurahan Grogol memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang mitigasi konflik satwa. Edukasi yang tepat dinilai mampu menekan risiko kecelakaan akibat gigitan ular sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Keselamatan warga adalah prioritas. Namun menjaga keseimbangan alam juga tidak kalah penting. Edukasi ini menjadi jembatan agar keduanya dapat berjalan beriringan,” ujar perwakilan tim KKN UNS menutup kegiatan.

Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis edukasi, program ini diharapkan menjadi model sinergi antara mahasiswa, komunitas pakar, dan masyarakat dalam membangun budaya tanggap risiko di wilayah pedesaan.


Penulis : Tim KKN UNS Kelompok 29

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa KKN 13 UNS Perkuat Identitas Desa Samiran Melalui Strategi Branding Berbasis Visual
Akar Bambu Jadi Solusi, KKN 138 UNS Sosialisasikan Pembuatan PGPR Ramah Lingkungan kepada Petani Kadipiro, Sragen
Kreatif dan Peduli Lingkungan, Mahasiswa KKN 144 UNS Ajak Kelompok Wanita Tani Olah Sampah Dapur Jadi POC
Kolaborasi Edukasi Digital, KKN UNS 157 Perkuat Literasi Anti-Penipuan Warga Watangasono
FGD KKN UNS Gandeng DPRD, Desa Lebak Dorong Penguatan UMKM dan SDM Muda
Tingkatkan Kapasitas Perencanaan Infrastruktur Desa, KKN-T UNS 151 Gelar Pelatihan AutoCAD di Banjarsari
Mahasiswa KKN UNS Gelar Simulasi Mitigasi Longsor di Desa Gembuk Pacitan, Tingkatkan Kesiapsiagaan Siswa
Mahasiswa KKN-PPM UMBY 2026 Tindak Lanjuti Keluhan Warga, Pasang Jaring Penutup Talang Air di Dusun Ngepoh Kidul

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 00:32 WIB

KKN UNS Kelompok 29 Gandeng EXALOS dan KATANYAPALA Edukasi Warga Grogol Soal Interaksi Aman dan Penanganan Gigitan Ular

Senin, 23 Februari 2026 - 10:30 WIB

Mahasiswa KKN 13 UNS Perkuat Identitas Desa Samiran Melalui Strategi Branding Berbasis Visual

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:31 WIB

Akar Bambu Jadi Solusi, KKN 138 UNS Sosialisasikan Pembuatan PGPR Ramah Lingkungan kepada Petani Kadipiro, Sragen

Rabu, 18 Februari 2026 - 23:10 WIB

Kreatif dan Peduli Lingkungan, Mahasiswa KKN 144 UNS Ajak Kelompok Wanita Tani Olah Sampah Dapur Jadi POC

Rabu, 18 Februari 2026 - 16:47 WIB

Kolaborasi Edukasi Digital, KKN UNS 157 Perkuat Literasi Anti-Penipuan Warga Watangasono

Berita Terbaru