Pacitan, Sorotnesia.com – Mahasiswa KKN-T Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Periode Januari–Februari 2026 menggelar program bimbingan belajar literasi di SDN 2 Sanggrahan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara siswa melalui materi teks deskripsi yang diintegrasikan dengan potensi komoditas unggulan desa.
Program berlangsung selama dua hari, Senin (2/2/2026) dan Selasa (3/2/2026), dengan melibatkan seluruh siswa kelas IV. Mahasiswa KKN-T Kelompok 100 mengajak siswa mengenali potensi desanya melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, yakni mendeskripsikan komoditas perkebunan yang menjadi andalan masyarakat setempat.
Desa Sanggrahan dikenal memiliki potensi sumber daya alam yang cukup beragam. Salah satu komoditas unggulan yang telah lama menjadi mata pencaharian warga adalah kopi. Sektor perkebunan kopi tidak hanya berperan dalam menopang ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan sebagai bahan baku industri kreatif dan produk olahan bernilai tambah.
Ketua pelaksana kegiatan, Chelvica Aqilla Eyvo Mahendrajaya, mengatakan bahwa program ini dirancang untuk menjawab tantangan rendahnya capaian literasi dasar pada anak usia sekolah dasar. Ia menilai penguatan literasi perlu dilakukan dengan metode yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Kami ingin menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus relevan dengan lingkungan mereka. Anak-anak tidak hanya belajar teori teks deskripsi, tetapi juga mengenal potensi desa sendiri,” ujarnya.
Kepala SDN 2 Sanggrahan, Mohammad Su’ban, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurut dia, kehadiran mahasiswa KKN memberi warna baru dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Saya menyambut baik kehadiran kakak-kakak UNS di sini. Harapannya, anak-anak bisa belajar dengan suasana baru. Pada akhirnya, yang terpenting adalah anak-anak merasa senang dan termotivasi,” katanya.

Pada hari pertama, mahasiswa memberikan materi dasar tentang teks deskripsi, meliputi pengertian, tujuan, ciri-ciri, serta struktur penulisan. Penyampaian materi disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di sekolah dan kebutuhan siswa kelas IV.
Pembelajaran berlangsung interaktif. Siswa diajak membaca materi bersama untuk melatih kemampuan membaca. Selanjutnya, mereka diminta menulis teks deskripsi dengan tema bebas sebagai latihan keterampilan menulis. Di akhir sesi, beberapa siswa mempresentasikan hasil tulisannya di depan kelas untuk mengasah kemampuan berbicara.
Metode dua arah ini membuat suasana kelas lebih hidup. Siswa tampak aktif bertanya dan menjawab pertanyaan. Guru kelas yang mendampingi juga terlibat dalam proses diskusi, memastikan materi dapat dipahami dengan baik.

Pada hari kedua, kegiatan difokuskan pada praktik langsung dengan tema kopi sebagai komoditas unggulan desa. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan didampingi mahasiswa dalam menyusun mind map bertema kopi.
Sebelum menulis, siswa diajak mengamati biji kopi menggunakan pancaindra. Mereka memperhatikan bentuk, warna, tekstur, hingga aroma biji kopi. Hasil pengamatan tersebut kemudian dituangkan ke dalam kerangka mind map sesuai struktur teks deskripsi yang telah dipelajari sebelumnya.
Pendekatan ini bertujuan agar siswa mampu menghubungkan pengalaman konkret dengan konsep tertulis. Dengan cara tersebut, siswa tidak sekadar menyalin teori, tetapi benar-benar memahami objek yang dideskripsikan.
Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil mind map di depan kelas. Siswa membacakan teks deskripsi yang telah disusun dengan penuh percaya diri. Presentasi ini menjadi sarana evaluasi sekaligus penguatan kemampuan berbicara.
Kegiatan berlangsung lancar dan mendapat respons antusias dari siswa maupun pihak sekolah. Integrasi antara pembelajaran literasi dan pengenalan komoditas unggulan desa dinilai mampu meningkatkan minat belajar siswa.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-T UNS berharap literasi tidak lagi dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi diharapkan menjadi sarana bagi generasi muda untuk memahami, mencintai, dan mengembangkan potensi lingkungan sekitarnya.
Upaya penguatan literasi berbasis konteks lokal ini menjadi contoh bahwa pembelajaran dapat dikaitkan langsung dengan realitas sosial dan ekonomi desa. Dengan pendekatan yang tepat, sekolah dasar dapat menjadi ruang awal bagi lahirnya generasi yang cakap literasi sekaligus peka terhadap potensi daerahnya.
Penulis : Chelvica Aqilla Eyvo Mahendrajaya / KKN-T UNS Kelompok 100 Periode Januari–Februari 2026
Editor : Anisa Putri









