Perubahan selalu hadir dalam perjalanan sebuah bangsa. Politik berganti arah, ekonomi bergerak naik turun, sementara struktur sosial terus mengalami penyesuaian seiring perkembangan zaman. Dalam banyak kesempatan, perubahan dipahami sebagai tanda kemajuan. Negara berkembang, teknologi semakin canggih, dan berbagai kebijakan baru lahir atas nama kesejahteraan masyarakat. Namun, di balik narasi besar tentang pembangunan, ada kelompok yang kerap terlupakan, yakni orang-orang biasa yang harus menanggung dampak perubahan secara langsung tanpa memiliki ruang untuk menentukan arahnya.
Kegelisahan tersebut tergambar kuat dalam novel Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam yang pertama kali terbit pada 1975. Melalui kisah dua perempuan dengan latar kehidupan berbeda, Umar Kayam menyajikan potret masyarakat Indonesia yang berhadapan dengan perubahan sosial dan politik secara sunyi. Novel ini tidak berbicara tentang tokoh besar, penguasa, atau para pembuat kebijakan. Sebaliknya, perhatian pembaca diarahkan pada individu-individu biasa yang hidup di pinggiran sejarah, tetapi justru paling merasakan dampaknya.
Tokoh Sri Sumarah digambarkan sebagai perempuan sederhana yang menjalani kehidupan dengan kesabaran luar biasa. Ia menghadapi berbagai persoalan hidup tanpa banyak protes, meskipun keadaan sering kali tidak berpihak kepadanya. Hidup Sri dipenuhi keterbatasan, pengorbanan, serta tanggung jawab yang harus ditanggung dengan tenang. Di tengah tekanan hidup, ia tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan.
Karakter Sri Sumarah terasa dekat dengan realitas masyarakat Indonesia hari ini. Banyak orang bekerja keras dari pagi hingga malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terus meningkat. Harga kebutuhan pokok naik, lapangan pekerjaan tidak selalu stabil, dan tekanan ekonomi semakin terasa, terutama bagi kelompok kelas menengah bawah. Meski demikian, banyak dari mereka tetap menjalani hidup dengan kesabaran, bahkan sering kali tanpa ruang untuk mengeluh.
Dalam konteks ini, Sri Sumarah menjadi representasi tentang daya tahan masyarakat kecil. Mereka mungkin tidak hadir dalam statistik pembangunan atau menjadi sorotan media, tetapi kehidupan mereka menjadi fondasi yang menjaga keberlangsungan sosial. Ketabahan semacam ini sering dianggap biasa karena terlalu sering ditemui, padahal di baliknya tersimpan perjuangan panjang yang tidak ringan.
Sementara itu, tokoh Bawuk menghadirkan lapisan persoalan yang lebih kompleks. Kehidupannya tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial dan politik pada masanya. Pilihan hidup yang ia ambil menyeretnya pada berbagai konsekuensi besar, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi keluarga yang berada di sekelilingnya. Umar Kayam menunjukkan bahwa keputusan politik, konflik ideologi, dan perubahan kekuasaan tidak pernah berhenti di ruang elite. Getarannya menjalar hingga ke rumah-rumah kecil masyarakat biasa.
Melalui Bawuk, pembaca diajak memahami bahwa konflik sosial-politik sering kali menyisakan luka panjang bagi mereka yang sebenarnya tidak memiliki kuasa atas situasi tersebut. Dalam berbagai peristiwa sejarah, kelompok rentan justru menjadi pihak yang paling banyak menanggung akibat. Mereka kehilangan rasa aman, pekerjaan, bahkan hubungan keluarga, hanya karena berada dalam pusaran keputusan yang dibuat oleh orang lain.
Kekuatan utama tulisan Umar Kayam terletak pada kemampuannya menghadirkan sejarah melalui pengalaman manusia biasa. Ia tidak menempatkan sejarah sebagai sesuatu yang jauh dan monumental. Sejarah justru hadir dalam ruang keluarga, percakapan sehari-hari, rasa takut, kehilangan, dan pilihan hidup yang serba sulit. Pendekatan semacam ini membuat Sri Sumarah dan Bawuk tetap relevan dibaca hingga sekarang.
Di tengah kehidupan modern, masyarakat kerap dibanjiri narasi tentang kemajuan, pertumbuhan ekonomi, dan transformasi digital. Teknologi berkembang pesat, akses informasi terbuka luas, serta berbagai inovasi terus diperkenalkan. Akan tetapi, kemajuan tidak selalu dirasakan secara merata. Masih ada masyarakat yang hidup dalam keterbatasan akses pendidikan, kesulitan ekonomi, hingga ketidakpastian masa depan akibat perubahan pasar kerja.
Situasi tersebut menghadirkan pertanyaan penting: siapa sebenarnya yang menikmati hasil perubahan? Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kesenjangan sosial masih menjadi persoalan nyata. Sebagian kelompok mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman, sementara sebagian lain tertinggal karena keterbatasan sumber daya dan kesempatan.
Novel Sri Sumarah dan Bawuk mengingatkan bahwa kemajuan tidak cukup diukur melalui pembangunan fisik, pertumbuhan angka ekonomi, atau keberhasilan investasi semata. Ukuran kemajuan yang lebih manusiawi terletak pada kemampuan masyarakat menghadirkan keadilan bagi seluruh lapisan warga, terutama mereka yang paling rentan terhadap dampak perubahan.
Selain itu, karya Umar Kayam juga mengajarkan pentingnya empati sosial. Kehidupan seseorang tidak selalu sesederhana yang terlihat dari permukaan. Orang-orang yang tampak biasa sering kali menyimpan kisah panjang tentang kehilangan, perjuangan, dan pengorbanan yang tidak pernah diketahui orang lain. Kesadaran semacam ini menjadi penting di tengah masyarakat yang semakin cepat menilai tanpa memahami latar belakang seseorang.
Sri Sumarah dan Bawuk bukan sekadar karya sastra tentang masa lalu. Novel ini menjadi refleksi yang terus hidup dalam realitas Indonesia hingga hari ini. Di balik setiap perubahan besar, selalu ada manusia-manusia biasa yang berusaha bertahan dalam keterbatasan. Mereka mungkin tidak tercatat sebagai aktor utama sejarah, tetapi kehidupan merekalah yang paling sering diuji oleh perubahan itu sendiri. Karena itulah, setiap pembicaraan mengenai pembangunan, perubahan sosial, dan kemajuan bangsa semestinya tidak melupakan mereka yang selama ini berjalan dalam senyap sambil memikul beban paling berat.
Penulis : Widia Astuti / UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor : Anisa Putri









