Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh siswa, dibimbing, dan difasilitasi oleh guru. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat mendalam. Pada era saat ini, informasi bisa diakses secepat kedipan mata. Cukup ketik di Google, buka YouTube, atau bertanya ke ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform AI lainnya. Siswa hari ini fasih menggunakan teknologi dan mereka bisa membuat rangkuman materi dalam beberapa detik, membuat presentasi dengan AI, bahkan menulis esai hanya dengan satu perintah atau prompt.
Lalu, untuk apa masih ada guru? Secanggih apa pun iptek, penanaman nilai karakter tidak bisa dilakukan oleh robot. AI bisa menjelaskan rumus, tetapi tidak bisa memeluk siswa yang gagal. AI bisa memberi kuis, tetapi tidak bisa menatap mata siswa dan berkata, “Kamu pasti mampu!” Artinya, AI tidak punya hati selayaknya manusia sehingga guru tidak akan tergantikan oleh robot. Gurulah yang hadir untuk menguatkan, membimbing, dan menjadi fasilitator tumbuh kembang karakter siswa. Guru adalah lentera di tengah abu-abunya zaman.
Kilas balik dari warisan Ki Hajar Dewantara, yaitu pendidikanlah yang menghidupkan semua lini kehidupan. Sudah sejak lama Ki Hajar Dewantara mewariskan gagasan besar tentang pendidikan. Ada dua hal penting yang menjadi pegangan kita sampai hari ini, yaitu sistem “Among” dan konsep “Empat Pilar Pendidikan”.
Sistem Among menekankan tiga semboyan, yaitu ing ngarsa sung tuladha, di depan memberi teladan; ing madya mangun karsa, di tengah membangun semangat; dan tut wuri handayani, di belakang memberi dorongan. Guru tidak memerintah dari jauh, tetapi berjalan bersama siswa. Empat Pilar Pendidikan, yaitu olah hati, olah pikir, olah karsa, dan olahraga.
Sistem dan konsep tersebut menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar mengisi kepala dengan rumus dan hafalan. Pendidikan merupakan proses menggunakan hati agar beradab, mengasah pikir agar kritis, memberdayakan karsa agar berdaya, dan mengolah raga agar sehat. Keempat pilar tersebut tidak akan jalan jika hanya ada di sekolah, tetapi juga harus bersinergi dengan “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jika ketiganya tidak seirama, maka pendidikan akan timpang karena guru tidak bisa bekerja sendiri. Tambah pula, orang tua dan lingkungan masyarakat juga harus menjadi guru.
Semakin maju iptek, semakin kompleks pula tantangan yang dihadapi siswa dengan badai kerentanan dan ancaman yang menerpa mereka. Dunia mereka bukan lagi hanya ruang kelas dan halaman sekolah. Namun, pengaruh media sosial tidak bisa terbendung. Di satu sisi, media sosial membuka wawasan, tetapi di sisi lain akan membawa badai kerentanan dan ancaman bagi siswa, seperti perundungan siber, pelecehan, konten tidak pantas, pergaulan bebas, tawuran yang dikoordinasikan lewat grup WA, bahkan provokasi ideologi dari berbagai kalangan.
Paling mirisnya, sebagian oknum orang dewasa, bahkan pejabat, justru ikut andil dalam merusak dengan menormalisasi ujaran kebencian, menyebarkan hoaks, atau menjadi contoh buruk di ruang publik yang mengobrak-abrik marwah guru dalam dunia pendidikan. Padahal, seharusnya mereka hadir untuk mengarahkan ke hal yang baik dan benar. Siswa hari ini sangat rentan karena dibombardir informasi, tetapi belum tentu punya kompas untuk mengarahkan dan menyaringnya. Siswa membutuhkan orang dewasa yang hadir, bukan hanya memberi tugas, tetapi juga mendengar, menuntun, dan melindunginya dengan jalan yang baik serta benar, bukan menyesatkan.
Melihat derasnya arus tantangan yang terjadi dewasa ini, dunia pendidikan tidak bisa diam saja. Salah satu upaya paling mendasar adalah meningkatkan kualitas guru. Satu hal yang harus dipahami oleh dunia pendidikan, pemangku kepentingan, pejabat publik, dan masyarakat luas adalah bahwa guru yang bahagia akan menciptakan siswa yang bahagia pula. Guru yang tidak terzalimi akan bertumbuh dan akan menumbuhkan siswanya. Seperti halnya di Bali, khususnya Kota Denpasar, baru-baru ini pada Juli 2026 melaksanakan pelatihan “Diseminasi PKG 7 Jurus BK Hebat” dengan metode ARKA, “Apresiasi, Refleksi, Kolaborasi, dan Aksi”.
Pelatihan ini tidak membosankan dan tidak membebani karena tidak dimulai dari teori yang menumpuk, tetapi dimulai dari apresiasi dengan berbagi pengalaman nyata dari guru di lapangan. Apa masalah yang dihadapi hari ini? Siswa seperti apa yang paling menantang? Selanjutnya, masuk refleksi yang membedah teori bersama.
Apakah teori ini cocok dengan realitas di sekolah? Kemudian, adanya kolaborasi para guru dari berbagai sekolah untuk berdiskusi, saling menguatkan, dan saling memberi ide. Tahap terakhir, yaitu aksi dengan langsung merancang praktik simulasi untuk diaktualisasikan melalui main peran dalam kelas pelatihan.
Salah satu contohnya, yaitu Kelas Denpasar 3 yang didampingi oleh Kak Dayu Nanda dan Kak Padmi sebagai fasilitator daerah yang mumpuni dalam penerapan metode ARKA yang humanis sehingga mampu membuat suasana pelatihan menjadi hidup, asyik, gokil, dan tercipta kekeluargaan yang sangat luar biasa antarpeserta, walaupun sebatas dua hari tatap muka luring. Tidak ada guru yang mengantuk, tidak ada yang merasa “ditatar”, bahkan yang ada hanyalah rasa lega karena akhirnya ada pelatihan yang keren sebagai ruang untuk bicara, didengar, dan bertumbuh bersama dengan penuh kekeluargaan.
Para guru yang ikut pelatihan pulang dengan satu keyakinan, “Saya tidak sendiri, saya punya keluarga baru, dan saya bisa!” Dari semangat itulah, pelatihan Diseminasi 7 Jurus BK Hebat sangat diperlukan di dunia pendidikan sebagai kompas di tengah kompleksitas tantangan global. Program yang dirancang khusus untuk meningkatkan kompetensi guru dalam membina karakter dan pengembangan pribadi siswa yang bukan sekadar teori di atas kertas, tetapi praktik yang bisa dilakukan siapa saja dalam berbagai bidang kehidupan sehari-hari.
7 Jurus BK Hebat, di antaranya pertama, kenali potensi yang dapat membantu siswa mengeksplorasi minat dan bakat melalui asesmen diagnosis nonkognitif. Setiap anak unik dan tugas guru adalah menemukan “cahaya” pada diri anak itu, bukan memaksa semua anak sama. Kedua, kelola emosi yang melatih murid memahami dan mengekspresikan emosi dengan sehat. Marah boleh, sedih boleh, dan bahagia boleh. Namun, harus tahu cara menyalurkannya tanpa menyakiti diri dan orang lain. Ketiga, tumbuhkan resiliensi yang membangun daya lenting agar murid tidak mudah menyerah pada kegagalan. Jatuh itu biasa, tetapi bangkit lagi yang harus kita latih. Keempat, jaga konsistensi untuk menumbuhkan kebiasaan positif dan disiplin diri yang berkelanjutan. Karakter terbentuk dari hal kecil yang diulang setiap hari dan dilakukan secara konsisten. Kelima, jalin koneksi yang membangun komunikasi empati dan hubungan hangat antara guru dengan murid. Anak akan belajar dari orang yang ia percaya. Keenam, bangun kolaborasi untuk menggerakkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat karena pendidikan adalah kerja tim. Ketujuh, menata situasi agar menciptakan iklim lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Kelas yang menakutkan tidak akan melahirkan pembelajar yang berani.
Tujuh jurus tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan, “Guru harus bagaimana pada era AI?” Jawabannya, “Menjadi manusia seutuhnya bagi siswa.” Praktik di kelas sesungguhnya setelah pelatihan dapat saya mulai dari jurus “Kenali Potensi”. Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya memulai tahun ajaran baru dengan jurus pertama melalui asesmen diagnostik nonkognitif untuk pemetaan gaya belajar siswa.
Pada awal pembelajaran, saya memberikan tes sederhana, tetapi bukan tes untuk diberi nilai. Tes ini berisi pertanyaan kontekstual tentang kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan 16 pertanyaan melalui platform digital pada tautan “Tes Minat dan Bakat-Aku Pintar” di akupintar.id.
Cara lain juga bisa melalui contoh pertanyaan sederhana, “Saat diminta menghafal puisi, kamu lebih mudah dengan cara apa? Membacanya berulang-ulang, mendengarkan rekaman, atau sambil berjalan dan menggerakkan tangan?” atau “Saat belajar, kamu lebih suka melihat gambar, mendengarkan penjelasan, atau langsung praktik?”
Dari jawaban siswa, muncul persentase kecenderungan visual, auditorial, atau kinestetik. Ada siswa yang dominan “Pengamat”, “Pendengar”, atau “Praktisi”. Hasil ini langsung diketahui oleh siswa dan diajak refleksi dengan tujuan agar siswa menjadi sadar, “Oh, ternyata ini cara belajar saya yang sesungguhnya.” Kesadaran ini membuat mereka lebih siap menerima materi dan mengetahui strategi yang cocok untuk dirinya.
Selanjutnya, bagi guru, “Saya jadi lebih mudah mengenal cara belajar siswa. Saya tidak bisa mengajar dengan satu cara untuk siswa satu kelas. Saya harus bervariasi saat menjelaskan teks berita. Saya siapkan infografis untuk visual, siniar berita untuk auditorial, dan simulasi wawancara untuk kinestetik.”
Dampaknya langsung terasa, siswa lebih senang dan nyaman di kelas. Mereka merasa “dilihat” dan minim lagi ada ungkapan, “Pak, saya nggak bisa.” Selanjutnya, akan muncul ucapan, “Pak, saya lebih paham kalau pakai cara ini.” Saat siswa senang dalam berproses, guru pun ikut bahagia. Inilah esensi menjadi lentera di tengah abu-abunya zaman. Guru tidak memaksa siswa mengikuti cahaya guru, tetapi membantu mereka menemukan cahaya mereka sendiri.
Menjadi guru pada era kemajuan iptek, informasi akan datang dari segala arah yang semakin tidak terarah, bising, dan penuh abu-abu. AI akan semakin pintar, ChatGPT akan semakin canggih, tetapi satu hal yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh AI, yaitu sentuhan hati manusia. Siswa tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi juga membutuhkan figur yang bertanya, “Kamu sudah makan?” Mereka membutuhkan guru yang menegur dengan kasih, bukan dengan sapaan maya atau halu. Mereka membutuhkan orang dewasa yang konsisten memberi contoh.
Ki Hajar Dewantara bahkan sudah mengingatkan kita sejak dulu. Pendidikan adalah pembudayaan yang hanya bisa terjadi jika ada manusia yang hadir secara utuh dengan hati, pikir, karsa, dan raga. Tujuh Jurus BK Hebat mengingatkan kita untuk kembali ke dasar. Kenali anakmu, kelola emosinya, bangun ketahanannya, jaga kebiasaannya, dekatlah dengannya, ajak orang tuanya, dan buatlah kelas yang nyaman serta aman.
Mungkin kita tidak bisa membendung arus media sosial. Mungkin kita tidak bisa menghapus semua ancaman. Namun, kita bisa memastikan bahwa di sekolah ada satu orang guru yang tidak menyerah pada anak-anak. Saya percaya, dari satu kelas Bahasa Indonesia yang gurunya mau memetakan gaya belajar siswa akan lahir siswa yang mengenal dirinya.
Dari satu siswa yang mengenal dirinya akan lahir generasi yang tidak mudah goyah oleh arus. Dan dari situlah pendidikan yang sesungguhnya terjadi, bukan karena teknologi paling canggih, tetapi karena ada guru yang hadir, menguatkan, dan tidak pernah berhenti menjadi lentera. Ya, siswa berkarakter baik akan tumbuh ketika potensinya dikenali. Guru pun ikut bahagia karena tahu kehadirannya sangat berarti.
Penulis : Kadek Astuyasa, S.Pd. / Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 17 Denpasar
Editor : Anisa Putri








