Reformasi Jaring Pengaman Sosial dan Ekonomi Perawatan bagi Lansia di Pedesaan

- Redaksi

Rabu, 17 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia tengah memasuki fase penting dalam transisi demografi. Berdasarkan data Statistik Penduduk Lanjut Usia 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lanjut usia (lansia) telah mencapai 11,75 persen dari total populasi nasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki era ageing population, yaitu kondisi ketika proporsi penduduk usia lanjut terus meningkat dan menjadi bagian signifikan dari struktur penduduk.

Perubahan demografis ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Salah satu tantangan terbesar terletak pada fakta bahwa 44,65 persen lansia Indonesia tinggal di wilayah pedesaan. Di tengah keterbatasan fasilitas publik, akses layanan kesehatan, perlindungan sosial, serta peluang ekonomi, kelompok ini menghadapi risiko kerentanan yang jauh lebih besar dibandingkan lansia yang tinggal di perkotaan.

Ironisnya, masa tua yang seharusnya menjadi periode untuk menikmati hasil kerja sepanjang hidup justru sering kali menjadi masa yang penuh ketidakpastian. Di berbagai desa, masih banyak lansia yang harus bekerja hingga usia senja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka tetap turun ke sawah, menjadi buruh harian, berdagang kecil-kecilan, atau melakukan pekerjaan fisik lainnya karena tidak memiliki sumber pendapatan yang memadai.

Fenomena bekerja untuk bertahan hidup ini mencerminkan belum kuatnya sistem jaring pengaman sosial yang mampu memberikan perlindungan ekonomi secara layak kepada kelompok lansia. Pada saat yang sama, Indonesia juga belum memiliki sistem ekonomi perawatan (care economy) yang mampu menjawab kebutuhan pengasuhan, kesehatan, dan dukungan sosial bagi penduduk lanjut usia, khususnya di wilayah pedesaan.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat desa. Jika dahulu keluarga besar dan komunitas lokal menjadi sumber utama dukungan bagi lansia, kini pola tersebut mulai mengalami pergeseran. Urbanisasi yang terus berlangsung menyebabkan banyak generasi muda meninggalkan desa untuk bekerja atau menempuh pendidikan di kota. Orang tua yang ditinggalkan harus menjalani masa tua dengan dukungan yang semakin terbatas, baik secara ekonomi maupun emosional.

Dalam situasi seperti ini, reformasi sistem jaring pengaman sosial menjadi kebutuhan yang mendesak. Berbagai program bantuan sosial yang telah berjalan memang memberikan manfaat tertentu, tetapi efektivitasnya masih menghadapi banyak tantangan. Penyaluran bantuan kerap tidak konsisten, jumlah bantuan relatif terbatas, dan dalam sejumlah kasus belum sepenuhnya menjangkau kelompok yang paling membutuhkan.

Lebih jauh lagi, sebagian besar lansia di pedesaan berasal dari sektor informal seperti petani gurem, buruh tani, nelayan kecil, atau pekerja mandiri. Mereka tidak memiliki akses terhadap skema pensiun formal sebagaimana pekerja sektor pemerintahan maupun perusahaan besar. Akibatnya, ketika produktivitas fisik mulai menurun, mereka kehilangan kemampuan untuk memperoleh pendapatan yang memadai.

Baca Juga :  Integrasi Pendidikan untuk Menyatukan Kecerdasan Intelektual dan Kedalaman Spiritual

Karena itu, reformasi kebijakan perlu diarahkan pada pembangunan sistem perlindungan hari tua yang lebih inklusif. Negara perlu mempertimbangkan penguatan skema jaminan pendapatan minimum bagi lansia miskin dan rentan di pedesaan. Kehadiran dukungan finansial yang berkelanjutan akan memberikan rasa aman sekaligus mengurangi ketergantungan mereka pada pekerjaan fisik yang semakin berat dilakukan pada usia lanjut.

Namun, perlindungan finansial semata tidak cukup untuk menjawab kompleksitas persoalan yang dihadapi lansia. Kesejahteraan pada usia lanjut tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan uang, tetapi juga oleh kualitas layanan kesehatan, dukungan sosial, akses terhadap aktivitas produktif, serta keberadaan lingkungan yang memungkinkan mereka menjalani hidup secara bermartabat.

Di sinilah pentingnya membangun ekonomi perawatan sebagai bagian dari strategi pembangunan pedesaan. Care economy merupakan sistem yang menyediakan layanan pengasuhan, perawatan kesehatan, dukungan emosional, dan berbagai kebutuhan dasar yang memungkinkan kelompok rentan tetap memiliki kualitas hidup yang baik.

Bagi lansia di desa, keberadaan sistem perawatan yang kuat menjadi sangat penting. Banyak dari mereka hidup sendiri atau hanya ditemani pasangan yang sama-sama berusia lanjut. Ketika mengalami gangguan kesehatan, keterbatasan mobilitas, atau kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka sering kali tidak memiliki jaringan dukungan yang memadai.

Pemerintah desa sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi aktor utama dalam pembangunan ekosistem perawatan tersebut. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah mengalokasikan sebagian Dana Desa untuk memperkuat layanan bagi lansia. Selama ini, penggunaan Dana Desa masih banyak difokuskan pada pembangunan fisik seperti jalan, drainase, dan sarana infrastruktur lainnya. Infrastruktur memang penting, tetapi investasi sosial yang menyasar kelompok rentan tidak kalah strategis.

Penguatan Posyandu Lansia dapat menjadi titik awal yang realistis. Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemeriksaan kesehatan rutin, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat interaksi sosial yang membantu mengurangi rasa kesepian dan isolasi yang kerap dialami oleh lansia.

Selain itu, potensi kelembagaan lokal seperti PKK, Karang Taruna, kelompok keagamaan, maupun organisasi kemasyarakatan desa perlu diberdayakan untuk mendukung pengembangan ekonomi perawatan berbasis komunitas. Pendekatan ini memiliki keunggulan karena bertumpu pada modal sosial yang sudah tumbuh dalam masyarakat. Dukungan komunitas yang terorganisasi akan memperkuat rasa kepedulian antargenerasi sekaligus menciptakan sistem bantuan yang lebih dekat dengan kebutuhan warga.

Baca Juga :  Merokok Boleh, Tapi Jangan Menjadi Sumber Masalah Publik

Langkah berikutnya adalah mengembangkan pusat aktivitas atau daycare lansia di tingkat desa maupun kecamatan. Kehadiran fasilitas semacam ini tidak hanya memberikan layanan kesehatan berkala dan asupan gizi yang memadai, tetapi juga menyediakan ruang bagi lansia untuk tetap aktif secara sosial dan produktif.

Melalui berbagai kegiatan rekreatif, pelatihan keterampilan, aktivitas budaya, maupun forum diskusi, para lansia dapat terus berkontribusi dalam kehidupan masyarakat. Pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki selama puluhan tahun merupakan aset sosial yang sangat berharga dan tidak seharusnya terpinggirkan hanya karena faktor usia.

Penting pula untuk memastikan bahwa pembangunan sistem perlindungan lansia dilakukan dengan memperhatikan konteks sosial dan budaya masyarakat pedesaan. Kebijakan yang berhasil bukan hanya kebijakan yang tersedia di atas kertas, melainkan kebijakan yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan serta karakteristik masyarakat setempat. Pendekatan yang sensitif terhadap kearifan lokal akan membuat program lebih mudah diterima dan dijalankan secara berkelanjutan.

Pendanaan untuk mendukung ekosistem ini sebenarnya dapat dirancang melalui integrasi berbagai sumber pembiayaan, mulai dari Dana Desa, program kementerian terkait, pemerintah daerah, hingga kemitraan dengan sektor swasta dan organisasi masyarakat sipil. Investasi pada kesejahteraan lansia bukanlah pengeluaran yang sia-sia, melainkan investasi sosial jangka panjang yang dapat menekan biaya kesehatan, mengurangi ketergantungan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Fenomena ageing population tidak seharusnya dipandang sebagai beban pembangunan. Sebaliknya, kondisi ini perlu dilihat sebagai realitas demografis yang menuntut inovasi kebijakan. Negara yang berhasil mengelola penuaan penduduk umumnya mampu mengubah tantangan tersebut menjadi peluang untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan kualitas layanan publik, dan membangun sistem kesejahteraan yang lebih inklusif.

Indonesia memiliki kesempatan untuk menempuh jalan yang sama. Melalui sinergi antara penguatan jaring pengaman sosial dan pembangunan care economy yang berakar pada komunitas pedesaan, kesejahteraan lansia dapat diwujudkan secara lebih nyata. Upaya tersebut bukan hanya bentuk penghormatan kepada generasi yang telah berkontribusi membangun bangsa, tetapi juga cerminan kualitas peradaban yang menempatkan martabat manusia sebagai fondasi utama pembangunan.

Ketika lansia dapat menjalani masa tua dengan aman, sehat, dan bermartabat, yang dibangun sesungguhnya bukan hanya kesejahteraan individu, melainkan masa depan Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan berperikemanusiaan bagi seluruh generasi.

Penulis : Andreas A. Susanto | Dosen Program Studi Sosiologi | Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Editor : Anisa Putri

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Swasembada Pangan dan Program Cetak Sawah dalam Perspektif Positivisme
Ketika Orang Biasa Menjadi Korban Perubahan: Refleksi dari Sri Sumarah dan Bawuk
Membangun Karakter Mahasiswa melalui Internalisasi Nilai-Nilai Agama di Kampus
Peran Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital
Perlukah Indonesia Memiliki Hukum Pailit Khusus UMKM?
Meningkatkan Kewaspadaan Mahasiswa Akuntansi terhadap Penyebaran Paham Terorisme di Era Digital
Menjaga Integritas di Tingkat Terdepan: Potret Etika Profesi Kepolisian dari Polsek Jabon, Sidoarjo
Uang Pengganti Rp5,6 Triliun dalam Perkara Nadiem Makarim: Menguji Batas Pembuktian Kerugian Negara dan Logika Kenaikan Saham

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:09 WIB

Reformasi Jaring Pengaman Sosial dan Ekonomi Perawatan bagi Lansia di Pedesaan

Senin, 15 Juni 2026 - 22:07 WIB

Swasembada Pangan dan Program Cetak Sawah dalam Perspektif Positivisme

Senin, 15 Juni 2026 - 18:02 WIB

Ketika Orang Biasa Menjadi Korban Perubahan: Refleksi dari Sri Sumarah dan Bawuk

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:06 WIB

Peran Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:03 WIB

Perlukah Indonesia Memiliki Hukum Pailit Khusus UMKM?

Berita Terbaru

Keterasingan emosional dalam hubungan menjadi tema utama yang diangkat Armijn Pane dalam novel Belenggu. Sumber: Pinterest

Narasi+

Mengapa Belenggu Masih Terasa Dekat dengan Kehidupan Kita?

Minggu, 14 Jun 2026 - 18:46 WIB