Semarang, Sorotnesia.com – Kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Dusun Karang Kepoh, Desa Pager, Kabupaten Semarang, tidak lagi sekadar menjadi lahan penghijauan yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan perlombaan. Dalam perkembangannya, kebun tersebut menjadi ruang produktivitas warga yang menghasilkan sayur, buah, tanaman obat, hingga sumber dana untuk menjaga keberlanjutan pengelolaannya.
Melalui kebun TOGA yang diberi nama Melati Ku, ibu-ibu PKK bersama warga Dusun Karang Kepoh tidak hanya merawat tanaman. Hasil panen juga dikelola dan sebagian dijual kepada masyarakat. Dana yang diperoleh kemudian diputar kembali untuk membeli bibit tanaman, bibit lele, dan pakan ikan.
Pola tersebut membuat kebun yang semula dibangun untuk mengikuti perlombaan 17 Agustus itu tetap bertahan ketika kebun serupa di dusun lain tidak lagi dikelola secara optimal.
Kini, keberlanjutan pengelolaan kebun tersebut membawa Dusun Karang Kepoh menjadi perwakilan Desa Pager dalam program penilaian Desa Binaan yang dijadwalkan berlangsung pada September hingga Oktober 2026.
Perjalanan kebun TOGA Melati Ku bermula sekitar tiga tahun lalu. Ketika itu, gagasan pembentukan kebun muncul dalam kegiatan rutin ibu-ibu Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK).
Gagasan tersebut berkaitan dengan persiapan perlombaan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Pager. Tiga dusun diminta menyiapkan lahan TOGA yang kemudian menjadi salah satu objek penilaian dalam rangkaian kegiatan peringatan 17 Agustus.
Pemerintah desa kemudian menetapkan sejumlah kriteria penilaian. Salah satunya adalah keberadaan kebun TOGA yang dilengkapi kolam atau bak untuk budidaya ikan lele.
Dusun Karang Kepoh menindaklanjuti persyaratan tersebut dengan membangun kebun TOGA seluas kurang lebih 20 x 5 meter. Di tengah kawasan kebun, warga juga membuat kolam untuk budidaya lele.
Dalam perlombaan tersebut, Dusun Karang Kepoh memperoleh predikat juara harapan.
Namun, tantangan muncul setelah perlombaan berakhir. Sejumlah kebun TOGA yang sebelumnya dibangun untuk mengikuti penilaian perlahan tidak lagi dikelola secara intensif. Beberapa tanaman mengalami kesulitan tumbuh, layu, bahkan mati.
Kondisi serupa juga sempat dihadapi Kebun TOGA Melati Ku. Meski demikian, pengelolaannya tidak berhenti.
Warga dan ibu-ibu PKK Karang Kepoh mempertahankan tanaman yang masih dapat tumbuh. Seiring waktu, fokus kebun berkembang. Selain mempertahankan sejumlah tanaman obat, warga mulai menanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang dinilai lebih mudah dibudidayakan serta memiliki hasil panen yang dapat dimanfaatkan.
Dari hasil panen itulah pengelolaan kebun kembali bergerak.

Sayur dan buah yang dipanen tidak hanya digunakan untuk kebutuhan warga, tetapi juga dijual. Sebagian dana hasil penjualan kemudian digunakan kembali untuk membeli bibit tanaman yang sebelumnya mati atau menambah jenis tanaman baru.
Pola pengelolaan tersebut membuat Kebun TOGA Melati Ku terus bertahan hingga saat ini.
Seiring perkembangannya, kebun tersebut kini memiliki sekitar 68 jenis tanaman. Jenis yang dibudidayakan mencakup tanaman obat, sayuran, dan buah-buahan.
Beberapa tanaman obat yang tumbuh di kebun antara lain serai, jahe, kunyit, ginseng, dan kumis kucing. Sementara jenis sayuran yang dibudidayakan meliputi sawi, terong, kangkung, tomat, dan timun.
Kebun tersebut juga menghasilkan sejumlah buah, seperti pisang, jambu air, jambu kristal, sirsak, serta jeruk purut.
Masyarakat dapat membeli hasil panen secara langsung dengan mendatangi kebun dan menghubungi petugas yang sedang menjalankan jadwal piket. Penjualan juga dapat dilakukan melalui Aisyah, bendahara PKK yang mengelola perbendaharaan kebun TOGA.
Apabila hasil panen cukup melimpah, sebagian produk juga dijual kepada masyarakat di luar desa.
Kepala Dusun Karang Kepoh sekaligus Ketua PKK Dusun Karang Kepoh, Darni, mengatakan hasil panen dijual dengan menyesuaikan jumlah dan jenis produk yang dibeli warga.
“Kalau yang jeruk purut itu dijualnya per kilo, Mbak. Per kilonya Rp10.000. Pernah waktu itu terjual sampai Rp300.000. Tapi kalau mau beli beberapa biji juga bisa, cuma empat atau lima biji juga bisa, Mbak. Tapi ya harus ke kebun kalau cuma segitu,” tutur Darni saat diwawancarai mahasiswa KKN Kelompok 226 pada Rabu (19/8).
Bagi pengelola, hasil penjualan tersebut bukan sekadar menjadi pemasukan. Dana yang diperoleh menjadi bagian dari sistem untuk menjaga agar kegiatan di kebun tetap berjalan.
Sebagian hasil penjualan digunakan untuk membeli bibit tanaman baru. Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan budidaya lele, termasuk pembelian bibit dan pakan ikan.
Sementara sebagian dana lainnya disimpan sebagai kas PKK yang dapat digunakan kembali apabila dibutuhkan.
Pengelolaan semacam itu membuat hasil panen memiliki fungsi berkelanjutan. Tanaman yang dipanen menghasilkan pemasukan, kemudian pemasukan tersebut digunakan untuk mendukung penanaman dan pemeliharaan berikutnya.
Bagi warga, terutama ibu-ibu PKK, keberadaan kebun juga menghadirkan alasan untuk terus terlibat dalam kegiatan bersama.
Semangat tersebut diperkuat melalui sistem piket yang dilakukan secara bergiliran setiap sore. Jadwal piket tidak hanya memastikan tanaman dan kolam lele tetap terawat, tetapi juga menciptakan ruang interaksi bagi warga.
Di tengah aktivitas rumah tangga dan pekerjaan sehari-hari, kebun menjadi tempat bagi ibu-ibu untuk bertemu, bekerja, dan bertukar cerita sambil merawat tanaman.

Dengan demikian, kebun TOGA tidak hanya memiliki fungsi sebagai lahan budidaya tanaman. Keberadaannya juga menjadi ruang aktivitas sosial yang mempertemukan warga dalam kegiatan bersama.
Keterlibatan warga menjadi salah satu faktor yang membuat pengelolaan kebun tetap berjalan setelah tujuan awalnya, yakni mengikuti perlombaan, telah berakhir.
Kini, keberlanjutan pengelolaan tersebut membawa Dusun Karang Kepoh memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Dusun tersebut akan menjadi perwakilan Desa Pager dalam program penilaian Desa Binaan yang dijadwalkan berlangsung pada September hingga Oktober 2026.
Menjelang penilaian, ibu-ibu PKK kembali melakukan pembenahan kawasan kebun. Berbagai jenis tanaman ditambah dan diperbanyak untuk memperkaya koleksi tanaman yang telah ada.
Mahasiswa KKN Kelompok 226 Universitas Sebelas Maret juga turut membantu kegiatan tersebut. Mereka terlibat dalam menjaga kebersihan kawasan kebun, mengikuti jadwal piket, serta menanam bibit-bibit baru.
Keterlibatan mahasiswa tersebut menambah tenaga dalam proses pengembangan kebun menjelang program penilaian.
Meski terus berkembang, pengelolaan kebun masih menghadapi sejumlah kendala. Tidak semua jenis tanaman dapat tumbuh dengan kondisi yang sama.
Beberapa tanaman obat, terutama kunyit dan kencur, masih menjadi tantangan bagi pengelola. Pertumbuhan kedua tanaman tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lingkungan.
Darni mengatakan curah hujan yang tinggi dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman tertentu.
“Yang susah itu yang obat, Mbak, kayak kencur sama kunyit itu susah. Kalau pas musim hujan gitu susah tumbuhnya, malah jadi layu karena kebanyakan kena air hujan,” kata Darni.
Ia berharap ke depan jenis tanaman yang dibudidayakan dapat semakin beragam. Selain itu, tanaman yang selama ini sulit tumbuh diharapkan dapat berkembang lebih baik.
“Ya, kalau bisa sih makin banyak tanamannya. Ini yang belum tumbuh juga cepat tumbuhnya. Semoga juga makin banyak,” ujarnya.
Tantangan tersebut tidak menghentikan upaya pengembangan kebun. Pengelola justru terus melakukan penanaman ulang terhadap tanaman yang tidak berhasil tumbuh dan memanfaatkan hasil panen untuk menyediakan kebutuhan bibit berikutnya.
Dari sinilah perubahan fungsi kebun TOGA Melati Ku terlihat. Kebun yang awalnya dibangun sebagai bagian dari persiapan lomba kini berkembang melalui proses pengelolaan sehari-hari.
Keberadaannya tidak hanya ditentukan oleh momen penilaian atau perlombaan, melainkan oleh kemampuan warga menjaga kegiatan tersebut tetap berjalan setelah acara selesai.
Melalui penjualan hasil panen dan penggunaan kembali dana untuk kebutuhan kebun, warga Karang Kepoh membangun pola pengelolaan sederhana yang memungkinkan kegiatan tersebut terus berlangsung.
Tanaman obat tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas kebun. Namun, keberadaan sayuran dan buah-buahan memberikan manfaat tambahan sekaligus membantu menyediakan sumber dana untuk pengembangan.
Sistem tersebut juga memperlihatkan bahwa keberlanjutan sebuah kegiatan masyarakat tidak selalu bergantung pada program besar. Dalam kasus Kebun TOGA Melati Ku, keberlanjutan justru dibangun dari aktivitas rutin, mulai dari menanam, menyiram, merawat, memanen, hingga menjual hasil kebun.
Setiap tahapan dilakukan secara bersama-sama oleh warga dan ibu-ibu PKK.
Bagi Dusun Karang Kepoh, perjalanan kebun tersebut berawal dari sebuah gagasan sederhana untuk menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tiga tahun kemudian, kebun itu berkembang menjadi ruang yang mempertemukan aspek lingkungan, produktivitas, dan kebersamaan warga.
Dengan sekitar 68 jenis tanaman yang kini dibudidayakan, Kebun TOGA Melati Ku terus dikembangkan sebagai ruang produktif bagi masyarakat.
Hasil panen tidak hanya memberikan manfaat berupa bahan pangan atau tanaman yang dapat dimanfaatkan warga. Pengelolaannya juga menciptakan perputaran dana yang kembali digunakan untuk merawat kebun.
Di tengah persiapan menghadapi penilaian Desa Binaan pada September hingga Oktober 2026, warga Karang Kepoh kini kembali memperkuat kebun yang telah mereka rawat selama tiga tahun terakhir.
Dari sebuah lahan yang awalnya dibangun untuk mengikuti perlombaan, Kebun TOGA Melati Ku berkembang menjadi contoh bagaimana kegiatan sederhana dapat bertahan ketika warga menemukan cara untuk mengelolanya secara bersama dan berkelanjutan.
Penulis : KKN UNS Kelompok 226 Periode Juli-Agustus 2026
Editor : Intan Permata









