Kebumen, Sorotnesia.com – Buah sukun yang mulai jarang dibudidayakan warga Desa Patukgawemulyo, Kabupaten Kebumen, kembali diperkenalkan sebagai potensi pangan lokal. Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) 125 menggelar edukasi dan demonstrasi pembuatan tepung sukun bersama ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Patukgawemulyo itu diikuti sekitar 40 peserta. Program tersebut menjadi salah satu program kerja unggulan KKN UNS 125 dengan fokus pada pengolahan hasil pangan lokal agar memiliki nilai tambah dan daya simpan lebih panjang.
Sukun dipilih karena keberadaannya di Desa Patukgawemulyo disebut mulai berkurang. Tanaman tersebut kini hanya dibudidayakan oleh sebagian kecil warga. Kondisi itu menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN untuk memperkenalkan kembali pemanfaatan sukun melalui pengolahan yang lebih praktis.
Pengolahan menjadi tepung dinilai dapat menjadi salah satu cara memperpanjang masa simpan buah sekaligus membuka kemungkinan pemanfaatan dalam berbagai produk pangan. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, tepung sukun juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif dan produk usaha rumahan.
Dalam sesi edukasi, mahasiswa KKN UNS 125 menjelaskan sejumlah informasi mengenai kandungan gizi buah sukun, keunggulan tepung sukun, hingga potensinya sebagai bahan substitusi tepung terigu. Peserta juga diperkenalkan pada peluang pengembangan produk berbasis tepung sukun yang dapat dilakukan dari skala rumah tangga.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar peserta tidak hanya memahami manfaat sukun, tetapi juga mengetahui tahapan pengolahannya. Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan tepung secara langsung.
Proses dimulai dari pemilihan buah sukun yang sesuai, kemudian dilanjutkan dengan pengupasan dan pemotongan. Sukun selanjutnya direndam untuk membantu mencegah oksidasi sebelum memasuki tahap penjemuran atau pengeringan.
Setelah bahan cukup kering, sukun digiling hingga menjadi tepung yang siap digunakan. Ibu-ibu PKK dilibatkan dalam setiap tahapan sehingga proses yang diperkenalkan tidak berhenti pada demonstrasi, tetapi dapat dipraktikkan kembali secara mandiri di rumah.
Penanggung Jawab Program Kerja KKN UNS 125, Artha, mengatakan program tersebut berangkat dari melihat potensi sukun yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
“Kami melihat potensi tanaman sukun di desa ini sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pengolahan menjadi tepung, masa simpan sukun jadi jauh lebih panjang dan bisa diolah menjadi beragam produk olahan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Menurut kelompok KKN UNS 125, pengolahan tersebut juga diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman pangan lokal. Sukun tidak hanya dipandang sebagai buah yang dikonsumsi secara langsung, tetapi juga dapat diolah menjadi bahan baku dengan masa simpan lebih panjang.
Dari sisi ekonomi, tepung sukun berpeluang digunakan untuk membuat berbagai produk makanan, seperti kue, roti, hingga camilan. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan produktif yang dapat dikembangkan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK.
Program ini sekaligus diarahkan untuk mendorong warga kembali melihat budidaya sukun sebagai salah satu potensi yang dapat dikembangkan di desa. Dengan adanya pemanfaatan yang memiliki nilai ekonomi, keberadaan tanaman sukun diharapkan tidak semakin berkurang.
Melalui edukasi dan praktik tersebut, KKN UNS 125 berupaya menghubungkan potensi pangan lokal dengan kebutuhan masyarakat terhadap pangan alternatif serta peluang ekonomi rumah tangga. Program pengolahan tepung sukun menjadi salah satu langkah mahasiswa untuk mendorong ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui sumber daya yang tersedia di desa.
Penulis : Tim KKN UNS 125
Editor : Anisa Putri









