Pangandaran, Sorotnesia.com – Bagi pelaku usaha kecil, promosi tidak selalu dimulai dari memasang iklan atau membuat kemasan baru. Cara pemilik usaha memperkenalkan dirinya, menceritakan produk, dan membangun kepercayaan konsumen juga menjadi bagian penting dalam pemasaran.
Perspektif tersebut diperkenalkan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kepada kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Melalui edukasi personal branding, para kader diajak melihat kembali potensi yang selama ini mereka miliki. Bukan hanya potensi produk UMKM, tetapi juga pengalaman, keterampilan, dan cerita yang melekat pada orang-orang di balik produk tersebut.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Bojong itu menjadi bagian dari program Tim KKN UNS 208 Desa Bojong. Tiga mahasiswa UNS terlibat dalam pelaksanaan edukasi yang diarahkan pada penguatan kapasitas pelaku usaha sebelum berbicara lebih jauh mengenai strategi pemasaran.
Desa Bojong memiliki beragam usaha yang dikelola masyarakat, mulai dari olahan pangan hingga kerajinan rumah tangga. Sebagian di antaranya dijalankan oleh ibu rumah tangga yang tergabung dalam PKK.
Potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan pola pemasaran yang berkembang. Sebagian usaha masih mengandalkan pemasaran konvensional dan belum memiliki identitas usaha yang kuat.
Di tengah kebiasaan konsumen mencari informasi produk melalui media digital, persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Produk yang sebenarnya memiliki potensi bisa saja sulit dikenal apabila tidak memiliki cara yang tepat untuk memperkenalkan keunggulannya.
Tim KKN UNS kemudian memilih personal branding sebagai pintu masuk untuk menjawab persoalan tersebut.
Perwakilan Tim KKN UNS, Gema Sabrina, mengatakan pendekatan yang digunakan tidak semata-mata mengajarkan teknik promosi, tetapi juga mendorong kader agar lebih percaya diri dalam memperkenalkan usaha yang mereka jalankan.
“Kami ingin kepercayaan diri dan keterampilan promosi itu tumbuh dari dalam diri para kader sendiri,” ujar Gema Sabrina.
Menurut Gema, citra pelaku usaha dapat memiliki hubungan dengan citra produk yang mereka tawarkan. Karena itu, kemampuan membangun identitas diri secara autentik menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
“Ketika seorang pelaku usaha mampu membangun citra diri yang autentik dan dipercaya, hal tersebut secara otomatis akan memproyeksikan citra positif pada produk yang mereka hasilkan.”
Mengubah Cara Melihat Promosi
Pendekatan dalam kegiatan tersebut berbeda dari pelatihan UMKM yang umumnya langsung mengarah pada aspek visual produk, seperti logo, kemasan, atau materi promosi.
Kali ini, peserta terlebih dahulu diajak memahami siapa mereka sebagai pelaku usaha dan apa yang membuat produk mereka memiliki karakter tersendiri.
Rangkaian kegiatan terdiri atas empat tahap, yakni persiapan, sosialisasi, praktik singkat, dan evaluasi.

Untuk memberikan gambaran yang lebih dekat dengan kondisi usaha di Desa Bojong, Tim KKN UNS menghadirkan Dede Dzoelmi, pemilik Pesona Citumang Desa Bojong, sebagai pemateri.
Materi mengenai konsep dasar personal branding disampaikan secara interaktif. Setelah mendapatkan materi, kader PKK tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi diajak mempraktikkan sejumlah teknik yang dapat digunakan untuk mendukung promosi usaha.
Peserta belajar mengenali keunikan diri, menyusun deskripsi produk, mengambil foto dengan sudut pengambilan gambar yang lebih baik, serta membuat narasi kreatif untuk media sosial.
Hal-hal tersebut tampak sederhana. Namun, bagi pelaku UMKM yang sebelumnya lebih banyak menggunakan pola pemasaran konvensional, kemampuan menyusun cerita dan menampilkan produk melalui media sosial menjadi keterampilan baru yang dapat diterapkan secara langsung.
Dede mengatakan kekuatan usaha masyarakat tidak hanya berada pada barang yang dijual. Kepercayaan konsumen juga dapat dibangun melalui cerita dan sosok yang berada di balik produk.
“Potensi ibu-ibu PKK di Desa Bojong ini luar biasa besar. Melalui pendekatan personal branding yang tepat, mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual kepercayaan dan cerita di balik produk tersebut. Ini modal utama untuk menembus pasar digital yang lebih luas.”
Dari Produk ke Cerita di Balik Usaha
Perubahan cara pandang terhadap promosi menjadi salah satu hal yang diharapkan dapat dibawa pulang oleh para kader PKK setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Promosi tidak selalu identik dengan biaya besar. Bagi pelaku UMKM, langkah awal dapat dilakukan dengan mengoptimalkan apa yang sudah dimiliki, termasuk identitas pemilik usaha, keunikan produk, serta cerita yang menyertainya.
Perwakilan Pengurus PKK Desa Bojong mengatakan materi yang diberikan membuka pemahaman baru mengenai promosi usaha melalui media sosial.

“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran adik-adik mahasiswa KKN UNS. Pelatihan ini membuka mata kami bahwa promosi tidak harus mahal, dimulai dari bagaimana cara kami membawa diri dan menceritakan keunggulan produk kami sendiri di media sosial.”
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Direktorat Kemahasiswaan UNS, Pemerintah Desa Bojong, serta Pengurus PKK Desa Bojong. Dukungan diberikan sejak persiapan hingga pelaksanaan program.
Bagi Tim KKN UNS, edukasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Para kader diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh ketika memasarkan produk masing-masing.
Konsistensi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Identitas usaha yang telah dibangun perlu disertai dengan kualitas produk dan komunikasi yang baik agar kepercayaan konsumen dapat dipertahankan.
Bagi UMKM Desa Bojong, media sosial membuka ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan produk di luar lingkungan sekitar. Namun, ruang tersebut tidak cukup hanya diisi dengan foto produk dan informasi harga.
Ada cerita, pengalaman, dan sosok pelaku usaha yang juga dapat menjadi bagian dari komunikasi dengan konsumen.
Pendekatan inilah yang coba diperkenalkan melalui program KKN UNS. Dengan memperkuat kapasitas orang di balik usaha, promosi produk diharapkan tidak lagi sekadar menjelaskan apa yang dijual, tetapi juga memperkenalkan alasan mengapa produk tersebut layak dikenal.
Upaya tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong pelaku UMKM Pangandaran, khususnya di Desa Bojong, agar semakin siap memanfaatkan media digital sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan UMKM di tingkat desa tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Mengenali potensi yang sudah ada, kemudian mengemasnya menjadi identitas dan cerita yang mudah dikenali konsumen, dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk memperluas jangkauan pasar.
Penulis : Gema Sabrina Septyana Putri | Tim KKN Universitas Sebelas Maret
Editor : Fadli Akbar









