Sekendi, Sorotnesia.com. Melimpahnya hasil panen tomat tidak selalu berbanding lurus dengan pendapatan petani. Kondisi itu mendorong Kelompok 42 KKN-PPM XLIX Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) memperkenalkan manisan tomat sebagai alternatif pengolahan hasil pertanian kepada warga Dusun Sekendi, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.
Gagasan tersebut berawal ketika mahasiswa Kelompok 42 ikut membantu warga memanen tomat secara langsung. Dalam kegiatan itu, mahasiswa mengetahui harga tomat di tingkat petani dapat turun hingga Rp1.000 per kilogram ketika produksi melimpah.
Kondisi tersebut kemudian menjadi bahan diskusi kelompok untuk mencari cara meningkatkan nilai ekonomi tomat tanpa mengubah komoditas utama yang selama ini dibudidayakan warga.
Ketua Kelompok 42 KKN-PPM XLIX UMBY, Muhammad Tio Wisnu Anggara, mengatakan pengolahan tomat menjadi manisan dipilih karena dapat memperpanjang daya simpan sekaligus memberikan bentuk produk baru yang berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Saat ikut memanen di kebun warga, kami merasakan langsung proses kerja keras para petani. Ketika mengetahui harganya Rp. 1000 per kilogram, kami berdiskusi untuk mencari cara meningkatkan nilai jualnya. Setelah beberapa kali uji coba resep, kami berhasil membuat manisan tomat dengan cita rasa yang pas dan siap di konsumsi,” kata Muhammad Tio Wisnu Anggara, Ketua Kelompok 42.
Sebelum diperkenalkan kepada warga, mahasiswa melakukan sejumlah uji coba resep untuk memperoleh rasa dan tekstur yang dinilai sesuai. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan tomat tidak hanya dikonsumsi sebagai hasil panen segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan.
Program kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pelatihan kepada warga Dusun Sekendi. Kegiatan tidak hanya membahas proses pengolahan, tetapi juga aspek yang diperlukan agar produk dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Salah satu materi yang diberikan adalah pengemasan produk. Warga dikenalkan pada cara mencari referensi desain kemasan melalui berbagai platform digital sehingga produk memiliki tampilan yang lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan pemasaran.
Mahasiswa juga memberikan pemahaman mengenai sertifikasi halal, termasuk pentingnya legalitas tersebut serta gambaran mengenai alur pengajuannya. Aspek legalitas dinilai menjadi salah satu bagian penting apabila produk nantinya dikembangkan sebagai usaha warga.
Selain itu, pelatihan mencakup strategi pemasaran, baik secara langsung maupun melalui kanal digital. Materi tersebut diarahkan untuk membantu warga memperluas jangkauan pemasaran apabila manisan tomat diproduksi secara berkelanjutan.
Program Kelompok 42 tidak berhenti pada pengenalan produk. Pendekatan yang dilakukan juga diarahkan pada bagaimana hasil pertanian yang selama ini dijual dalam bentuk segar dapat memiliki alternatif pemanfaatan ketika harga di tingkat petani mengalami penurunan.

Melalui inovasi tersebut, mahasiswa KKN-PPM XLIX UMBY berharap manisan tomat dapat dikembangkan menjadi salah satu produk olahan warga Dusun Sekendi. Diversifikasi hasil panen diharapkan membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sekaligus membantu warga menghadapi fluktuasi harga tomat saat musim panen melimpah.
Penulis : Kelompok 42 KKN-PPM XLIX / Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY)
Editor : Intan Permata









