Belajar Bahwa Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja

- Redaksi

Rabu, 4 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini Ghania Valencia

Opini Ghania Valencia

Ada masa ketika seseorang merasa harus tetap tersenyum, meskipun pikirannya sedang dipenuhi persoalan. Di tengah tuntutan kehidupan yang semakin kompleks, banyak orang berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Mereka tetap bekerja, belajar, beraktivitas, dan berinteraksi seperti biasa, seolah tidak ada beban yang sedang dihadapi. Padahal, di balik sikap tersebut, bisa saja tersimpan rasa kecewa, kehilangan, kegagalan, atau kelelahan emosional yang tidak mudah diungkapkan.

Keadaan ini memperlihatkan bahwa sebagian orang masih menganggap kesedihan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Mengungkapkan perasaan sering kali dikhawatirkan akan membuat seseorang terlihat lemah, tidak mampu menghadapi masalah, atau terlalu berlebihan. Akibatnya, mereka memilih memendam emosi dan memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat. Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat membuat seseorang semakin sulit mengenali kondisi dirinya sendiri.

Pesan tentang pentingnya menerima keadaan emosional ini dapat ditemukan dalam buku Nanti Juga Sembuh Sendiri karya Helobagas. Melalui tulisan-tulisan reflektifnya, buku tersebut mengingatkan bahwa rasa sedih, kecewa, dan lelah merupakan bagian dari pengalaman manusia. Tidak ada kewajiban untuk selalu berada dalam kondisi terbaik karena setiap orang memiliki persoalan dan kemampuan menghadapi masalah yang berbeda.

Gagasan tersebut sejalan dengan konsep self-compassion yang dikemukakan Neff (2003). Konsep ini merujuk pada kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan penuh kebaikan dan pengertian ketika menghadapi kesulitan. Seseorang diajak menerima kekurangan, memahami keterbatasan, serta tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu berjalan di luar harapan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukanlah bentuk kelemahan, melainkan salah satu wujud kepedulian terhadap diri sendiri.

Tidak Semua Kesedihan Harus Segera Dihilangkan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berusaha menampilkan kesan tenang dan stabil di hadapan orang lain. Padahal, kondisi batin tidak selalu sejalan dengan apa yang terlihat. Seorang mahasiswa, misalnya, mungkin merasa kecewa setelah memperoleh nilai di bawah ekspektasi. Namun, ketika bertemu teman-temannya, ia tetap tersenyum dan berusaha bersikap biasa agar tidak terlihat sedang menghadapi masalah.

Baca Juga :  Gen Z di Bawah Tekanan Produktivitas dan Standar Sukses Tanpa Garis Akhir

Sikap seperti itu tidak selalu salah. Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi persoalan. Namun, perasaan kecewa tetap perlu dikenali dan dipahami, bukan sekadar disembunyikan. Seseorang membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sedang dirasakan sebelum menentukan langkah yang perlu dilakukan.

Hal ini sejalan dengan penelitian Ford dkk. (2018), yang menunjukkan bahwa menerima pikiran dan perasaan negatif tanpa memberikan penilaian berlebihan dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Temuan tersebut mengingatkan bahwa memaksakan diri untuk selalu berpikir positif bukanlah satu-satunya cara menghadapi kesulitan.

Terkadang, mengakui bahwa kita sedang sedih justru menjadi langkah awal untuk memahami persoalan. Tidak semua masalah harus segera diselesaikan pada saat yang sama. Ada kalanya seseorang perlu mengambil jeda, menenangkan pikiran, dan memberi ruang bagi dirinya untuk merasakan emosi yang muncul. Kesedihan bukan sesuatu yang memalukan. Ia merupakan bagian dari pengalaman hidup yang tidak perlu selalu ditutupi.

Setiap Orang Memiliki Waktu Pemulihan yang Berbeda

Salah satu persoalan yang sering memperberat beban emosional adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika melihat teman berhasil meraih prestasi, mendapatkan pekerjaan, atau mencapai target tertentu, seseorang bisa merasa dirinya tertinggal. Perasaan tersebut semakin berat ketika ia sedang menghadapi persoalan pribadi yang tidak diketahui orang lain.

Padahal, perjalanan hidup setiap orang tidak dapat disamakan. Ada yang mampu bangkit dalam waktu singkat, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memulihkan diri. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk menganggap seseorang lebih lemah atau kurang berhasil.

Judul Nanti Juga Sembuh Sendiri karya Helobagas menarik untuk direnungkan dalam konteks ini. Ungkapan tersebut tidak seharusnya dimaknai bahwa setiap orang wajib menyelesaikan seluruh persoalannya tanpa bantuan siapa pun. Dalam kenyataannya, dukungan dari keluarga, teman, maupun orang yang dipercaya tetap dibutuhkan. Mencari pertolongan ketika menghadapi kesulitan bukanlah sesuatu yang memalukan.

Baca Juga :  Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Visual Menggunakan CapCut dan Canva di Sekolah Kanisius Sumber

Terkadang, seseorang hanya membutuhkan tempat bercerita dan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi. Dukungan sederhana seperti itu dapat membantu meringankan beban pikiran. Karena itu, proses pemulihan tidak semestinya dipandang sebagai perjalanan yang harus dilakukan sendirian.

Selain dukungan orang lain, pemulihan juga membutuhkan usaha dari dalam diri. Seseorang perlu belajar memahami penyebab masalah, mengenali batas kemampuannya, dan perlahan memperbaiki keadaan. Kesembuhan bukan sekadar menunggu waktu berlalu, melainkan proses yang melibatkan penerimaan, usaha, dan keberanian untuk mencari bantuan ketika diperlukan.

Berani Mengakui Bahwa Diri Sedang Lelah

Menerima keadaan diri sendiri bukan berarti menyerah pada persoalan. Justru, kesadaran terhadap kondisi emosional dapat membantu seseorang menentukan langkah yang lebih tepat. Memaksakan diri untuk terus produktif ketika sedang kelelahan tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Ada saatnya beristirahat menjadi kebutuhan, bukan kemewahan.

Buku Nanti Juga Sembuh Sendiri mengingatkan bahwa seseorang tidak harus selalu menunjukkan kekuatan di hadapan orang lain. Meski tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya melalui refleksi, pesan tentang penerimaan diri tetap penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu belajar menghargai proses, menerima kekurangan, dan memahami bahwa setiap orang memiliki batas kemampuan.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis, kecewa, atau merasa kehilangan arah. Kekuatan juga terlihat dari keberanian untuk mengakui perasaan, menerima keadaan, dan tetap berusaha memperbaiki kehidupan secara bertahap.

Tidak apa-apa jika hari ini belum sepenuhnya baik-baik saja. Kita tidak harus selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan atau segera menemukan jalan keluar dari semua kesulitan. Terkadang, langkah pertama untuk pulih justru dimulai ketika kita berhenti berpura-pura kuat dan berani mengakui bahwa diri sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Penulis : Ghania Valencia | Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Intan Permata

Follow WhatsApp Channel sorotnesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks
Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya
Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus
Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen
Patriarki dalam Kehidupan Sehari-hari: Ketika Ketimpangan Gender Dianggap Normal
Karhutla: Ketika Masyarakat Membayar dengan Napas
Esensi Pendidikan Politik: Membangun Keadilan dan Kepentingan Umum di Era Digital
Media Sosial dan Opini Publik: Bagaimana Perhatian Masyarakat Memengaruhi Kebijakan Publik?

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 11:00 WIB

Belajar Bahwa Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja

Selasa, 3 November 2026 - 07:07 WIB

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Di Balik Bilik Plastik dan Stigma Publik: Beban Ganda dan Dilema Perempuan Berdaya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:57 WIB

Hak atas Udara Bersih: Menuntut Ketegasan Kawasan Tanpa Rokok di Kampus

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Dinamika Duka dan Apresiasi Penggemar: Dampak Keputusan Mark Lee terhadap Fandom NCTzen

Berita Terbaru

Opini Ghania Valencia

Opini

Belajar Bahwa Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 4 Nov 2026 - 11:00 WIB

Narasi+

Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

Selasa, 3 Nov 2026 - 23:00 WIB

Ilustrasi create by AI

Opini

Ketika Candaan Menjadi Alat Penyebar Hoaks

Selasa, 3 Nov 2026 - 07:07 WIB

Ilustrasi create by AI

Esai

Chat Tak Terbalas, Mengapa Kita Merasa Diabaikan?

Senin, 2 Nov 2026 - 22:04 WIB