Ada semacam perlombaan yang tidak pernah benar-benar diumumkan di lingkungan perkuliahan. Mahasiswa berlomba mendapatkan nilai terbaik, mengejar pengalaman organisasi, mengikuti berbagai kegiatan, membangun portofolio, hingga mempersiapkan karier sebelum lulus. Kesibukan seolah menjadi ukuran bahwa seseorang sedang memanfaatkan masa kuliahnya dengan baik.
Masalahnya, ketika hampir semua hal terasa harus dikejar, kapan mahasiswa punya kesempatan untuk berhenti dan melihat kembali apa yang sebenarnya sedang dijalani?
Keinginan untuk berkembang memang penting. Namun, keinginan tersebut bisa berubah menjadi beban ketika seseorang merasa tidak boleh tertinggal, tidak boleh gagal, bahkan tidak boleh beristirahat. Dalam situasi seperti ini, mengambil jeda sering kali dianggap sebagai kemunduran. Padahal, tidak semua langkah yang melambat berarti kehilangan arah.
Ketika Kesibukan Menjadi Ukuran Keberhasilan
Di lingkungan kampus, mahasiswa kerap dihadapkan pada gambaran tentang sosok ideal: berprestasi secara akademik, aktif berorganisasi, memiliki banyak pengalaman, dan mampu meraih pencapaian sejak usia muda. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, persoalannya muncul ketika standar tersebut dianggap harus dipenuhi oleh semua orang dengan cara dan waktu yang sama.
Media sosial turut memperkuat keadaan tersebut. Pencapaian orang lain mudah terlihat, sementara proses panjang di baliknya jarang mendapat perhatian. Seseorang bisa melihat temannya memenangkan perlombaan, memperoleh beasiswa, atau diterima bekerja, lalu tanpa sadar menjadikan pencapaian itu sebagai tolok ukur bagi kehidupannya sendiri.
Penelitian Nugraha, Hasanah, dan Sholichah (2023) tentang perbandingan sosial dan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa pengguna Instagram relevan untuk melihat persoalan ini. Kebiasaan membandingkan diri dapat memengaruhi cara mahasiswa menilai kehidupannya. Akibatnya, pencapaian pribadi yang sebenarnya patut disyukuri justru terasa tidak berarti karena selalu dibandingkan dengan keberhasilan orang lain.
Padahal, apa yang terlihat dari kehidupan seseorang di media sosial bukanlah keseluruhan ceritanya. Setiap mahasiswa memiliki keadaan, kemampuan, kesempatan, dan persoalan yang berbeda. Menyamakan perjalanan mereka hanya akan membuat proses belajar terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.
Memberi Jeda untuk Memahami Diri
Dalam Take It Slow, Let It Flow, Weda S. Atmanegara mengajak pembaca melihat kehidupan dengan ritme yang lebih tenang. Pesan tentang menjalani sesuatu secara perlahan menjadi penting di tengah kebiasaan untuk selalu terburu-buru mencapai sesuatu.
Bagi mahasiswa, gagasan ini bukan ajakan untuk menghindari tanggung jawab. Tugas tetap harus dikerjakan, kewajiban akademik tetap perlu diselesaikan, dan cita-cita tetap layak diperjuangkan. Namun, menjalani semua itu tidak berarti harus memaksakan diri tanpa mengenal batas.
Beristirahat juga memiliki peran dalam proses pemulihan. Agolli dan Holtz (2023), melalui tinjauan terhadap 159 penelitian empiris mengenai pelepasan psikologis dari pekerjaan, membahas pentingnya kemampuan melepaskan diri sementara dari tuntutan aktivitas. Walaupun kajian tersebut berfokus pada dunia kerja, pembahasannya dapat menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa yang juga menghadapi tekanan akademik dan berbagai tanggung jawab.
Ada kalanya mahasiswa perlu mengambil waktu untuk beristirahat, bukan karena tidak lagi memiliki tujuan, melainkan karena ingin kembali menjalani aktivitas dengan kondisi yang lebih baik. Jeda memberi kesempatan untuk mengenali kelelahan, mengevaluasi prioritas, dan menentukan langkah yang lebih masuk akal.
Tidak Semua Orang Harus Berjalan dengan Kecepatan yang Sama
Salah satu hal yang perlu disadari mahasiswa adalah tidak semua pencapaian harus diraih pada waktu yang bersamaan. Ada yang menemukan jalannya lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk merendahkan diri sendiri.
Menjalani perkuliahan bukan sekadar mengumpulkan prestasi atau memenuhi daftar kegiatan. Ada proses memahami kemampuan, menghadapi kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan menemukan hal-hal yang benar-benar ingin diperjuangkan. Proses seperti itu tidak selalu terlihat, tetapi tetap memiliki arti.
Pesan Take It Slow, Let It Flow mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan tergesa-gesa. Berjalan perlahan bukan berarti kehilangan ambisi. Justru, seseorang perlu mengetahui kapan harus berusaha lebih keras dan kapan perlu memberikan ruang bagi dirinya sendiri.
Mahasiswa tidak harus selalu terlihat sibuk untuk membuktikan bahwa dirinya sedang berkembang. Tidak pula harus merasa gagal hanya karena pencapaiannya belum sama dengan orang lain. Sebab, berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Terkadang, seseorang hanya perlu mengambil napas, menata kembali langkah, lalu melanjutkan perjalanan dengan lebih sadar.

Penulis : Oktavia Cahya P.
Editor : Intan Permata









