Kepemimpinan sering kali dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mengarahkan dan mengendalikan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, dalam lingkungan kerja yang terus berubah, kemampuan memberi perintah saja tidak lagi cukup. Seorang pemimpin juga dituntut mampu memahami manusia, membangun komunikasi, serta menciptakan suasana kerja yang membuat setiap anggota tim merasa dihargai.
Gagasan tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dari buku How Leader Act karya Aswin Giandra. Buku ini mengajak pembaca melihat kepemimpinan dari sisi yang lebih manusiawi. Pemimpin bukan hanya sosok yang berada di posisi tertinggi dalam organisasi, melainkan seseorang yang mampu membangun hubungan, menumbuhkan kepercayaan, dan menggerakkan orang lain melalui keteladanan.
Kepemimpinan Modern Tidak Lagi Bertumpu pada Kekuasaan
Dalam praktiknya, masih ada pemimpin yang mengukur keberhasilan dari seberapa besar kepatuhan bawahannya terhadap instruksi. Pola seperti ini mungkin dapat menghasilkan pekerjaan dalam jangka pendek. Namun, jika diterapkan terus-menerus tanpa mempertimbangkan kondisi anggota tim, kepemimpinan justru berisiko menciptakan tekanan dan menghambat kreativitas.
Kepemimpinan modern membutuhkan pendekatan yang lebih terbuka. Pemimpin perlu memahami bahwa setiap anggota tim memiliki karakter, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang sama belum tentu efektif diterapkan kepada semua orang.
Hal ini sejalan dengan penelitian Muflih dkk. (2021) mengenai kepemimpinan transformasional. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan moral, perhatian individual, dan kemampuan memberikan motivasi memiliki hubungan dengan kepuasan kerja serta kinerja tim.
Artinya, keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup diukur dari pencapaian target organisasi. Cara mencapai target tersebut juga penting untuk diperhatikan. Lingkungan kerja yang sehat akan membantu anggota tim berkembang sekaligus memberikan kontribusi secara optimal.
Empati dan Komunikasi sebagai Fondasi Kepercayaan
Salah satu kualitas penting yang perlu dimiliki pemimpin adalah empati. Kemampuan memahami sudut pandang orang lain membuat seorang pemimpin tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan asumsi pribadi.
Empati juga perlu diwujudkan melalui komunikasi yang baik. Pemimpin tidak cukup hanya menyampaikan instruksi, tetapi harus bersedia mendengarkan masukan, menerima kritik, dan memberikan ruang bagi anggota tim untuk menyampaikan pendapat.
Wahyudi dan Rahmawati (2020) menjelaskan pentingnya komunikasi interpersonal dalam hubungan kerja. Komunikasi dua arah dan empati pemimpin dapat membantu mengurangi tekanan kerja serta konflik internal organisasi.
Dalam konteks ini, komunikasi bukan sekadar aktivitas bertukar informasi. Komunikasi merupakan cara membangun hubungan profesional yang dilandasi rasa saling percaya. Ketika anggota tim merasa didengarkan, mereka cenderung lebih nyaman menyampaikan persoalan maupun menawarkan gagasan baru.
Pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik juga tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Terkadang, mendengarkan dengan sungguh-sungguh justru menjadi bentuk kepemimpinan yang lebih bermakna.
Pemimpin yang Baik Tumbuh Bersama Timnya
Melalui How Leader Act, Aswin Giandra mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang jabatan atau kewenangan. Seorang pemimpin perlu menunjukkan sikap yang dapat menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarnya.
Pemimpin yang baik tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga membantu anggota tim memahami proses untuk mencapainya. Ia memberikan arahan tanpa merendahkan, melakukan evaluasi tanpa mempermalukan, serta memberikan kepercayaan tanpa melepaskan tanggung jawab.
Buku ini memiliki kelebihan dalam menyampaikan gagasan kepemimpinan melalui bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Pembahasannya relevan bagi pembaca yang ingin memahami hubungan antara kepemimpinan, komunikasi, dan pengelolaan tim. Meski demikian, pembahasan akan terasa lebih kuat apabila dilengkapi lebih banyak studi kasus dan ilustrasi penerapan dalam situasi organisasi yang berbeda.
Kepemimpinan yang efektif bukan tentang seberapa keras seseorang mampu memerintah, melainkan seberapa besar ia mampu membangun kepercayaan. Target organisasi memang penting, tetapi manusia yang bekerja untuk mencapainya tidak boleh diabaikan.
Seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling berkuasa atau paling banyak memberikan instruksi. Ia justru perlu menjadi sosok yang mampu mendengarkan, memahami, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk berkembang. Sebab, keberhasilan kepemimpinan bukan hanya terlihat dari hasil yang dicapai, tetapi juga dari bagaimana sebuah tim tumbuh bersama di dalam prosesnya.

Penulis : Aura Latifatul Uluwiyah | Program Studi Psikologi | Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Intan Permata









