Magelang, Sorotnesia.com – Upaya memperkuat ketahanan pangan rumah tangga terus dilakukan melalui berbagai inovasi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) kelompok 74 dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam dalam sistem hidroponik sederhana.
Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Puspita Arum di Desa Gunungsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, pada Selasa, 27 Januari 2026. Program tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat, khususnya anggota kelompok tani perempuan, agar dapat memanfaatkan limbah rumah tangga sekaligus menanam sayuran secara praktis di lingkungan rumah.
Galon bekas dipilih karena termasuk limbah rumah tangga yang sulit terurai. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah plastik ini berpotensi mencemari lingkungan. Melalui pendekatan inovatif, mahasiswa KKN mencoba mengubah barang bekas tersebut menjadi sarana budidaya sayuran yang produktif.
Sosialisasi dipandu oleh Gloria Nururialail Azra Hasanah, mahasiswa Agroteknologi UNS angkatan 2023. Kegiatan ini juga berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Raden Kunto Adi, S.P., M.P.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai metode hidroponik, khususnya sistem sumbu (wick system), yang dinilai mudah diterapkan oleh masyarakat. Selain penjelasan teori, peserta juga mengikuti praktik langsung mulai dari penyemaian benih hingga proses penanaman.
Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah. Tanaman memperoleh nutrisi dari larutan air yang diperkaya dengan pupuk khusus. Selain air dan nutrisi, metode ini juga memanfaatkan media tanam ringan seperti rockwool, arang sekam, atau bahan steril lainnya.
Metode ini dinilai cocok diterapkan di lingkungan rumah tangga karena tidak membutuhkan lahan luas. Bahkan, halaman sempit atau pekarangan rumah tetap dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran.
Dalam praktiknya, mahasiswa KKN memperagakan tahapan budidaya pakcoy hidroponik. Proses dimulai dengan menyemai benih pakcoy pada potongan rockwool yang telah dibasahi. Benih kemudian dirawat selama sekitar dua minggu hingga siap dipindahkan ke media tanam.


Setelah itu, peserta diajak mempelajari pembuatan larutan nutrisi dengan mencampurkan air dan pupuk AB mix sesuai takaran. Untuk memastikan kecukupan nutrisi tanaman, larutan tersebut diuji menggunakan alat pengukur Total Dissolved Solids (TDS) yang menunjukkan tingkat kepekatan larutan dalam satuan ppm.
Tahap berikutnya adalah pemasangan netpot dan kain flanel pada galon bekas yang telah dimodifikasi. Kain flanel berfungsi sebagai sumbu yang menyalurkan larutan nutrisi dari wadah air menuju akar tanaman. Bibit pakcoy yang telah tumbuh kemudian dipindahkan ke dalam netpot dan ditempatkan pada lubang galon.
Salah satu peserta kegiatan, Rumini (43), mengaku mendapatkan wawasan baru dari program tersebut. Ia mengatakan sebelumnya belum pernah mengenal metode bercocok tanam hidroponik.
“Sebelumnya saya belum pernah melihat atau mengetahui cara menanam secara hidroponik. Menurut saya ini inovasi pertanian modern yang bisa diterapkan ibu-ibu KWT Puspita Arum, sehingga kami bisa bercocok tanam di rumah, tidak hanya di ladang,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS 74 berharap inovasi yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Selain membantu memenuhi kebutuhan sayuran keluarga, metode ini juga diharapkan mampu mendorong pemanfaatan limbah plastik secara lebih produktif.
Ke depan, mahasiswa KKN berharap praktik hidroponik berbasis galon bekas ini tidak hanya diterapkan oleh anggota KWT Puspita Arum, tetapi juga dapat ditularkan kepada masyarakat lain di Desa Gunungsari. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga lingkungan dapat berjalan seiring.
Penulis : mahasiswa KKN 74 UNS
Editor : Fadli Akbar









